Category  |  Santapan Rohani

Kehilangan Kesempatan

Saya mendengar perkataan yang paling menyedihkan hari ini. Dua saudara seiman sedang berbeda pendapat tentang sesuatu. Pria yang lebih tua menggunakan ayat-ayat Alkitab seperti senjata, dengan menebas apa pun yang dianggapnya salah dalam hidup lawan bicaranya. Pria yang lebih muda kelihatan jenuh menanggapi lawan bicaranya yang tengah menguliahi dirinya dan merasa sangat dikecewakan.

Tersimpan di dalam Hatiku

Saya mulai terbiasa membaca majalah-majalah digital. Saya juga merasa senang bahwa dengan itu saya ikut menyelamatkan lingkungan. Selain itu, saya tidak perlu lagi menunggu-nunggu kiriman majalah tersebut lewat pos. Meski demikian, ada rasa rindu juga untuk membaca versi cetaknya, karena saya sangat menikmati membuka halaman demi halaman untuk mencari, menggunting, dan mengoleksi resep favorit saya.

Di Balik Layar

Kegiatan penjangkauan yang dilakukan gereja kami berpuncak dengan penyelenggaraan kebaktian kebangunan rohani yang mengundang penduduk dari seluruh wilayah kota. Ketika tim yang mengatur dan memimpin acara itu—terdiri dari kelompok musik kaum muda, para konselor, dan para pemimpin gereja—naik ke atas panggung, kami semua dengan gembira bertepuk tangan dan menyerukan apresiasi kami atas kerja keras mereka.

Menjadi Tak Terlihat

Di tempat saya tinggal, inilah masa ketika tanaman-tanaman menolak untuk mati, dengan cara tetap berada di bawah tanah sampai tiba waktu yang aman untuk muncul kembali. Sebelum salju turun dan tanah membeku, tanaman-tanaman itu menanggalkan kelopak bunganya yang telah bermekaran dengan indah dan menarik diri ke suatu tempat di mana mereka dapat beristirahat dan menyimpan energi untuk musim tumbuh berikutnya. Meski terlihat mati, sesungguhnya tanaman itu tidak mati, melainkan hanya istirahat. Ketika salju mencair dan tanah tidak lagi beku, tanaman itu akan bangun dan kembali menengadah ke langit untuk menyapa Sang Pencipta dengan warna-warna yang cemerlang dan bau yang harum semerbak.

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Dalam hidup kita, jarang sekali ada masa-masa yang bebas dari masalah, tetapi adakalanya masalah yang menerjang terasa begitu menakutkan.

Sukacita dalam Hadirat-Nya

“Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya,” menurut Katekismus Westminster. Sebagian besar isi Kitab Suci menyerukan manusia untuk bersyukur kepada Allah yang hidup dengan hati yang penuh sukacita dan pengagungan. Ketika kita menghormati Allah, kita mengagungkan Dia sebagai Pemberi dari segala kebaikan yang kita terima.

Angkuh Sampai ke Akarnya

“Ia pikir dirinya begitu penting!” Itulah penilaian teman saya tentang seorang saudara seiman yang kami kenal. Kami merasa bahwa ia telah dikuasai oleh kesombongan. Kami sangat prihatin ketika mengetahui bahwa sahabat kami itu kemudian terlibat dalam masalah serius. Dengan meninggikan diri, masalah pun menimpanya. Kami sadar hal itu dapat menimpa kami juga.

Tampak Dalam

Seorang ahli fisika yang telah pensiun, Arie van’t Riet, telah menciptakan sejumlah karya seni dengan cara yang unik. Riet mengatur tanaman dan binatang yang sudah mati dalam berbagai komposisi, lalu memotretnya dengan sinar X. Potret sinar X tersebut kemudian dipindainya ke komputer, dan beberapa bagian dari gambar itu diwarnainya. Karya seninya tersebut memperlihatkan kerumitan organ dalam dari berbagai jenis bunga, ikan, burung, reptil, dan kera.

Menanti Jawaban

Ketika putri kami berusia 15 tahun, ia kabur dari rumah. Ia pergi selama lebih dari 3 minggu—3 minggu terpanjang dalam kehidupan kami. Kami mencarinya ke pelbagai tempat dan meminta bantuan penegak hukum dan kawan-kawan kami. Sepanjang hari-hari yang sulit itu, saya dan istri belajar pentingnya menantikan Allah dalam doa. Kami telah kehabisan kekuatan dan sumber daya. Kami harus mengandalkan Allah.