Category  |  Santapan Rohani

Menjadikan Saya yang Sekarang

Pada usia tujuh tahun, Thomas Edison tidak suka dan tidak berprestasi di sekolah. Setelah dikatai “bodoh” (terganggu pikirannya) oleh seorang guru, Thomas berlari pulang. Sehabis berbicara dengan guru tersebut keesokan harinya, ibunya yang lulusan sekolah guru memutuskan mengajari Thomas di rumah. Dengan kasih dan dorongan dari ibunya (dan karunia kepandaian luar biasa dari Allah), Thomas akhirnya menjadi penemu besar. Ia kemudian menulis, “Ibu sayalah yang menjadikan saya yang sekarang. Beliau begitu tulus, begitu yakin pada saya, dan saya merasa memiliki seseorang yang menjadi alasan saya hidup, seseorang yang tidak boleh saya kecewakan.” 

Remuk dan Indah

Awalnya, saya menganggap Consider the Lilies karya Makoto Fujimura hanyalah lukisan monokromatik yang sederhana, menampilkan setangkai bunga bakung yang seakan tersembunyi di latar belakang. Namun, lukisan itu menjadi hidup setelah saya tahu karya itu sesungguhnya dilukis dengan lebih dari delapan puluh lapis mineral yang diremukkan sampai halus. Itulah gaya seni lukis Jepang “Nihonga”, yang disebut Fujimura sebagai “seni perlahan”. Lapisan-lapisan yang rumit dan menawan itu baru terlihat dari dekat. Fujimura menjelaskan bahwa ia melihat pesan Injil tersingkap dalam teknik yang menghasilkan “keindahan dari kehancuran” tersebut, serupa dengan penderitaan Yesus Kristus membawa keutuhan dan pengharapan bagi dunia. 

Kiasan tentang Pernikahan

Setelah dua puluh dua tahun hidup bersama, saya terkadang heran bagaimana pernikahan saya dan Merryn dapat berjalan. Saya penulis; Merryn ahli statistik. Saya bekerja dengan kata; ia bekerja dengan angka. Saya menginginkan keindahan; ia menginginkan fungsi. Dunia kami berbeda.

Anugerah dalam Pencobaan

Annie Johnson Flint menjadi lumpuh akibat radang sendi hanya beberapa tahun setelah ia lulus SMA. Ia tidak lagi dapat berjalan dan harus bergantung pada orang lain yang membantu memenuhi kebutuhannya. Berkat puisi dan kidung-kidung ciptaannya, ia menerima banyak pengunjung, termasuk seorang diaken perempuan yang merasa putus asa dengan pelayanannya. Sekembalinya ke rumah, diaken itu menulis surat kepada Annie, untuk bertanya mengapa Allah mengizinkan kesulitan terjadi dalam hidupnya.

Monstro Si Ikan Mas

Seekor ikan yang terdampar di dasar akuarium dalam toko hewan peliharaan itu menarik perhatian Lacey Scott. Kondisi ikan itu sangat menyedihkan, dengan sisik-sisik yang menghitam dan penuh luka. Lacey menyelamatkan ikan berumur sepuluh tahun tersebut, menamainya “Monstro” seperti nama paus dalam dongeng Pinokio, dan menaruhnya dalam akuarium “perawatan”, dan mengganti airnya setiap hari. Perlahan-lahan, kondisi Monstro membaik. Ikan itu kembali berenang dan ukurannya bertambah besar. Sisik yang tadinya hitam berubah keemasan. Setelah dirawat Lacey sepenuh hati, Monstro pun menjadi ikan yang baru!

Ditarik oleh Bencana

Pada tahun 1717, badai dahsyat yang mengamuk berhari-hari menyebabkan banjir bandang di Eropa utara. Ribuan orang kehilangan nyawa di Belanda, Jerman, dan Denmark. Sejarah menyingkapkan suatu respons yang menarik dan umum dilakukan pada masa itu, setidaknya dari satu pemerintah lokal. Otoritas provinsi kota Groningen di Belanda menyerukan diadakannya “hari doa” untuk menanggapi bencana tersebut. Seorang sejarawan melaporkan bahwa masyarakat berkumpul di gereja[-gereja untuk “mendengarkan khotbah, menyanyikan mazmur, serta berdoa berjam-jam.”

Kekayaan yang Tak Ternilai

Sebuah asteroid yang melintas dalam orbit di antara Mars dan Jupiter ternyata memiliki nilai miliaran dolar. Menurut para ilmuwan, benda langit yang diberi nama 16 Psyche itu mengandung logam-logam seperti emas, besi, nikel, dan platinum yang tak ternilai harganya. Hingga saat ini, manusia belum berusaha untuk menambang kekayaan tersebut, tetapi Amerika Serikat telah berencana mengirim robot penjelajah nirawak untuk mempelajari batuan berharga itu. 

Berani Mengambil Sikap

Di sebuah kota kecil di negara bagian Illinois, 40% dari seluruh tindak kriminal dalam masyarakat adalah kekerasan dalam rumah tangga. Menurut seorang pendeta setempat, masalah KDRT sering disembunyikan di dalam komunitas rohani karena tidak nyaman untuk dibicarakan. Namun, alih-alih menghindari masalah, sekelompok rohaniwan di kota itu memilih mempraktikkan iman mereka dan dengan berani menangani masalah tersebut. Mereka memulainya dengan mengikuti berbagai pelatihan untuk mengenali tanda-tanda terjadinya kekerasan dan mendukung sejumlah organisasi nirlaba yang khusus menangani masalah ini. Menyadari besarnya pengaruh iman dan perbuatan, salah seorang rohaniwan berkata, “Kami percaya, doa dan belas kasihan kita, ditambah dukungan nyata, dapat membawa perubahan yang berarti.”

Kerendahan Hati adalah Kebenaran

Teresa dari Avila, seorang biarawati abad ke-16, pernah merenungkan mengapa Allah sangat menghargai kerendahan hati. Ia pun menyadari alasannya: “Itu karena Allah adalah Kebenaran tertinggi, dan kerendahan hati adalah kebenaran itu. . . . Tak satu pun hal baik dalam diri kita terbit dari diri kita sendiri. Sebaliknya, hal baik itu berasal dari mata air kasih karunia, dekat dengan jiwa, bagaikan pohon yang ditanam di tepi sungai, dan dari Matahari yang menghidupkan pekerjaan kita.” Teresa menyimpulkan bahwa melalui doa kita mengikatkan diri kita pada kenyataan itu, karena “seluruh dasar dari doa adalah kerendahan hati. Semakin kita merendahkan diri dalam doa, semakin tinggi Allah akan mengangkat kita.”