Benar-Benar Hidup
Karena Paskah baru berlalu satu minggu, putra kami yang berumur lima tahun, Wyatt, telah mendengar banyak pembicaraan tentang kebangkitan. Ia selalu punya banyak pertanyaan—dan biasanya pertanyaan yang sulit-sulit. Suatu saat, saya sedang mengemudi dan ia duduk di jok belakang dengan sabuk terpasang. Wyatt kelihatan berpikir keras sambil memandang ke luar jendela. “Ayah,” katanya, berhenti sejenak dan bersiap mengajukan pertanyaan sulit. “Waktu Tuhan Yesus bangkitkan kita, apa kita benar-benar hidup, atau cuma hidup di pikiran kita?”
Mengambil Risiko untuk Mengasihi
Setelah seorang sahabat mengakhiri persahabatan kami yang sudah terjalin selama sepuluh tahun tanpa penjelasan apa-apa, saya kembali kepada kebiasaan lama dan menjaga jarak dengan orang lain. Dalam proses menyembuhkan luka hati itu, saya membaca buku The Four Loves (Empat Jenis Kasih) karya C. S. Lewis. Menurut Lewis, kasih membutuhkan kerentanan. Ia berkata, “tidak ada jaminan yang aman” ketika seseorang mengambil risiko untuk mengasihi. Ia berpendapat, mengasihi “apa pun [akan membuat] hati tersayat dan mungkin saja hancur.” Kata-kata itu mengubah cara pandang saya terhadap peristiwa ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya (Yoh. 21:1-14), yang terjadi setelah Petrus menyangkal Dia bukan hanya satu kali, tetapi sampai tiga kali (18:15-27).
Datang Menyembah
Saat lagu-lagu pujian dinaikkan dalam sebuah kebaktian antargenerasi, banyak anggota jemaat mengalami sukacita dan kedamaian. Namun, tidak demikian dengan seorang ibu yang kerepotan. Sambil mengayun-ayun bayinya yang hampir menangis dalam gendongan, ia memegangi buku nyanyian untuk anaknya yang berusia lima tahun, sambil berusaha menahan anak batitanya agar tidak kabur. Lalu seorang bapak tua yang duduk di belakangnya menawarkan diri untuk mengajak anak batita itu berjalan-jalan mengitari gereja, dan seorang wanita muda membantu memegangi buku nyanyian untuk si sulung. Dalam waktu dua menit saja, pengalaman si ibu berubah, sehingga ia dapat bernapas lega, memejamkan mata, dan menyembah Allah.
Menjadi Saksi di Tempat Kerja
“Apakah kamu masih kecewa karena saya ingin mengurangi jumlah orang dalam divisi favoritmu?” manajer Evelyn bertanya. “Tidak.” Evelyn mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia frustrasi karena manajernya seolah menjadikan hal itu sebagai gurauan. Padahal ia bermaksud membantu perusahaan dengan menyatukan beberapa kepentingan yang berbeda, tetapi ruang gerak yang terbatas membuat usahanya nyaris mustahil terlaksana. Evelyn menahan air mata, tetapi memutuskan untuk melakukan apa pun yang diminta manajernya. Mungkin ia tidak bisa mewujudkan perubahan yang ia harapkan, tetapi ia masih dapat melakukan pekerjaannya sebaik mungkin.
Satu Hal yang Mengubah Segalanya
Jaroslav Pelikan, profesor senior di Yale yang dipandang sebagai salah seorang “ahli terbaik dalam bidang sejarah kekristenan di generasinya,” terkenal karena pengabdian akademisnya yang panjang. Ia menerbitkan lebih dari tiga puluh judul buku dan dianugerahi Kluge Prize, penghargaan pengabdian seumur hidup atas produktivitasnya dalam menulis. Namun, salah satu muridnya justru menganggap kata-kata terpenting sang guru diucapkannya menjelang kematiannya: “Jika Kristus sungguh bangkit, tidak ada yang lebih berarti. Namun, jika Kristus tidak bangkit—tidak ada lagi yang berarti.”
Memutar Waktu Kembali
“Andai saja waktu bisa diputar kembali,” ratap seorang pria saat menyampaikan eulogi bagi temannya yang meninggal dunia dalam usia muda. Kata-katanya menegaskan kepedihan yang dirasakan hati manusia sejak semula. Kematian menyentak dan melukai kita semua. Rasanya ingin sekali bisa membalikkan apa yang tidak bisa kita ubah.
Salib Pendamaian-Nya
Sorot mata muram mengintip dari lukisan Simon dari Kirene karya Egbert Modderman, seorang seniman kontemporer Belanda. Sorot mata Simon mengungkapkan beban fisik dan emosional dari tugas yang diembannya. Dalam Markus 15, Simon ditarik keluar dari kerumunan penonton dan dipaksa memikul salib Yesus.
“Pada Waktu Itu Hari Sudah Malam”
Novel Elie Wiesel, Night, menghadapkan pembacanya kepada kengerian peristiwa Holocaust. Berdasarkan pengalamannya sendiri ditawan di dalam kamp konsentrasi Nazi, kisahnya justru merupakan kebalikan dari kisah Keluaran dalam Alkitab. Pada Paskah pertama itu (Kel. 12) Musa dan umat Israel melepaskan diri dari perbudakan, sementara Wiesel bercerita tentang pasukan Nazi yang menangkap para pemimpin Yahudi setelah Paskah.
Dipelihara oleh Kasih
Cucu laki-laki saya yang berusia empat tahun duduk di pangkuan saya sambil menepuk-nepuk kepala saya yang botak. Setelah mengamatinya lekat-lekat, ia bertanya, “Kakek, rambut Kakek mana?” “Oh,” saya tertawa, “Makin lama makin habis.” Wajahnya berubah serius, lalu ia berkata, “Sedih sekali. Nanti aku kasih rambutku untuk Kakek.”