Category  |  Santapan Rohani

Tidak Ada yang Sia-Sia

Sudah tiga tahun saya bergumul dengan perasaan putus asa dan depresi karena penyakit kronis yang membatasi gerak-gerik saya. Saya pun mencurahkan isi hati saya kepada seorang teman, “Tubuhku sangat rapuh, dan aku merasa tidak lagi punya sesuatu yang berharga untuk kuberikan kepada Allah atau kepada siapa pun.”

Sikap Hati

Ketika suami saya memainkan harmonika bersama tim puji-pujian di gereja kami, saya memperhatikan kadang-kadang ia memejamkan mata saat memainkan sebuah lagu. Ia berkata bahwa sikap itu membantunya tetap fokus sehingga perhatiannya dalam mengikuti musik tidak terganggu dan ia dapat bermain sebaik yang ia bisa untuk memuji Allah.

Menemukan Waldo

Waldo adalah tokoh utama dari “Where’s Waldo”, sebuah serial komik anak terlaris. Waldo menyembunyikan diri di tengah keramaian orang dalam gambar pada setiap halaman dan mengundang anak-anak untuk menemukan di mana ia bersembunyi. Para orangtua suka sekali melihat ekspresi wajah anak-anak mereka ketika berhasil menemukan Waldo. Mereka juga senang ketika anak-anak meminta mereka ikut mencari Waldo.

Alasan Kita Menyanyi

Menyanyi ternyata mengubah otak! Sejumlah studi menunjukkan bahwa ketika menyanyi, tubuh kita melepaskan hormon yang mengurangi kecemasan dan stres. Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika sekelompok orang menyanyi bersama, irama detak jantung mereka masing-masing sebenarnya saling menyelaraskan.

Cincin dan Anugerah

Setiap kali melihat tangan saya, saya pun teringat bahwa saya pernah menghilangkan cincin pernikahan dan pertunangan saya. Kehilangan itu terjadi ketika saya sedang sibuk berkemas-kemas, dan hingga saat ini saya masih belum tahu di mana kedua cincin itu berada.

Allah Memanggil

Suatu pagi putri saya memberikan telepon selulernya kepada putranya yang berusia 11 bulan supaya ia terhibur sejenak. Tak lama kemudian telepon saya berdering dan saat mengangkatnya saya mendengar suara mungil cucu saya. Entah bagaimana, ia menekan tombol “panggilan cepat” yang tersambung ke nomor saya, dan selanjutnya terjadilah “percakapan” yang akan terus saya ingat. Meski cucu saya hanya bisa mengucapkan beberapa kata, ia dapat mengenali dan merespons suara saya. Saya pun berbicara dengannya dan mengatakan betapa saya sayang kepadanya.

Tantangan Lima Belas Menit

Dr. Charles W. Eliot, presiden Universitas Harvard selama 40 tahun, meyakini bahwa orang awam yang konsisten membaca karya-karya sastra hebat di dunia akan memperoleh pelajaran yang berharga, meski ia hanya membaca beberapa menit sehari. Pada tahun 1910, ia mengumpulkan beragam karya pilihan dari buku-buku tentang sejarah, pengetahuan alam, filsafat, dan seni murni dalam 50 jilid buku yang disebut The Harvard Classics. Setiap set mencantumkan Panduan Membaca dari Dr. Eliot berjudul “Fifteen Minutes A Day” (Lima Belas Menit Sehari) yang memuat pilihan bacaan sepanjang delapan sampai sepuluh halaman yang disarankan untuk dibaca setiap hari selama setahun.

Apa yang Kita Inginkan?

“Aku telah hidup dari zaman kereta kuda sampai zaman manusia berjalan di bulan,” kata seorang kakek kepada cucunya. Namun, ia merenung, “Aku tak pernah mengira hidup begitu singkat.”

Damai Sejahtera yang Sempurna

Seorang sahabat menceritakan kepada saya bahwa selama bertahun-tahun ia mencari kedamaian dan kepuasan hati. Ia dan suaminya membangun usaha yang sukses sehingga mampu membeli rumah besar, pakaian mewah, dan perhiasan mahal. Namun, semua harta dan pertemanannya dengan orang-orang yang berpengaruh tidak juga memuaskan kerinduan hatinya akan kedamaian. Lalu suatu hari, ketika ia merasa terpuruk dan putus asa, seorang teman membawakannya kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sang Raja Damai, dan pemahamannya tentang arti kedamaian dan kepuasan yang sejati pun berubah selamanya.