Category  |  Santapan Rohani

Mengucap Syukur dengan Sukacita

Sebuah studi yang dilakukan psikolog Robert Emmons membagi relawan menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok diminta menulis jurnal mingguan. Satu kelompok menulis lima hal yang mereka syukuri. Satu kelompok lagi menggambarkan lima hal yang mengganggu mereka sehari-hari. Kelompok terakhir menulis lima peristiwa yang berdampak kecil pada mereka. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa para anggota kelompok yang bersyukur merasa lebih baik mengenai kehidupan mereka, lebih optimis tentang masa depan, dan melaporkan lebih sedikit masalah kesehatan.

Kuasa Firman Allah

Stephen adalah seorang komedian yang tengah naik daun, dan ia telah meninggalkan imannya. Meski dibesarkan dalam keluarga Kristen, ia meragukan imannya setelah ayah dan dua saudara laki-lakinya tewas dalam kecelakaan pesawat. Di awal usia dua puluhan, ia kehilangan imannya. Akan tetapi, ia kembali memeluk imannya pada suatu malam di jalanan kota Chicago yang dingin. Seorang asing memberinya Alkitab saku Perjanjian Baru, dan Stephen pun membaca-baca isinya. Daftar indeks merujuk orang yang bergumul dengan kecemasan kepada Matius 6:27-34, bagian dari Khotbah Yesus di Bukit.

Menguasai Diri dengan Kuasa Allah

Pada tahun 1972, sebuah studi yang dikenal dengan “ujian marshmallow” dikembangkan untuk mengukur kemampuan anak-anak dalam menahan diri dari keinginan memuaskan kemauan mereka. Anak-anak ditawari sebutir marshmallow, tetapi diberi tahu jika mereka dapat menahan diri selama sepuluh menit untuk tidak memakannya, mereka akan diberi marshmallow kedua. Sepertiga dari anak-anak itu mampu menahan diri demi mendapat lebih, tetapi sepertiga lagi langsung melahapnya dalam waktu tiga puluh detik!

Burung-Burung di Langit

Matahari musim panas tengah merangkak naik dan tetangga saya tersenyum ketika melihat saya di halaman depan. Sambil berbisik ia meminta saya mendekat. “Ada apa?” saya balas berbisik, penasaran. Ia menunjuk kelinting angin di teras depan rumahnya, dan di sana tampak setumpuk kecil jerami teronggok di atas dudukan besi. “Sarang kolibri,” bisiknya. “Lihat bayi-bayinya?” Dua paruh semungil ujung peniti mencuat keluar, nyaris tak terlihat. “Mereka sedang menunggu induknya.” Kami berdiri di sana dengan takjub. Saya mengarahkan ponsel untuk mengabadikan momen itu. “Jangan terlalu dekat,” kata tetangga saya. “Jangan sampai induknya takut.” Sejak hari itu, kami mengadopsi—dari jauh—sebuah keluarga kolibri.

Masa Depan yang Berbeda

Tiga ratus siswa SMP dan SMA di kota kecil Neodesha, Kansas, berbaris memasuki aula untuk menghadiri pertemuan dadakan. Mereka pun duduk terpaku, tak percaya saat mendengar sepasang suami-istri yang memiliki hubungan dengan kota mereka memutuskan akan membayar uang kuliah setiap murid Neodesha selama dua puluh lima tahun ke depan. Semua siswa terkejut, gembira, dan menangis bahagia.

Berduka dan Bersyukur

Setelah ibu saya meninggal, seorang temannya yang juga menderita kanker menghampiri saya. “Ibumu baik sekali padaku,” katanya, sambil menangis. “Aku sedih mengapa ibumu yang meninggal, . . . bukan aku.”

Rumah Kita yang Sejati

“Bobbie, si Anjing Ajaib” adalah anjing blasteran yang terpisah dari tuannya saat mereka pergi berlibur musim panas di suatu tempat yang jaraknya kira-kira 3.500 km dari rumah. Tuannya mencari Bobbie ke mana-mana tetapi dengan hati sedih terpaksa pulang tanpa anjing itu.

Tes Cermin

“Siapa itu yang di cermin?” tanya psikolog saat melakukan tes pengenalan diri pada anak-anak. Pada usia delapan belas bulan atau kurang, anak-anak biasanya tidak mengenali bayangan mereka sendiri di cermin. Namun, setelah lebih besar, mereka mengerti bahwa mereka sedang melihat diri sendiri di cermin. Mengenal diri adalah tanda penting dari pertumbuhan dan pendewasaan yang sehat.

Kasih Karunia Allah yang Lembut

“Nyatakanlah seluruh kebenaran, tetapi lakukan dengan tidak langsung,” tulis penyair Emily Dickinson. Maksudnya, karena kebenaran dan kemuliaan Allah “terlalu menyilaukan” bagi manusia yang rapuh untuk dapat memahami atau menerimanya sekaligus, maka cara terbaik untuk menerima dan membagikan kasih karunia dan kebenaran Allah adalah dengan lemah lembut dan tidak langsung. Oleh karena itu, kata Dickinson, “Kebenaran harus bersinar perlahan-lahan / Supaya manusia tidak menjadi buta.”