Category  |  Santapan Rohani

Berlindung dalam Naungan Allah

Baru saja konser di ruang terbuka dimulai, saya merasakan setetes air hujan jatuh ke pipi saya. Saya menengadah dan melihat awan gelap menggantung. Namun, mahalnya harga tiket yang saya bayar membuat saya tidak ingin beranjak hanya karena cuaca memburuk. Namun, orang-orang di sekitar saya mulai membuka payung. Seorang wanita mengenakan kantong plastik belanja untuk menutupi rambutnya. Tiba-tiba saja, suara guntur…

Teman yang Tidak Suportif

“Aku lebih mengenalmu daripada kamu mengenal dirimu sendiri!” Itulah pernyataan tegas seorang teman kepada saya ketika saya masih muda. Ia sebenarnya berniat baik, tetapi kehidupan saya yang rumit sebagai anak angkat dalam keluarga misionaris telah dibentuk oleh pengalaman hidup di empat benua dan budaya yang berbeda-beda. Saya pikir, ia tidak benar-benar mengenal saya.

Jalan Kudus

Setelah Jennifer didiagnosis menderita demensia tahap awal, ia mulai kesulitan membaca Alkitab, sehingga ia memilih untuk mendengarkan versi audionya. Bagian-bagian Kitab Suci kini terasa lebih bermakna baginya. Dalam kesehariannya, ia mudah sekali tersesat, sering kali gagal mengenali orang di sekitarnya, dan berhalusinasi tentang penampakan hewan liar. Ketika ia merasa bingung dan diliputi ketakutan, ia menemukan penghiburan dari Allah saat mendengar Nabi Yesaya berbicara tentang “Jalan Kudus” yang ditentukan bagi orang percaya (Yes. 35:8). Di jalan itu, tidak ada orang fasik, tidak pula “binatang buas”; sebaliknya, hanya “orang-orang yang diselamatkan” Allah yang “akan berjalan di situ” (ay.9).

Memberi dari Pemberian Allah

Kemurahan hati Stanley selalu membuat saya kagum. Ia sering membawakan makanan dan hadiah untuk para lansia di gereja, petugas kebersihan di lingkungannya, atau siapa saja yang perlu disemangati.

Melayani Bahu-membahu

Toko buku Serendipity yang berada di kawasan popular di Chelsea, Michigan, perlu tempat yang lebih luas. Pemiliknya menemukan sebuah bangunan berukuran dua kali lebih besar kurang lebih 100 meter dari situ. Daripada menutup tokonya selama berhari-hari dan mengepak semua buku ke dalam kardus, ia ingin perpindahannya dilakukan dengan cepat. Jadi, ia memutuskan untuk meminta pertolongan warga sekitar. Hari itu, lebih dari 300 orang datang untuk membantu! Mereka berdiri berjajar, membentuk “ban berjalan” manusia, dan mengoper buku demi buku dari satu orang ke orang berikutnya, hingga berhasil memindahkan 9.100 eksemplar buku dalam waktu kurang dari dua jam. Sang pemilik toko berkata, “[Toko buku ini] sungguh bagian dari komunitas ini, dan [mereka] juga adalah pemiliknya.” Mereka semua bekerja berdampingan dengan antusias.

Mengandalkan Kekuatan Allah

Tungsten adalah suatu paradoks. Logam keras ini memiliki kekuatan tarik tertinggi dari semua logam murni, sehingga membuatnya sangat sulit untuk diolah. Namun, situs Mead Metal mencatat, “Dalam hal ketahanan terhadap benturan, tungsten tergolong lemah. Tungsten adalah logam rapuh yang mudah hancur saat terkena benturan.” Menarik bahwa tungsten, logam alami yang terkuat, ternyata juga begitu lemah dan rapuh.

Musim Kasih

Bunga tidak harus mekar untuk terlihat indah, kata desainer tata ruang luar ternama Piet Oudolf. Bahkan di tengah musim dingin, desain karya ahli taman asal Belanda yang meraih penghargaan itu tetap memukau dengan keindahannya. “Keindahan dapat ditemukan dalam banyak hal yang tidak terpikirkan oleh kita,” ujar Oudolf, meski ada yang mungkin tidak sependapat. “Saat saya mengatakan bahwa saya menyukai tanaman yang terlihat mati [dorman],” katanya, “saya dianggap aneh, karena pada umumnya orang tidak menyukai tanaman mati.”

Siap Sedia untuk Berbagi

Gadis remaja itu berdiri teguh pada pendiriannya. Saat bersama teman-teman sekolahnya mengunjungi rumah rehabilitasi bagi orang-orang yang kecanduan, Claire berbincang dengan pria yang berusia 20-an yang berperawakan jauh lebih besar darinya. Mereka sedang berbicara tentang iman.

Masa Depan Kita bersama Kristus

Ayah saya sudah sejak lama ingin mengunjungi Swiss. Sejak beliau didiagnosis mengalami demensia frontotemporal (gangguan otak akibat penyusutan sel saraf), ibu saya memutuskan untuk menemaninya selagi ia masih kuat secara fisik. Ibu saya lalu bercerita, “Suatu hari, saat salju berhembus di sekitar kami di Gunung Titlis, ibu melihat sukacita besar di wajah ayahmu. Itulah kebahagiaan karena mimpinya menjadi kenyataan.” Namun, beberapa waktu kemudian, air mata ibu saya mengalir sewaktu ayah saya bertanya, “Beri tahu aku, kita sedang ada di mana?”