Category  |  Santapan Rohani

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Pada zaman keemasan radio, Fred Allen (1894–1956) menggunakan lawakan bernada pesimis untuk menghibur generasi yang hidup di era depresi ekonomi dan dunia yang dilanda perang. Selera humornya lahir dari penderitaan pribadi yang dialaminya. Setelah kehilangan ibunya sebelum ia berusia tiga tahun, ia pun hidup jauh dari ayahnya yang kecanduan. Suatu kali, Fred pernah menyelamatkan nyawa seorang anak laki-laki di tengah lalu lintas kota New York yang ramai. Ia menegur anak itu dengan caranya yang khas, “Apa yang salah denganmu, Nak? Apakah kamu tidak mau tumbuh besar dan punya banyak masalah?” 

Iman yang Berani 

Setelah pesawatnya ditembak jatuh pada Perang Dunia II, Prem Pradhan (1924–1998) mengalami cedera ketika berusaha mendarat dengan menggunakan parasut. Akibatnya, kakinya pincang seumur hidup. Ia pernah menulis, “Satu kaki saya pincang. Bukankah ajaib kalau Allah justru memanggil saya untuk mengabarkan Injil di pegunungan Himalaya?” Ia pun mengabarkan Injil di Nepal—meski bukan tanpa rintangan, termasuk dihukum dengan dimasukkan ke dalam “penjara maut bawah tanah,” tempat para tahanan menghadapi kondisi yang sangat sulit. Dalam kurun waktu lima belas tahun, Prem mendekam sepuluh tahun di empat belas penjara yang berbeda. Namun, kesaksiannya yang berani telah membuahkan hasil, berupa hidup banyak orang yang diubahkan bagi Kristus, termasuk para sipir penjara dan sesama tahanan, yang kemudian membawa kabar baik tentang Yesus tersebut kepada kaum sebangsanya.

Pahlawan yang Gagah Berani

Diet Eman adalah seorang pemudi biasa yang pemalu asal Belanda. Ia sedang menikmati pekerjaan dan waktunya bersama keluarga serta teman-temannya ketika pasukan Jerman menyerbu negaranya pada tahun 1940. Di kemudian hari, Diet menulis, “Ketika bahaya sudah di depan mata, sebenarnya aku terdorong untuk bertindak seperti burung unta yang menyembunyikan kepalanya di dalam pasir.” Meski demikian, Diet merasa Allah memanggilnya untuk melawan penindasan Jerman, termasuk mempertaruhkan nyawanya dengan mencarikan tempat-tempat persembunyian bagi orang-orang Yahudi dan kalangan lain yang diburu oleh Nazi. Wanita muda yang sederhana ini menjelma menjadi pahlawan yang gagah berani bagi Allah.

Hati yang Bersyukur

Seneca, filsuf besar dari zaman Romawi kuno (4 sm–65 M), pernah dituduh melakukan perzinaan oleh Ratu Messalina. Senat menjatuhkan hukuman mati atas Seneca, tetapi Kaisar Claudius memilih membuangnya ke Pulau Korsika, kemungkinan karena Kaisar menduga tuduhan itu tidak benar. Penangguhan tersebut bisa jadi telah membentuk cara pandang Seneca tentang rasa syukur. Ia menulis: “para pembunuh, penindas, pencuri, pezina, perampok, manusia asusila, dan pengkhianat akan selalu ada, tetapi kejahatan yang lebih buruk daripada semua itu adalah sikap tidak tahu berterima kasih”

Kehendak Allah 

Kehendak Allah terkadang sulit untuk diikuti. Dia meminta kita melakukan hal-hal yang benar. Dia memanggil kita untuk menanggung kesulitan tanpa mengeluh; untuk mengasihi orang yang rasanya tidak pantas dikasihi; untuk mengindahkan suara hati yang melarang kita berbuat yang tidak benar; untuk mengambil langkah-langkah yang sebenarnya tidak ingin kita ambil. Jadi, sepanjang hari kita harus berkata kepada jiwa kita: “Dengarlah, hai jiwaku. Jadilah tenang dan lakukan apa yang Yesus ingin kamu lakukan.” 

Berbagi Harapan

Ketika Emma bercerita bagaimana Allah telah menolongnya melihat dirinya sendiri sebagai anak Allah yang terkasih, ia kerap menyelipkan ayat-ayat Alkitab ke dalam percakapan kami. Saya hampir tidak bisa membedakan kata-katanya sendiri dengan ayat-ayat Alkitab. Saat saya memujinya sebagai Alkitab berjalan, alisnya berkerut. Ia bukan sengaja mengutip ayat-ayat, tetapi karena membacanya setiap hari, hikmat Kitab Suci pun menjadi bagian dari kosa katanya sehari-hari. Ia bersukacita mengalami kehadiran Allah yang tidak berubah, sekaligus menikmati setiap kesempatan yang Dia berikan untuk membagikan kebenaran-Nya kepada orang lain. Namun, Emma bukanlah anak muda pertama yang dipakai Allah untuk menginspirasi orang lain agar membaca, menghafal, dan menerapkan Kitab Suci dengan sungguh-sungguh.

Para Penyembah yang Benar

Penulis Annie Dillard akhirnya berkesempatan mengunjungi gereja itu. Di bagian terdalam dari ruang bawah tanah gereja, ia masuk ke sebuah gua kecil yang disebut grotto. Lilin-lilin memenuhi ruang sempit itu dan lampu-lampu gantung menerangi sebuah sudut pada lantai. Di sanalah terdapat sebuah bintang perak dengan empat belas titik, menutupi sebagian kecil undakan di lantai marmer. Annie sedang berada di Gua Kelahiran di Betlehem—tempat yang menandai lokasi kelahiran Kristus menurut tradisi gereja. Akan tetapi, Annie tidak begitu terkesan, sembari menyadari bahwa Allah sesungguhnya jauh lebih besar dari tempat itu.

Labrador Pengingat Kasih

Pada tahun 2019, Cap Dashwood dan pendampingnya yang manis, seekor anjing labrador hitam bernama Chaela, berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa: mereka mencapai puncak gunung setiap hari selama 365 hari berturut-turut.

Dia Mengisi Kekosongan Kita

Psikolog Madeline Levine memperhatikan baju lengan panjang yang dipakai seorang gadis berusia lima belas tahun di hadapannya. Orang-orang yang pernah melukai diri sendiri biasa mengenakan model baju itu untuk menutupi tangan mereka yang memiliki bekas luka. Ketika gadis itu menyingsingkan lengan bajunya, Levine terkejut melihat kata “empty” (kosong) yang digoreskan si gadis dengan silet pada kulitnya. Meski sedih, Levine bersyukur anak remaja itu bersedia menerima pertolongan yang sangat dibutuhkannya.