Category  |  Santapan Rohani

Berbagi Beban

Karen, seorang guru SMP, menciptakan suatu aktivitas yang mengajarkan murid-muridnya untuk lebih memahami satu sama lain. Dalam kegiatan “Berbagi Beban”, para murid menuliskan beban emosional mereka masing-masing. Kemudian tulisan-tulisan tanpa nama itu dibagikan di antara mereka, sehingga para murid dapat mengetahui pergumulan yang dialami oleh teman-teman mereka sendiri. Tidak jarang ada murid yang meneteskan air mata membaca tulisan teman-temannya. Sejak saat itu, para remaja dalam kelas tersebut memiliki penghargaan dan empati yang lebih besar terhadap satu sama lain.

Hidup Berbeda

Ketika harus bepergian jauh dengan pesawat dan melintasi beberapa zona waktu, saya mencoba bermacam-macam cara untuk menghindari jet lag (gangguan tidur karena perbedaan zona waktu). Rasa-rasanya saya sudah mencoba semua cara! Suatu kali, saya memutuskan untuk mencocokkan jadwal makan saya di atas pesawat dengan zona waktu daerah tujuan saya. Jadi, saya tidak ikut makan malam seperti penumpang lainnya dan memilih untuk menonton film dan berusaha tidur. Penundaan itu tidak mudah untuk dilalui, dan sarapan yang disajikan kepada saya sebelum mendarat membuat saya kurang berselera. Akan tetapi, usaha saya melakukan sesuatu yang berbeda dari orang-orang di sekeliling saya ternyata berhasil. Jam biologis saya dipaksa untuk mengikuti zona waktu yang baru.

Menghayati Iman

Sambil bergandengan tangan, saya dan cucu laki-laki saya bergegas melintasi lapangan parkir untuk mencari baju baru yang akan dipakainya pada hari pertama masuk sekolah. Ia sangat bersemangat karena sebentar lagi akan masuk taman kanak-kanak, dan saya pun ingin membuatnya lebih gembira lagi. Saya baru saja melihat sebuah cangkir kopi bertuliskan, “Nenek adalah ibu yang lebih seru.” Keseruan berarti keceriaan, kegembiraan, sukacita! Memang itu tanggung jawab saya sebagai seorang nenek, bukan? Itu semua . . . dan masih banyak lagi.

Melayani yang Paling Hina

Namanya Spencer. Namun, semua orang memanggilnya “Spence.” Ia juara lomba lari tingkat SMA di negara bagiannya, lalu diterima masuk universitas bergengsi dengan beasiswa penuh. Spencer kini tinggal di salah satu kota terbesar di Amerika Serikat dan menjadi ahli teknik kimia yang sangat disegani. Akan tetapi, jika ditanya tentang prestasi tertingginya, Spencer tidak akan menyebutkan hal-hal tadi. Dengan penuh semangat ia akan bercerita tentang perjalanan yang ditempuhnya beberapa bulan sekali ke Nikaragua untuk menengok kondisi anak-anak dan guru-guru dalam program pendidikan yang ia bantu dirikan di salah satu daerah termiskin di negara itu. Ia juga akan bercerita bagaimana hidupnya telah diperkaya dengan melayani mereka. 

Rencana yang Tidak Sempurna

Saya sedang asyik melihat-lihat buku di sebuah perpustakaan yang terletak di lantai dasar sebuah pusat kegiatan masyarakat yang baru dibuka ketika tiba-tiba terdengar suara berdebam keras. Beberapa menit kemudian, suara itu terdengar lagi hingga berkali-kali. Seorang pegawai perpustakaan dengan wajah kesal menjelaskan bahwa tepat di atas perpustakaan tersebut terdapat arena angkat besi, dan suara berdebam itu terdengar setiap kali seseorang menaruh barbel. Para arsitek dan desainer telah merancang dengan saksama berbagai aspek dari fasilitas mutakhir ini, tetapi tampaknya mereka lupa menaruh perpustakaan di lokasi yang jauh dari area yang sarat aktivitas.

Menemukan Sukacita dalam Pujian

Ketika C. S. Lewis, penulis terkenal asal Inggris, baru menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, ia pernah merasa enggan memuji Allah. Ia bahkan menyebut hal itu sebagai “batu sandungan.” Ia sulit memahami mengapa “Allah terkesan menuntut untuk dipuji.” Namun, Lewis akhirnya menyadari bahwa “pada saat Dia disembah, Allah menyatakan kehadiran-Nya” kepada umat-Nya. Kemudian kita, “dalam kasih yang sempurna bersama Allah” menemukan di dalam Dia suatu sukacita yang tidak terpisahkan “bagaikan cahaya yang menyinari cermin dan kemudian dipantulkan kembali.”

Perlindungan bagi yang Tertolak

George Whitefield (1714–1770) adalah salah seorang pengkhotbah paling berbakat dan berhasil sepanjang sejarah, dan ia telah membawa ribuan orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Meski demikian, hidupnya tidak lepas dari kontroversi. Pilihannya untuk berkhotbah di tempat terbuka (agar bisa dihadiri sejumlah besar orang) terkadang dikritik oleh pihak-pihak yang mempertanyakan motivasinya dan merasa bahwa Whitefield seharusnya berkhotbah di dalam gedung gereja saja. Perkataan Whitefield tentang tulisan pada batu nisannya kelak menjadi tanggapannya terhadap kritikan yang diterimanya: “Dengan sabar saya akan menunggu hingga Hari Penghakiman untuk membersihkan nama baik saya; dan setelah mati, saya tidak menghendaki tulisan pada batu nisanku kecuali ini, ‘Di tempat ini terbaring George Whitefield—seperti apa sesungguhnya dirinya kelak akan diketahui pada hari yang agung itu.’”

Kasih yang Mengekang

Sebagian besar pemuda Samoa diberi tato sebagai tanda tanggung jawab kepada masyarakat dan kepala suku mereka. Namun, ketika para pemain rugbi dari Samoa berkunjung ke Jepang, negara yang sebagian masyarakatnya melihat tato secara negatif, mereka menyadari bahwa simbol itu bisa menimbulkan masalah. Demi memelihara hubungan baik, para pemuda Samoa itu pun mengenakan kain panjang berwarna kulit pada lengan untuk menutupi tato mereka. “Kami menghormati dan menghargai budaya Jepang,” kata kapten tim Samoa. “Kami harap usaha kami dapat mereka terima.”

Kapan Pun, Di Mana Pun

Pada tanggal 28 Januari 1986, pesawat ulang alik Challenger milik Amerika Serikat meledak tujuh puluh tiga detik setelah lepas landas. Dalam pidato untuk menguatkan bangsanya yang berduka karena tragedi itu, Presiden Reagan mengutip puisi “High Flight” karya John Gilespie Magee, seorang pilot pada masa Perang Dunia II. Dalam puisi itu, ia menulis tentang pergi ke “angkasa tinggi yang suci dan tak terlampaui” dan merasa sedang mengulurkan tangan, hendak menyentuh “wajah Tuhan.”