Demi Kepentingan Injil
Pada tahun 1916, Nelson baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran di Virginia, Amerika Serikat, tempat kelahirannya. Di tahun yang sama, ia dan istri yang dinikahinya enam bulan sebelumnya, tiba di Tiongkok. Pada usia dua puluh dua tahun, ia menjadi dokter bedah di Love and Mercy Hospital, satu-satunya rumah sakit di daerah yang berpenduduk tidak kurang dari dua juta orang. Nelson dan keluarganya tinggal di sana selama dua puluh empat tahun, memimpin rumah sakit, melakukan tindakan operasi, dan mengabarkan Injil kepada ribuan orang. Nelson Bell semula dijuluki “iblis asing” oleh mereka yang mencurigai orang asing, tetapi ia akhirnya dikenal sebagai “The Bell (Lonceng) yang Mengasihi Orang-orang Tiongkok.” Putrinya, Ruth, kelak menikah dengan penginjil bernama Billy Graham.
Seperti Saudara
Ketika seorang pembimbing retret meminta saya untuk berbicara empat mata dengan Karen, saya menemukan dirinya sedang menangis di ruang konseling. Karen berusia empat puluh dua tahun dan ingin menikah, dan seorang pria menaruh perhatian padanya. Namun, pria ini adalah atasannya sendiri, dan sudah beristri.
Walk On
Walk On adalah memoar menarik dari Ben Malcolmson. Ia seorang siswa yang nyaris tidak memiliki pengalaman bermain futbol dan menjadi seorang “walk on”—pemain yang tidak direkrut—untuk tim Universitas Southern California yang berhasil meraih gelar juara Rose Bowl tahun 2007. Tadinya, sebagai jurnalis di majalah kampus, Malcolmson ingin menulis tentang proses perekrutan pemain yang melelahkan. Tak disangka-sangka, ia berhasil lolos masuk tim.
Mempercayai Petunjuk Arah dari Allah
Saat kami berkendara ke lokasi yang tidak dikenal, suami saya tersadar bahwa GPS kami tiba-tiba menunjukkan arah yang tampaknya keliru. Setelah memasuki jalan bebas hambatan empat jalur yang nyaman, kami disarankan untuk keluar dan menyusuri jalan satu jalur yang sejajar dengan jalan raya. “Aku ikuti saja,” kata suami saya, meski jalan bebas hambatan terlihat lancar-lancar saja. Namun, setelah berkendara kira-kira 16 kilometer jauhnya, lalu lintas di jalan tol di sebelah kami melambat hingga nyaris berhenti total. Apa penyebabnya? Ada sebuah proyek pembangunan. Dan jalan arteri yang kami lewati? Karena lalu lintasnya tidak padat, kami pun tiba di tujuan tanpa hambatan. “Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan,” kata suami saya, “tetapi GPS ini bisa.” Atau, seperti yang kami sepakati, “seperti Allah juga bisa melihatnya.”
Melarikan Diri dari Kalkun
Saya menemukan dua ekor kalkun sedang berdiri di tengah jalan yang akan saya lalui. Seberapa dekat aku bisa menghampiri kalkun-kalkun itu? pikir saya. Saya memperlambat langkah, lalu berhenti. Berhasil. Kalkun-kalkun itu berjalan ke arah saya . . . dan terus mendekat. Dalam hitungan detik, kepala mereka berada dekat sekali dengan pinggang saya, lalu punggung saya. Seberapa tajam paruh kalkun? Saya buru-buru kabur. Kedua unggas itu sempat mengejar saya sebelum akhirnya menyerah.
Perubahan Sejati
Sebagai anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berantakan di London Selatan, Claud mulai berjualan ganja saat berusia 15 tahun dan heroin pada usia 25 tahun. Untuk menutupi kegiatannya, ia bekerja menjadi mentor anak-anak muda. Tak lama kemudian, ia mulai tertarik dengan penyelianya, seorang yang percaya kepada Yesus, dan tergerak untuk ingin tahu lebih banyak. Setelah menghadiri pertemuan yang menolongnya untuk mengenal iman Kristen, ia “menantang” Kristus untuk masuk ke dalam hidupnya. “Aku merasa disambut dengan hangat,” ujarnya. “Orang langsung melihat perubahan dalam diriku. Aku menjadi pengedar narkoba paling gembira di dunia!”
Hati yang Marah
Guernica, lukisan bernada politis yang terpenting karya Pablo Picasso, merupakan penggambaran modernis dari peristiwa penghancuran Guernica, sebuah kota kecil di Spanyol pada tahun 1937. Selama revolusi Spanyol hingga Perang Dunia II, pasukan Nasionalis Spanyol mengizinkan pesawat-pesawat tempur Nazi Jerman untuk menggunakan kota tersebut sebagai sasaran dalam latihan pengeboman. Pengeboman yang kontroversial itu merenggut banyak nyawa dan menarik perhatian masyarakat dunia terhadap kebejatan pengeboman yang menargetkan rakyat sipil. Lukisan Picasso berhasil menangkap imajinasi dari dunia sekitar dan memicu perdebatan tentang kapasitas manusia untuk menghancurkan satu sama lain.
Memilih Berbelas Kasihan
Sebuah video berdurasi lima menit berisi berbagai adegan kecelakaan yang berhubungan dengan salju menjadi fokus dari suatu episode acara TV. Di dalamnya ditampilkan orang-orang yang jatuh saat meluncur dari atas atap, menabrak benda-benda saat melesat di atas salju, dan tergelincir di lantai yang dilapisi es. Semua adegan itu membuat penonton di studio dan di rumah tergelak sambil bertepuk tangan. Tawa mereka terdengar paling kencang ketika orang-orang di video itu celaka akibat kekonyolan mereka sendiri.
Allah yang Begitu Terperinci
Kevin dan Kimberley telah menjalani minggu yang berat. Penyakit kejang yang diderita Kevin tiba-tiba memburuk sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Di tengah pandemi, keempat anak mereka—kakak-beradik yang mereka adopsi dari panti asuhan—merasa sangat bosan dan kesal karena terkurung di dalam rumah. Bukan itu saja, Kimberley merasa tidak memiliki bahan makanan yang layak dimakan. Anehnya, saat itu ia ingin sekali makan wortel.