Berserah
Untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami, Mike meminjam sebuah sepeda tandem agar kami dapat menikmati petualangan romantis bersama. Ketika kami mulai mengayuh, saya menyadari bahwa sebagai pengendara yang duduk di belakang, pandangan saya terhalang oleh bahu suami saya yang lebar. Selain itu, setang sepeda yang saya pegang tidak bisa dibelokkan dan tidak mempengaruhi arah sepeda. Hanya setang di bagian depan yang menentukan arah sepeda; setang yang saya pegang hanya berguna untuk menopang bagian atas dari tubuh saya. Hanya ada dua pilihan bagi saya: menjadi frustrasi karena tidak bisa menentukan arah sepeda, atau sebaliknya, menikmati perjalanan dan sepenuhnya mempercayai Mike untuk mengarahkan kami ke jalan yang aman.
Menyebarkan Keharuman
Penulis Rita Snowden pernah menceritakan pengalamannya yang menyenangkan saat mengunjungi sebuah desa kecil di Dover, Inggris. Saat duduk di luar sebuah kedai di sore hari sambil menikmati secangkir teh, ia mencium ada aroma yang harum. Rita bertanya kepada pelayan dari mana sumber keharuman tersebut. Ia diberi tahu bahwa keharuman itu berasal dari orang-orang yang lewat di sekitarnya. Sebagian besar penduduk desa bekerja di sebuah pabrik parfum yang tidak jauh dari sana. Saat pulang, mereka pun membawa dan menyebarkan wangi parfum yang terserap oleh pakaian mereka.
Menikmati Pemandangan
Saat matahari terbenam, orang cenderung berhenti sejenak untuk menyaksikannya, memotretnya, dan menikmati pemandangannya yang indah.
Tinggal Bersama Yesus
“Tiada tempat seindah rumah.” Frasa itu mencerminkan kerinduan mendalam di hati kita untuk memiliki tempat di mana kita dapat beristirahat, berdiam, dan diterima sepenuhnya. Setelah Yesus dan murid-murid-Nya menikmati perjamuan mereka yang terakhir, Dia membahas tentang kerinduan untuk memiliki kediaman itu saat berbicara mengenai kematian dan kebangkitan-Nya yang segera tiba. Yesus berjanji bahwa meskipun Dia akan pergi, Dia akan datang kembali untuk menjemput mereka. Dia akan menyediakan tempat bagi mereka. Sebuah tempat untuk berdiam. Sebuah rumah.
Dia Mengerti dan Peduli
Ketika ditanyai apakah sikap tidak peduli dan tidak mau tahu merupakan masalah manusia di zaman modern, seorang pria dengan bercanda menjawab, “Saya tidak peduli dan saya tidak mau tahu.”
Karena Kasih
Putri kami menangis dengan sedihnya saat kami harus mengucapkan selamat jalan pada kedua orangtua saya. Setelah mengunjungi kami di Inggris, mereka akan menempuh perjalanan yang panjang untuk pulang ke Amerika Serikat. “Aku tak mau mereka pergi,” kata putri saya. Saat saya berusaha menghiburnya, suami saya berkata, “Kesedihanmu wajar karena kamu mengasihi mereka.”
Ingatlah Salib-Nya
Di gereja tempat saya beribadah, sebuah salib besar berdiri di bagian depan dari ruang kebaktian. Salib itu menggambarkan salib tempat Yesus mati—tempat dosa kita bersinggungan dengan kekudusan-Nya. Di salib itu, Allah mengizinkan Anak-Nya yang sempurna untuk mati demi setiap kesalahan dan dosa yang kita lakukan, katakan, atau pikirkan. Di salib itu, Tuhan Yesus menyelesaikan karya yang diperlukan untuk menyelamatkan kita dari kematian yang selayaknya kita terima (Rm. 6:23).
Ditinggalkan Demi Kita
Apakah kehadiran seorang teman dapat membuat rasa sakit lebih tertahankan? Para peneliti di Universitas Virginia mengadakan penelitian yang menarik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka ingin melihat bagaimana otak manusia bereaksi terhadap kemungkinan adanya rasa sakit, dan reaksi apa yang diberikan oleh otak ketika seseorang menghadapi rasa sakitnya seorang diri, ketika memegang tangan orang yang tak dikenalnya, atau ketika memegang tangan seorang sahabat dekatnya.
Apa Adanya
Beberapa saat sebelum Yesus disalibkan, seorang wanita bernama Maria menuangkan sebotol minyak wangi yang mahal di kaki-Nya. Kemudian ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya—suatu tindakan yang bisa dibilang sangat berani (Yoh. 12:3). Mungkin dengan itu Maria mengorbankan seluruh tabungannya, tetapi ia juga telah mempertaruhkan reputasinya. Dalam budaya Timur Tengah abad pertama, para perempuan terhormat tidak pernah membiarkan rambut mereka terurai di depan umum. Namun, ibadah yang sejati tidak mementingkan apa pendapat orang lain tentang sikap kita (2Sam. 6:21-22). Demi menyembah Yesus, Maria rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral.