Category  |  Santapan Rohani

Gunakan Suara Anda

Lisa menderita gagap sejak usia delapan tahun. Hal itu membuatnya takut menghadapi situasi-situasi sosial yang mengharuskan dirinya berbicara dengan orang lain. Namun, setelah mengikuti terapi wicara yang berhasil mengatasi gagapnya, Lisa memutuskan menggunakan suaranya untuk membantu orang lain. Ia pun melayani sebagai relawan konselor melalui telepon untuk menolong orang yang mengalami tekanan emosional.

Kebesaran Kasih Allah

Pada tahun 1917, Frederick Lehman, seorang pengusaha asal California yang sedang diterpa kesulitan keuangan, menulis lirik bagi himne “The Love of God” (Kasih Allah, KPPK 27). Ia dengan cepat menulis dua bait pertama lagu ini, tetapi pada bait ketiga ia merasa menemui jalan buntu. Ia pun teringat pada sebuah puisi yang ditemukannya bertahun-tahun silam. Puisi itu digoreskan pada dinding penjara oleh seorang tahanan, sebagai ungkapan kesadarannya yang mendalam akan kasih Allah. Matra puisi itu kebetulan cocok dengan himne yang ditulis Lehman. Ia pun menjadikannya sebagai isi bait ketiga dari himne tersebut.

Kebaikan-Kebaikan Kecil

Amanda bekerja sebagai perawat yang berkeliling ke beberapa panti jompo, dan ia sering membawa serta putrinya, Ruby, yang berusia sebelas tahun. Untuk mengisi waktu, Ruby menanyai para penghuni panti, “Kalau boleh meminta tiga hal, apa yang Anda inginkan?” Ia mencatat jawaban-jawaban mereka di buku catatannya. Menariknya, kebanyakan dari mereka menginginkan hal-hal sepele—seperti sosis Wina, pai cokelat, keju, alpukat. Jadi Ruby membuat akun pendanaan di GoFundMe untuk membantunya memenuhi keinginan sederhana para penghuni panti tersebut. Ketika Ruby membagikan benda-benda yang mereka inginkan itu, ia juga tidak lupa memeluk mereka. Katanya, “Aku benar-benar dikuatkan.”

Keduanya Benar

Setelah terpisah tiga dekade, akhirnya Feng Lulu berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya. Semasa balita, ia diculik saat sedang bermain di luar rumah, tetapi ia berhasil ditemukan berkat bantuan lembaga Federasi Wanita Seluruh Tiongkok. Karena masih sangat kecil, Feng Lulu tidak ingat penculikan tersebut. Ia tumbuh besar dengan keyakinan bahwa ia dijual karena orangtuanya tidak mampu membesarkannya. Begitu banyak pertanyaan dan emosi yang muncul saat ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Sumbernya

Pada tahun 1854, ribuan orang di London mati karena sesuatu. Mungkin karena kondisi udara yang buruk, pikir orang-orang. Ketika udara panas yang tidak lazim memanggang air Sungai Thames yang tercemar, bau yang menguar di udara begitu menyengat, sampai-sampai peristiwa itu dikenal sebagai “The Great Stink” (Bau Hebat).

Warisan Persahabatan

Saya bertemu dengan teman saya ini pada dekade 1970-an. Saat itu saya masih menjadi guru bahasa Inggris dan pelatih basket di SMA, dan ia anak baru bertubuh kurus tinggi. Tak lama kemudian ia bergabung dalam tim basket dan kelas saya—dan kami pun bersahabat. Teman ini, yang bertahun-tahun menjadi rekan editor saya, berdiri di depan saya pada pesta perpisahan saat saya pensiun untuk bercerita tentang warisan persahabatan kami yang telah terjalin lama.

Bijaksana atau Bebal?

Sewaktu berumur sepuluh tahun, saya pernah membawa pulang sebuah kaset band Kristen yang memainkan lagu-lagu kontemporer dari seorang teman di kelompok pemuda. Ayah saya, yang dibesarkan dalam keyakinan lain tetapi sekarang sudah menerima keselamatan dalam Yesus, tidak menyukainya. Ia hanya mau lagu-lagu rohani saja yang dimainkan di rumah kami. Saya mencoba menjelaskan bahwa itu band Kristen, tetapi Ayah bergeming. Beberapa waktu kemudian, ia menyarankan agar saya mendengarkan lagu-lagu itu selama seminggu, lalu memutuskan apakah lagu-lagu tersebut menarik saya lebih dekat kepada Allah atau malah menjauh dari-Nya. Saran ayah saya itu cukup bijaksana.

Mengasihi Sesama

Dalam masa-masa isolasi mandiri dan pembatasan di tengah pandemi virus corona, kata-kata Martin Luther King Jr. dalam “Surat dari Penjara Birmingham” yang ditulisnya terasa sangat tepat. Ia mengatakan, ketika berbicara tentang ketidakadilan, ia tidak bisa duduk diam di satu kota tanpa mencemaskan apa yang terjadi di kota lain. “Tak terhindarkan bahwa kita semua terperangkap dalam jaringan yang sama,” ia berkata, “terikat dalam satu nasib yang sama. Apa pun yang mempengaruhi seseorang secara langsung, mempengaruhi kita semua secara tidak langsung.”

Bersyukur untuk Hari Senin

Dulu saya sering takut menghadapi hari Senin. Terkadang, saat turun dari kereta untuk pergi ke tempat kerja yang dulu, saya akan duduk sebentar di stasiun, mencoba berlama-lama untuk tiba di kantor, walaupun untuk beberapa menit saja. Jantung saya berdebar kencang saat memikirkan tenggat yang harus dikejar dan menghadapi suasana hati bos yang emosional.