Perkataan Yang Memulihkan
Pada tanggal 19 November 1863, dua orang terkenal memberikan pidato pada acara peresmian Taman Makam Militer di Gettysburg, Pennsylvania. Pembicara utama-nya, Edward Everett, adalah mantan anggota kongres, gubernur, dan presiden dari Universitas Harvard. Everett yang dipandang sebagai salah satu orator ulung di zamannya itu berpidato selama 2 jam. Setelah selesai, tiba giliran Presiden Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya, dan ia hanya berbicara selama 2 menit.
Ketika Tak Ada Yang Datang
Pada suatu malam di musim dingin, komposer Johann Sebastian Bach dijadwalkan untuk menggelar pertunjukan perdana dari gubahan musik terbarunya. Bach tiba di gereja dengan harapan tempat tersebut akan dipenuhi penonton. Akan tetapi, ternyata tak seorang pun datang. Dengan tetap bersemangat, Bach meminta para musisinya untuk tetap tampil sesuai rencana. Mereka menempati posisi masing-masing, Bach mengangkat tongkat kecilnya, dan gereja kosong itu pun segera dipenuhi dengan musik yang luar biasa.
Adopsi
Saya dan Marlene sudah menikah selama lebih dari 35 tahun. Dahulu, ketika masih berpacaran, kami pernah membicarakan suatu hal yang tidak pernah saya lupakan. Marlene mengatakan kepada saya bahwa ia diadopsi ketika masih berumur 6 bulan. Ketika saya bertanya apakah ia pernah mempunyai keinginan untuk mengetahui siapa orang-tuanya yang sebenarnya, ia menjawab, “Ibu dan ayahku bisa saja memilih bayi mana pun pada hari itu, tetapi mereka memilihku. Mereka telah mengangkatku menjadi anak. Mereka berdualah orangtuaku yang sebenarnya.”
Situasinya Sempurna
Dalam Pertempuran Pertama di Marne pada Perang Dunia I, seorang letnan jenderal asal Perancis bernama Ferdinand Foch mengirimkan pengumuman resmi ini: “Pasukanku di tengah sedang terdesak, pasukanku di kanan terpukul mundur. Situasinya sempurna. Aku akan maju menyerang.” Kesiapannya untuk melihat adanya harapan di tengah-tengah situasi yang sulit itu pada akhirnya membawa kemenangan bagi pasukannya.
Pertolongan Dari Roh-Nya
Banyak dari kita yang berjanji kepada diri kita sendiri dalam menandai awal dari tahun yang baru. Kita bertekad untuk semakin rajin menabung, rajin berolahraga, atau mengurangi waktu yang dihabiskan di dunia maya. Kita memulai tahun yang baru dengan niat baik, tetapi tidak lama kemudian kebiasaan lama mulai menggoda kita untuk kembali kepada kehidupan yang lama. Awalnya kita tergelincir dan sesekali jatuh pada kebiasaan lama itu, tetapi lama- kelamaan kita semakin sering melakukannya, hingga tidak ada waktu di mana kita tidak melakukannya. Pada akhirnya, seolah-olah tekad kita di awal tahun itu tidak pernah ada.
Tidak Berselera
Saya kehilangan nafsu makan ketika saya terserang sakit flu parah baru-baru ini. Saya bisa menjalani satu hari penuh tanpa banyak makan dan hanya minum air. Namun saya tahu saya tidak akan dapat bertahan lama hanya dengan minum air. Saya harus mengembalikan selera makan saya karena tubuh saya membutuhkan makanan bergizi.
31 Hari Penuh Syukur
Menurut banyak kalender di Amerika Serikat, Januari merupakan Bulan untuk Bersyukur Nasional. Mungkin seharusnya bulan ini dijadikan Bulan untuk Bersyukur Sedunia, karena mengucap syukur dapat dengan mudah dilakukan di mana-mana.
Dalam Tangan-Nya
Ketika menyeberang jalan yang ramai bersama anak-anak kecil di belakang kita, biasanya kita mengulurkan tangan dan berkata, “Pegang tanganku erat-erat,” dan anak-anak yang masih kecil itu akan memegang tangan kita seerat mungkin. Namun kita tidak akan pernah mengandal- kan pegangan mereka. Pegangan kitalah yang menggenggam erat tangan mereka dan menjaga supaya mereka aman. Demikianlah Rasul Paulus menegaskan, “Akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Atau lebih tepatnya, “Kristus yang memegangku erat-erat!”
Perasaan Campur Aduk
Bagi saya dan Marlene, “perasaan campur aduk” adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan hari pernikahan kami. Jangan salah sangka. Pernikahan kami merupakan suatu peristiwa yang luar biasa sehingga kami terus merayakannya hingga lebih dari 35 tahun kemudian. Namun pesta pernikahan itu sendiri terasa sendu karena ibunda Marlene meninggal dunia akibat kanker hanya beberapa minggu sebelumnya. Bibi Marlene telah menjadi pengganti yang luar biasa bagi peran “ibu dari mempelai wanita”. Namun di tengah kebahagiaan kami, ada sesuatu yang jelas-jelas hilang. Ibunda Marlene sudah tiada, dan hal itu mempengaruhi segalanya.