Dewasa di dalam Yesus
Ketika masih kanak-kanak, saya menganggap orang dewasa itu serba bijaksana dan tidak mungkin gagal. Saya pikir, mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari nanti, kalau sudah dewasa, aku juga akan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namun kenyataannya, “suatu hari” tersebut sudah datang bertahun-tahun lalu, dan saya belajar, berkali-kali, bahwa saya tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan. Entah itu menghadapi penyakit yang diderita seorang anggota keluarga, masalah dalam pekerjaan, atau konflik dalam hubungan dengan seseorang, pengalaman-pengalaman tersebut telah mengenyahkan semua khayalan tentang kendali dan kekuatan yang saya miliki. Akhirnya, hanya satu hal yang bisa saya perbuat—menutup mata dan berbisik, “Tuhan, tolong. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
Mengasihi seperti Yesus
Ia dicintai semua orang—itulah kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan Don Guiseppe Berardelli dari Casnigo, Italia. Don sering berkeliling kota dengan sepeda motor tuanya dan senang menyapa siapa saja dengan “salam damai dan kebaikan.” Ia bekerja tanpa kenal lelah untuk kebaikan orang lain. Namun, pada tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengalami gangguan kesehatan yang semakin parah ketika ia terinfeksi virus Corona. Melihat keadaan itu, komunitasnya membelikan sebuah alat bantu pernapasan baginya. Namun, ketika kondisinya memburuk, ia justru menolak menggunakan alat itu, dan memilih menyerahkan alat itu untuk digunakan oleh pasien lain yang lebih muda. Penolakan Don tidak mengherankan mereka yang mengenalnya, karena memang itulah karakternya sebagai seseorang yang dicintai dan dikagumi karena kasihnya kepada orang lain.
Upah Kerendahan Hati
Seperti guru pada umumnya, Carrie mencurahkan banyak waktu untuk pekerjaannya, seperti memeriksa pekerjaan murid dan berkomunikasi dengan siswa serta orangtua hingga larut malam. Untuk menjaga konsistensinya, ia mengandalkan persahabatan dan bantuan sesama rekan guru. Pekerjaannya yang berat menjadi lebih mudah berkat kolaborasi mereka. Sebuah studi tentang tenaga pendidik baru-baru ini mendapati bahwa kolaborasi akan terasa lebih besar manfaatnya, ketika setiap pihak yang bekerja sama menunjukkan kerendahan hati. Saat seseorang mau terbuka mengakui kelemahannya, rekan-rekan yang lain akan merasa aman untuk berbagi pengetahuan, sehingga semua orang di dalam kelompok pun terbantu.
Termotivasi oleh Kasih
Jim dan Laneeda sudah berpacaran sejak kuliah. Mereka pun menikah dan bertahun-tahun hidup bahagia. Lalu, Laneeda mulai bertingkah aneh, tersesat di jalan, dan melupakan janji. Pada usia empat puluh tujuh tahun, ia didiagnosis menderita Alzheimer dini. Setelah sepuluh tahun menjaga dan merawat sendiri sang istri, Jim berkata, “Alzheimer memberi saya kesempatan untuk mengasihi dan melayani istri saya dengan cara-cara yang tidak terbayangkan ketika dulu saya mengucapkan janji setia pernikahan.”
Darah Yesus
Warna merah tidak selalu muncul secara alami pada benda yang kita buat. Bagaimana kita memberi warna merah terang dari apel pada pakaian atau lipstik? Zaman dahulu, pigmen merah dibuat dari tanah liat atau batu merah. Lalu, pada tahun 1400-an, suku Aztec menemukan cara lain dengan menggunakan serangga kokineal untuk membuat pewarna merah. Pada masa kini, serangga kecil tersebut masih dipakai untuk menyediakan warna merah.
Mengasihi Musuh Kita
Meski Perang Saudara Amerika Serikat telah menimbulkan banyak kepahitan, Presiden Abraham Lincoln merasa perlu mengucapkan kata-kata yang baik tentang pihak Konfederasi Selatan yang kalah perang. Seseorang yang terkejut mendengarnya lalu bertanya bagaimana mungkin beliau melakukan hal itu. Lincoln menjawab, “Nyonya, tidakkah aku telah menghancurkan permusuhan ketika aku menjadikan mereka sahabatku?” Saat merenungkan kata-kata tersebut seabad kemudian, Martin Luther King Jr. berkata, “Itulah kekuatan kasih yang membawa penebusan.”
Telah Kusaksikan Kesetiaan Allah
Di sepanjang tujuh puluh tahun masa pemerintahannya yang bersejarah sebagai penguasa Britania Raya, Ratu Elizabeth II hanya satu kali memberikan kata pengantar pribadi sebagai tanda persetujuan atas biografi tentang kehidupannya. Buku The Servant Queen and the King She Serves (Ratu yang Melayani dan Raja yang Dilayaninya) yang dirilis dalam rangka perayaan ulang tahun Ratu yang kesembilan puluh itu mengisahkan bagaimana iman sang Ratu telah menuntunnya di sepanjang pengabdiannya kepada negara. Dalam kata pengantar itu, Ratu Elizabeth menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua orang yang telah mendoakannya, dan ia mengucap syukur kepada Allah atas kasih setia-Nya. Ia menutup dengan mengatakan, “Saya sungguh telah menyaksikan kesetiaan-Nya.”
Firman Allah yang Mengubahkan
Ketika Kristin ingin membelikan sejilid buku istimewa untuk Xio-Hu, suaminya yang berdarah Tionghoa, satu-satunya buku berbahasa Mandarin yang dapat ia temukan adalah Alkitab. Meski keduanya bukan orang percaya, Kristin berharap Xio-Hu akan menghargai pemberiannya itu. Ketika pertama kali melihat Alkitab tersebut, Xio-Hu marah, tetapi akhirnya ia menerimanya juga. Saat membacanya, Xio-Hu pun diyakinkan oleh kebenaran yang dinyatakan di dalamnya. Kristin yang kesal karena perubahan tidak terduga itu akhirnya ikut membaca Alkitab dengan maksud untuk menyanggah Xio-Hu. Akan tetapi, tanpa diduga, Kristin sendiri akhirnya menjadi percaya kepada Tuhan Yesus setelah diyakinkan oleh apa yang ia baca.
Siklus Kasih Allah yang Agung
Sebagai seseorang yang baru percaya kepada Tuhan Yesus di usia 30 tahun, saya menyimpan banyak pertanyaan setelah menyerahkan hidup saya kepada-Nya. Ketika saya mulai membaca Alkitab, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Saya pun menghubungi seorang teman sambil mengeluh, “Bagaimana mungkin saya menaati semua perintah Allah? Saya baru saja membentak suami saya pagi ini!”