Category  |  Santapan Rohani

Rute yang Tak Dikenal

Mungkin seharusnya saya tidak mengikuti ajakan Brian untuk lomba lari. Saya berada di negeri asing, dan tidak punya bayangan di mana atau berapa jauh kami akan lari atau seperti apa medannya. Lagi pula, Brian seorang pelari cepat. Apakah pergelangan kaki saya bakal terkilir saat mencoba mengimbanginya agar tidak tertinggal? Namun, apa lagi yang dapat saya lakukan selain percaya kepada Brian, karena ia sudah mengenal jalannya? Ketika kami mulai berlomba, kekhawatiran saya semakin menjadi-jadi. Ternyata jalurnya sulit, berkelok menembus hutan lebat di atas permukaan tanah yang tidak rata. Syukurlah, Brian berulang kali menoleh untuk mengecek keadaan saya dan mengingatkan saya akan adanya jalur sulit di depan.

Kebebasan di Jalan yang Benar

Dalam Beep Baseball, permainan bisbol untuk kaum tunanetra, para pemain perlu mendengarkan bola yang berbunyi “beep” atau base yang berdengung untuk tahu apa yang harus dilakukan dan arah mana yang harus dituju. Pemukul yang ditutup matanya (karena para pemain memiliki derajat kebutaan yang beragam) dan pengumpan yang dapat melihat berada dalam tim yang sama. Ketika pemukul mengayunkan tongkat dan berhasil memukul bola yang berbunyi, ia akan berlari ke arah base yang berdengung. Si pemukul harus keluar jika ada pemain lapangan yang menangkap bola sebelum si pemukul tiba di base. Bila itu tidak terjadi, si pemukul akan mendapat angka. Salah seorang pemainnya berkomentar bahwa bagian terbaik dari permainan itu adalah ketika ia merasakan “kebebasan besar saat berlari”, karena mengetahui adanya arah dan jalan yang jelas.

Ketika Anda Letih

Saya duduk dan terdiam di penghujung hari, dengan laptop terbuka di hadapan saya. Seharusnya saya senang karena sudah menyelesaikan pekerjaan hari itu, tetapi perasaan saya tidak demikian. Saya letih. Bahu saya nyeri karena mencemaskan masalah pekerjaan, dan pikiran saya penat karena memikirkan sebuah hubungan yang sedang bermasalah. Saya ingin lari dari semua itu, dan berpikir ingin menonton TV saja malam itu.

Kehilangan Segalanya

Waktunya sungguh tidak tepat. Setelah mendapatkan sedikit keuntungan dari bisnis membangun jembatan, monumen, dan sejumlah bangunan besar, Cesar mempunyai impian untuk memulai suatu usaha baru. Maka ia pun menjual bisnis pertamanya dan menyimpan uangnya di bank, dengan rencana untuk segera menginvestasikannya kembali. Namun, dalam kurun waktu yang singkat itu, pemerintah menyita seluruh aset yang disimpan dalam rekening-rekening bank swasta. Hanya dalam sekejap, seluruh uang tabungan Cesar menguap.

Menghadapi Kekecewaan

Setelah mengumpulkan uang sepanjang tahun untuk sebuah perjalanan istimewa, para pelajar kelas tiga dari sebuah SMA di Oklahoma dibuat terkejut begitu tiba di bandara. Mereka baru menyadari bahwa sebagian besar dari mereka telah membeli tiket dari sebuah perusahaan gadungan yang mengaku sebagai maskapai penerbangan. “Benar-benar menyedihkan,” kata salah satu staf administrasi sekolah. Namun, meskipun para pelajar itu terpaksa harus mengubah rencana, mereka memutuskan untuk “memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya.” Sebuah objek wisata di dekat situ telah menyumbangkan tiket masuknya dengan cuma-cuma, dan anak-anak pelajar itu pun dapat menikmati wahana di dalamnya selama dua hari.

Terpukul tetapi Tetap Berpengharapan

Di penghujung kebaktian, pendeta mengundang Latriece ke depan untuk bersaksi. Rasanya tak seorang pun dari antara jemaat yang menduga betapa luar biasanya kesaksian Latriece. Ia bercerita bagaimana ia pindah dari Kentucky ketika bencana tornado merenggut nyawa tujuh orang anggota keluarganya pada bulan Desember 2021. “Saya masih bisa tersenyum karena Allah beserta saya,” katanya. Meski telah didera cobaan berat, kesaksian Latriece sungguh menguatkan para pendengar yang sedang menghadapi cobaan mereka masing-masing.

Sahabat yang Luar Biasa

Setelah beberapa tahun tidak bertemu seorang teman lama, saya mendapat kabar bahwa ia didiagnosis menderita kanker dan mulai menjalani perawatan. Secara tidak terduga, saya perlu mengunjungi kota tempat tinggalnya, sehingga saya berkesempatan untuk bertemu lagi dengannya. Ketika saya memasuki restoran tempat pertemuan kami, kami sama-sama tak kuasa menahan air mata. Sudah lama sekali kami tidak bertemu, dan sekarang kematian terasa dekat, mengingatkan kami betapa singkatnya hidup ini. Air mata kami berasal dari persahabatan panjang yang dipenuhi petualangan, canda gurau, suka duka—dan kasih. Kasih yang teramat besar itu meluap keluar dari sudut mata kami masing-masing.

Kemurahan Hati yang Melimpah Ruah

Tak ada orang yang di ujung hidupnya pernah dengan bangga berkata demikian: “Aku senang sudah menjalani kehidupan yang mementingkan, melayani, dan melindungi diriku sendiri,” kata penulis Parker Palmer dalam pidatonya di suatu acara wisuda. Ia bermaksud mengajak para wisudawan dan wisudawati untuk “mempersembahkan diri [mereka] bagi dunia . . . dengan kemurahan hati yang melimpah ruah.”

Para Saksi

Dalam puisi “The Witnesses” (Para Saksi), Henry Wadsworth Longfellow (1807–1882) menggambarkan sebuah kapal budak yang karam. “Kerangka yang terbelenggu,” demikian Longfellow meratapi para korban, yakni budak-budak tanpa nama yang tak terhitung jumlahnya. Bait penutup puisi itu berbunyi demikian, “Itulah duka para Budak, / Mereka membelalak dari jurang yang dalam; / Berseru dari makam tak dikenal, / Kami adalah para Saksi!”