Category  |  Santapan Rohani

Dikuatkan melalui Ujian

Kenangan itu muncul lagi saat saya melihat-lihat sejumlah amplop dan menemukan sebuah stiker yang bertuliskan “Saya sudah menjalani tes mata.” Saya membayangkan anak lelaki saya yang berusia empat tahun dengan bangga mengenakan stiker itu setelah dokter memberinya obat tetes mata yang perih. Karena otot mata yang lemah, ia harus mengenakan penutup pada matanya yang sehat selama berjam-jam setiap hari, supaya matanya yang lemah dipaksa untuk berkembang. Ia juga harus menjalani operasi. Satu per satu tantangan itu berhasil dilaluinya, bersama kami, orangtuanya, yang menghiburnya dan dengan iman yang bergantung penuh pada Allah. Kami melihat bagaimana tantangan-tantangan itu membuatnya semakin tahan banting.

Memperingatkan dengan Kasih

Pada tahun 2010, tsunami menghantam Pulau Sumatra, Indonesia, dan menewaskan lebih dari empat ratus orang. Kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah atau diminimalkan seandainya sistem peringatan tsunami yang terpasang bekerja dengan baik. Sayangnya, jaringan pendeteksi tsunami (yang berbentuk pelampung) telah lepas dan hanyut.

Berhala dalam Hati

Berikut adalah tips liburan: jika Anda bepergian melewati kota Middleton, Wisconsin, ada baiknya Anda mampir mengunjungi Museum Moster Nasional. Bagi mereka yang menganggap satu jenis moster saja sudah cukup, tempat ini sangat mencengangkan, karena di dalamnya ditampilkan 6.090 jenis moster yang berbeda-beda dari seluruh dunia. Lain lagi di kota McLean, Texas. Di sana Anda mungkin terperanjat menemukan Museum Kawat Berduri—atau mungkin lebih terkejut karena ada orang-orang yang begitu menyukai pagar kawat.

Musim demi Musim

Baru-baru ini saya menemukan sebuah kata yang berguna: wintering. Seperti halnya musim dingin (winter) adalah waktunya kehidupan melambat bagi banyak makhluk hidup, kata itu dipakai oleh penulis Katherine May untuk menggambarkan kebutuhan kita beristirahat dan memulihkan diri selama “musim dingin” dalam hidup kita. Saya diberkati oleh analogi tersebut setelah ayah saya berpulang karena kanker, suatu peristiwa yang menguras energi saya selama berbulan-bulan. Ketika merasa kesal karena dipaksa “melambat”, saya pun bergumul melawan musim dingin dalam hidup saya, dan berdoa agar musim panas segera kembali. Namun, ternyata masa-masa itu membuat saya belajar banyak.

Berani Bersaksi bagi Yesus

Pada tahun 155 m, bapa gereja mula-mula Polikarpus diancam akan dibakar hidup-hidup karena imannya kepada Kristus. Ia menjawab, “Selama delapan puluh enam tahun aku menjadi hamba-Nya, Dia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” Respons Polikarpus dapat menjadi inspirasi bagi kita saat menghadapi ujian ekstrem karena iman kita kepada Tuhan Yesus, Raja kita.

Dalam Jangkauan Allah

Setelah seorang petugas menggeledah saya, saya pun masuk ke dalam gedung penjara, menandatangani daftar pengunjung, dan duduk di lobi yang ramai. Saya berdoa dalam hati, sambil memperhatikan orang-orang dewasa yang gelisah dan anak-anak yang mengeluh karena harus menunggu. Satu jam lebih kemudian, seorang penjaga penjara memanggil sejumlah nama termasuk nama saya. Ia membawa kami ke dalam sebuah ruangan dan menyuruh kami duduk di kursi yang telah disediakan. Kemudian putra tiri saya duduk di depan saya, di balik jendela kaca tebal yang memisahkan kami, lalu mengangkat gagang telepon. Ketika itu, perasaan tak berdaya pun menguasai saya. Namun, saat saya menangis, Allah meyakinkan saya bahwa putra tiri saya masih berada dalam jangkauan-Nya.

Menyatukan Bangsa-Bangsa

Garis perbatasan internasional terpanjang di dunia terbentang antara Amerika Serikat dan Kanada, dengan melintasi daratan dan perairan sepanjang 8.891 km. Agar garis perbatasan terlihat jelas, para pekerja secara teratur menebang pepohonan setinggi tiga meter di kedua sisi perbatasan. Jalur tanah terbuka yang disebut “the Slash” (Tebasan) itu dihiasi oleh lebih dari delapan ribu batu penanda sehingga para pengunjung selalu tahu di mana letak garis perbatasannya.

Dalam Tangan Allah

Usia delapan belas menandai era baru dalam kehidupan putri saya. Di mata hukum ia telah dewasa dan berhak memberi suara di pemilihan umum mendatang. Tak lama lagi ia akan memulai kehidupan baru setelah lulus dari sekolah menengah atas. Perubahan ini membuat saya merasa hanya punya sedikit waktu berharga bersamanya di rumah. Saya perlu segera memberinya wejangan yang ia butuhkan dalam menghadapi dunia ini: cara-cara mengelola keuangan, mewaspadai masalah kehidupan yang akan timbul, dan mengambil keputusan yang tepat.

Suka dan Duka

Keluarga Angela diliputi dukacita besar karena mereka harus menghadapi tiga peristiwa perkabungan hanya dalam kurun waktu empat minggu. Setelah kematian mendadak keponakan laki-lakinya, Angela dan dua saudara perempuannya duduk mengelilingi meja dapur selama tiga hari. Mereka hanya pergi dari situ ketika harus membeli guci abu, memesan makanan, dan menghadiri pemakaman. Di tengah perkabungan mereka atas kematian Mason, mereka juga bersukacita melihat foto-foto ultrasonografi dari janin dalam rahim adik perempuan bungsu mereka.