Terlihat
Dalam suatu artikel tentang pembimbingan, Hannah Schell menjelaskan bahwa seorang mentor atau pembimbing perlu mendukung, menantang, dan menginspirasi. Namun, “pertama-tama, dan barangkali yang terpenting, mentor yang baik ‘melihat’ Anda. . . . Pengakuan, bukan dalam arti mendapat penghargaan atau publisitas melainkan cukup ‘terlihat’, adalah kebutuhan dasar manusia.” Orang butuh diakui, dikenali, dan dipercaya.
Nasihat yang Bijaksana
Ketika atap Katedral Notre-Dame di Paris terbakar pada bulan April 2019, tiang kayu dan lapisan timah hitamnya yang sudah tua mengobarkan nyala api sedemikian panas sehingga sulit dipadamkan. Setelah puncak menara katedral itu jatuh, perhatian beralih ke menara-menara loncengnya. Jika rangka kayu dari lonceng baja raksasa itu ikut terbakar, kedua menara tersebut juga akan runtuh dan katedral itu bakal hancur.
Kita adalah Satu
Dalam komunitas pertanian yang kecil, suatu kabar dapat menyebar dengan cepat. Beberapa tahun setelah bank menjual tanah pertanian yang telah dimiliki keluarganya berpuluh-puluh tahun, David mendengar properti itu akan dijual kembali. Setelah banyak berkorban dan menabung, David tiba di pelelangan dan bergabung dengan orang banyak yang terdiri dari hampir dua ratus petani setempat. Apakah penawaran David yang kecil akan cukup? Ia mengajukan penawaran pertama, lalu menantikan dengan cemas saat juru lelang meminta penawaran lebih tinggi. Namun, para petani lainnya tetap diam sampai juru lelang mengetuk palu. Mereka telah menempatkan kebutuhan David dan keluarganya di atas keuntungan finansial mereka sendiri.
Kekuatan Cinta
Dua lansia berusia delapan puluhan, satu dari Jerman dan satu lagi dari Denmark, adalah pasangan yang unik. Sebelum menjadi janda dan duda, masing-masing dari mereka pernah menikmati enam puluh tahun masa pernikahan. Meski hanya terpisah jarak lima belas menit, rumah mereka berada di negara yang berbeda. Namun demikian, mereka jatuh cinta dan sering memasak serta menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, pada tahun 2020, karena COVID-19, pemerintah Denmark menutup perbatasan negara. Namun, mereka tidak menyerah. Setiap hari pukul 15.00, mereka bertemu di perbatasan, pada suatu jalan pedesaan yang sunyi, dan duduk di sisi negara masing-masing untuk melakukan piknik bersama. “Kami di sini karena cinta,” si pria menjelaskan. Cinta mereka lebih kuat daripada perbatasan, lebih teguh daripada pandemi.
Tidak Dilupakan
Ketika berpikir tentang misionaris perintis yang bersejarah, nama George Liele (1750–1820) mungkin tidak terlintas di benak kita. Lahir dalam kondisi perbudakan, Liele percaya kepada Kristus di Georgia dan memperoleh kebebasannya sebelum Perang Revolusi Amerika. Ia membawa kabar baik tentang Kristus ke Jamaika, melayani para budak perkebunan di sana, dan menjadi gembala pendiri dua gereja Afrika-Amerika di Savannah, Georgia. Salah satu gereja tersebut dikenal sebagai “induk gereja Baptis kulit hitam”.
Hidup Berdasarkan Percaya
Gary mengalami masalah keseimbangan ketika berjalan, jadi dokter menyarankan fisioterapi untuk meningkatkan keseimbangannya. Dalam satu sesi, fisioterapis berkata, “Anda terlalu mempercayai apa yang dapat Anda lihat, meski itu salah! Anda kurang bergantung pada sistem indrawi Anda yang lain—apa yang Anda rasakan pada telapak kaki, juga sinyal yang diberikan dalam telinga Anda. Padahal, semua itu membantu Anda tetap seimbang.”
Suara Bapa
Ayah teman saya meninggal dunia baru-baru ini. Beliau jatuh sakit, lalu kondisinya menurun dengan cepat, kemudian harus berpulang dalam hitungan hari. Hubungan teman saya dan ayahnya sangat dekat, dan masih banyak yang ingin ia lakukan bersama ayahnya. Banyak pertanyaan yang belum terjawab dan percakapan yang belum sempat diucapkan sebelum ayahnya tiada. Walaupun teman saya seorang konselor terlatih, yang paham benar jatuh bangun dalam masa dukacita dan sering menolong orang lain untuk menghadapi masa-masa sulit tersebut, ia tetap berkata, “Ada hari-hari ketika aku membutuhkan suara Ayah, yang mengingatkan aku akan kasihnya. Ucapannya sungguh berarti bagiku.”
Pertolongan-Nya yang Ajaib
Orang-orang merasa kagum dengan begitu banyaknya doa yang dinaikkan kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya dalam peristiwa kebakaran besar yang melanda bagian timur Pegunungan Colorado pada musim gugur 2020. Diperkirakan ada ratusan ribu hingga jutaan doa yang dinaikkan kepada Allah. Kebakaran itu melahap habis 40.000 hektar wilayah dalam waktu dua belas jam, membesar saat melewati area hutan yang penuh dedaunan kering, meluluhlantakkan tiga ratus rumah, dan mengancam seluruh kota. Kemudian datanglah “kiriman Tuhan”, begitu seorang ahli meteorologi menyebutnya. Bukan hujan air, melainkan hujan salju yang datang tepat waktu. Salju yang datang lebih cepat tahun itu turun tepat di seluruh area kebakaran. Salju basah yang tebalnya lebih dari 30 cm ini berhasil memperlambat laju api, bahkan memadamkannya sama sekali di beberapa wilayah.
Kefanaan dan Kerendahan Hati
Cendekiawan kuno Hieronimus (Jerome) dan Tertulianus pernah bercerita bagaimana dalam dunia Romawi kuno, setelah seorang jenderal meraih kemenangan yang gilang-gemilang, ia akan diarak di atas kereta berkilauan sepanjang jalan-jalan protokol ibu kota, sejak fajar hingga matahari terbenam. Orang banyak bersorak-sorai mengelukannya. Jenderal tersebut bersimbah puja-puji, menikmati kehormatan terbesar dalam hidupnya. Akan tetapi, konon ada seorang pelayan yang selalu berdiri di belakang sang jenderal, dengan sepanjang hari berbisik di telinganya, Memento mori (“Ingatlah kamu akan mati”). Di tengah semua pujian itu, sang jenderal sangat membutuhkan kerendahan hati dengan mengingat bahwa dirinya manusia fana.