Category  |  Santapan Rohani

Cara yang Baru dan Berbeda

Menjelang akhir abad ke-19, Mary Slessor berlayar menuju Calabar (sekarang Nigeria) di Afrika. Ia sangat antusias melanjutkan pekerjaan misi yang telah dirintis oleh almarhum David Livingstone. Tugas pertama Mary adalah mengajar di sekolah dan tinggal bersama sesama misionaris. Namun, ia terbeban untuk melayani dengan cara yang berbeda. Mary pun melakukan sesuatu yang jarang dilakukan di daerah itu. Ia memilih tinggal bersama orang-orang yang dilayaninya. Mary mempelajari bahasa setempat, hidup seperti penduduk setempat, dan makan makanan mereka. Mary bahkan menampung puluhan anak telantar. Selama hampir 40 tahun, Mary membawa pengharapan dan kabar baik Injil kepada orang-orang yang membutuhkan keduanya.

Allah Selamanya Setia

Ketika Xavier masih duduk di bangku sekolah dasar, saya biasa mengantar-jemput dirinya. Suatu hari, terjadi sesuatu yang di luar rencana. Saya terlambat menjemputnya. Setelah memarkir mobil, saya pun berlari tergesa-gesa ke ruang kelasnya. Saya menemukannya sedang duduk di sebelah seorang guru sambil memeluk tasnya. “Maafkan Mama, Mijo. Kamu baik-baik saja?” Ia menghela napas. “Tidak apa-apa, Ma, tapi aku marah karena Mama terlambat.” Saya tidak menyalahkannya. Saya juga marah kepada diri saya sendiri. Saya menyayangi putra saya, tetapi saya tahu saya akan sering mengecewakannya. Saya juga tahu suatu hari nanti ia mungkin akan merasa kecewa kepada Allah. Karena itu saya berusaha keras untuk mengajarinya kebenaran bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah ingkar janji.

Siapakah Saya?

Robert Todd Lincoln hidup di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya, presiden Amerika yang sangat dicintai, Abraham Lincoln. Lama setelah kematian ayahnya, identitas diri Robert masih saja tidak bisa lepas dari kebesaran sang ayah. Sahabat Robert, Nicholas Murray Butler, menulis bahwa Robert sering berkata, “Tidak seorang pun menginginkanku sebagai menteri urusan perang; yang mereka inginkan adalah anak Abraham Lincoln. Tidak seorang pun menginginkanku sebagai menteri untuk diutus ke Inggris; yang mereka inginkan adalah anak Abraham Lincoln. Tidak seorang pun menginginkanku sebagai direktur Pullman Company; yang mereka inginkan adalah anak Abraham Lincoln.”

Allah atas Hidup Kita

Setelah operasi yang dijalaninya tidak membawa pemulihan yang diharapkan, Joan menerima kabar bahwa ia perlu dioperasi lagi dalam waktu lima minggu. Dalam masa-masa penantian itu, Joan mulai merasa cemas. Ia dan suaminya sudah lanjut usia, dan keluarga mereka tinggal di tempat yang jauh. Joan dan suaminya harus berkendara ke kota yang asing, menjalani prosedur rumah sakit yang rumit, dan akan ditangani oleh dokter spesialis yang baru.

Kesulitan yang Baik demi Allah

Pada suatu hari, seorang murid kelas enam melihat teman sekelasnya mengiris lengannya dengan pisau cukur. Dengan niat melakukan hal yang benar, ia merebut pisau cukur itu dari temannya lalu membuangnya. Yang mengejutkan, alih-alih dipuji, ia justru diskors selama sepuluh hari. Mengapa? Ia sempat memegang pisau cukur itu—perbuatan yang dilarang di sekolah. Ketika ditanya apakah ia akan mengulangi perbuatannya itu, ia menjawab: “Meskipun aku harus dihukum sebagai akibatnya, . . . aku akan melakukannya lagi.” Seperti anak yang mencoba berbuat baik tetapi justru dihukum itu (hukumannya kemudian dicabut), intervensi yang Yesus lakukan telah membuat Dia mengalami “kesulitan yang baik” dengan para pemuka agama.

Berbeda tetapi Satu di dalam Yesus

Seorang analis bisnis bernama Francis Evans pernah mempelajari 125 orang tenaga pemasaran asuransi untuk mengetahui rahasia kesuksesan mereka. Yang mengejutkan, kompetensi ternyata bukanlah faktor utama. Sebaliknya, Evans menemukan bahwa pelanggan cenderung membeli dari tenaga pemasaran yang memiliki pandangan politik, tingkat pendidikan, bahkan tinggi badan yang sama dengan mereka. Para ahli menyebut ini dengan istilah homophily: kecenderungan untuk menyukai orang yang mirip dengan kita.

Seribu Titik Cahaya

Dismals Canyon di daerah barat laut Alabama menarik banyak turis setiap tahunnya, terutama pada bulan Mei dan Juni ketika larva serangga menetas dan berubah menjadi sejenis kunang-kunang. Pada malam hari, kunang-kunang itu mengeluarkan cahaya biru yang indah, dan ketika berkumpul dalam jumlah ribuan, mereka menciptakan cahaya yang sangat menakjubkan.

Terbebas dari Perbudakan

“Anda seperti Musa, membawa kami keluar dari perbudakan!” seru Jamila. Sebagai seorang pemanggang bata di Pakistan, Jamila dan keluarganya menderita karena terikat oleh besarnya utang mereka kepada pemilik tempat pembakaran. Mereka memakai sebagian besar pendapatan mereka untuk membayar bunga utangnya saja. Sewaktu sebuah lembaga nirlaba memberikan hibah yang membebaskan mereka dari utang tersebut, mereka merasa sangat lega. Dalam ucapan terima kasihnya kepada perwakilan lembaga untuk pembebasan mereka, Jamila, yang telah percaya kepada Yesus, merujuk kepada kisah pembebasan dari perbudakan yang telah Allah lakukan bagi Musa dan bangsa Israel.

Memprioritaskan Hadirat Allah

Pada tahun 2009, sebuah tim riset di Universitas Stanford mempelajari lebih dari dua ratus mahasiswa. Dalam eksperimen itu, para mahasiswa diminta untuk bergantian mengerjakan beberapa tugas dan latihan mengingat. Yang mengejutkan, para mahasiswa yang menganggap diri mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus (multitasking) karena sudah terbiasa melakukannya, malah hasilnya lebih buruk daripada mereka yang lebih suka melakukan satu demi satu tugas mereka. Rupanya multitasking membuat para mahasiswa itu sulit untuk berfokus dan menyaring informasi yang tidak relevan. Memang tidak mudah menjaga fokus di saat pikiran kita teralihkan.