Category  |  Santapan Rohani

Hari Kerendahan Hati

Saya sering merasa geli mengetahui hari-hari perayaan tidak resmi yang diciptakan orang-orang. Sebagai contoh, ada Hari Tertawa Sedunia, Hari Berbicara dalam Bahasa Bajak Laut, bahkan Hari Biskuit Anjing pun ada! Di Amerika, hari ini ternyata dirayakan sebagai Hari Kerendahan Hati. Rasanya kita semua sepakat bahwa kerendahan hati adalah sifat yang luhur, sehingga rasanya wajar untuk dirayakan. Akan tetapi kenyataannya, sifat itu tidak selalu dijunjung tinggi. 

Lindungi Hati Anda

Setelah kepindahannya ke Amerika Serikat pada tahun 1938, Abraham Wald, ahli matematika kelahiran Hungaria, menyumbangkan keahliannya untuk membantu dalam Perang Dunia II. Pihak militer sedang mencari cara untuk melindungi pesawat-pesawat mereka dari tembakan musuh, jadi Wald dan rekan-rekannya dalam Tim Riset Statistik diminta menyumbangkan solusi bagi persoalan tersebut. Mereka memulai dengan memeriksa pesawat-pesawat yang pernah tertembak dan telah kembali ke pangkalan, untuk menemukan pada bagian mana saja terjadi kerusakan terbesar. Saat itu, Wald memberikan kontribusi yang penting dengan memperhatikan bahwa kerusakan pada pesawat yang kembali hanya menunjukkan tempat pesawat itu dapat tertembak, tetapi masih bisa selamat. Ia menyadari bahwa bagian-bagian yang paling membutuhkan perlindungan ekstra hanya dapat ditemukan pada pesawat yang jatuh. Pesawat-pesawat yang tertembak di titik paling rentan, yaitu mesin, sudah jatuh dan oleh karena itu tidak dapat diteliti.

Yang Benar-Benar Dibutuhkan 

Ketika memasak, seorang ibu muda memotong daging sapinya menjadi dua, lalu memasukkannya ke sebuah panci besar. Suaminya bertanya mengapa ia memotong dagingnya menjadi dua. Istrinya menjawab, “Karena begitulah ibuku melakukannya.”

Kebangunan Datang

Aurukun adalah kota kecil di Australia utara dengan penduduk warga asli Aborigin yang terdiri dari tujuh suku. Ketika Injil tiba di Aurukun seabad yang lalu, praktik balas dendam seperti mata-ganti-mata terkadang masih dilakukan. Pada tahun 2015, terjadi ketegangan antarsuku. Ketika terjadi sebuah pembunuhan, hukum balas dendam menuntut adanya satu orang dari keluarga penyerang yang dihukum mati sebagai balasan.

Kartu-Kartu Doa

Dalam suatu lokakarya penulisan tempat saya melayani sebagai salah satu pengajar, Tamy memberi saya kartu pos berisi doa dengan tulisan tangan di belakangnya. Ia menjelaskan bahwa setelah membaca biografi para pengajar, ia menuliskan doa khusus pada setiap kartu, lalu mendoakannya sembari memberikan kartu-kartu tersebut kepada kami. Saya sangat terkesan membaca pesan pribadi yang ia tuliskan untuk saya, dan berterima kasih kepada Allah yang menguatkan saya melalui apa yang Tamy lakukan. Saya pun balas mendoakannya. Setiap kali saya merasa sakit dan kelelahan selama lokakarya itu, saya mengeluarkan kartu pos tersebut, dan semangat saya disegarkan kembali saat membaca pesan dari Tamy.

Disucikan Sepenuhnya

Baru-baru ini, saat saya dan istri membersihkan rumah untuk menyambut kedatangan tamu, saya menemukan beberapa noda gelap pada lantai keramik dapur kami yang berwarna putih. Saya sampai harus berjongkok untuk menggosok noda-noda ini.

Memantulkan Terang-Nya

Untuk menangkap keindahan dari pantulan cahaya dalam lukisan pemandangan yang dibuatnya dengan cat minyak, seniman Armand Cabrera bekerja dengan prinsip artistik yang penting ini: “Cahaya pantulan tidak pernah sekuat sumber cahayanya.” Ia mengamati bahwa pelukis pemula cenderung membesar-besarkan cahaya pantulan. Namun, menurut Cabrera, “Cahaya pantulan adalah milik bayangan, sehingga cahaya itu seharusnya mendukung dan bukannya bersaing dengan bagian-bagian lukisan Anda yang terang.”

Juri Nomor 8

“Satu nyawa melayang. Satu nyawa lagi sedang dipertaruhkan,” ujar hakim dengan nada muram dalam film klasik produksi tahun 1957 berjudul 12 Angry Men. Bukti-bukti yang memberatkan terdakwa yang masih muda itu terlihat sangat meyakinkan. Namun, saat bermusyawarah, muncul perbedaan pendapat dalam tubuh dewan juri yang beranggotakan dua belas orang. Salah seorang juri, yaitu juri nomor 8, memilih keputusan “tidak bersalah”. Terjadi perdebatan sengit, dan juri tadi dicemooh ketika ia mencoba menunjukkan adanya ketidakcocokan dalam kesaksian yang diberikan. Emosi pun meningkat, sampai terlihat jelas adanya sikap berat sebelah dan prasangka dari para anggota juri itu sendiri. Akhirnya, satu demi satu anggota juri mengubah keputusan mereka menjadi “tidak bersalah”.

Kasih yang Bergirang 

Brendan dan Katie saling menatap dengan wajah berseri-seri. Melihat wajah mereka yang penuh sukacita, Anda mungkin tidak membayangkan segala kesulitan yang harus dilalui ketika rencana pernikahan mereka berubah total akibat berbagai pembatasan dari pandemi COVID-19. Meski hanya dihadiri oleh dua puluh lima anggota keluarga, damai dan sukacita terpancar dari wajah kedua mempelai saat mereka mengucapkan janji pernikahan. Semua itu karena cinta kasih mereka kepada satu sama lain dan perasaan syukur atas kasih Allah yang senantiasa menopang mereka.