Iman yang Tangguh
Bukit-bukit pasir yang menjulang tinggi di sepanjang pesisir utara Danau Perak membuat rumah-rumah di sekitarnya terancam ditenggelamkan oleh pasir yang terus bergerak. Meski sudah mencoba memindahkan gundukan pasir supaya rumah mereka tetap aman, warga hanya bisa pasrah menyaksikan rumah-rumah mereka yang bagus terkubur di depan mata. Ketika petugas setempat mengawasi pembersihan reruntuhan sebuah pondok baru-baru ini, ia menegaskan bahwa hal ini tak terhindarkan. Sekeras apa pun upaya pemilik rumah menghindari ancaman kerobohan, bukit pasir tidak akan pernah menjadi fondasi yang kuat bagi suatu bangunan.
Ketika Kasih Tak Berkesudahan
“Setiap kali Kakek mengajak saya ke pantai, ia selalu melepas arloji dan menyimpannya. Suatu hari saya bertanya, ‘Kenapa Kakek melakukan-nya?’” kenang Sandra.
Efek Awal yang Baru
Saat memasuki usia tiga puluh tahun, Bryony sedih karena masih bekerja di bagian penjualan yang tidak ia sukai. Ia merasa sudah waktunya berhenti menunda-nunda, dan mulai mencari karier baru. Sementara itu, di malam Tahun Baru, David memandangi bayangan dirinya di cermin dan berjanji tahun depan ia akan menurunkan berat badan. Lain lagi dengan James—ia menyadari satu bulan lagi berlalu tanpa keberhasilan mengendalikan emosinya yang meledak-ledak. Bulan depan, ia berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha lebih keras lagi.
Firman dan Tahun Baru
Michellan tumbuh besar di Filipina dengan menghadapi banyak tantangan, tetapi ia selalu senang dengan kata-kata dan menemukan penghiburan dengan menikmatinya. Pada suatu hari di bangku kuliah, ia membaca pasal pertama Injil Yohanes, dan “hatinya yang keras tergerak.” Ia merasa seolah-olah seseorang berkata, “Ya, kamu menyukai kata-kata, dan tahukah kamu? Ada Firman Kekal, Pribadi yang . . . dapat mengenyahkan kegelapan, sekarang dan sampai selama-lamanya. Firman yang telah menjadi manusia. Firman yang dapat mengasihimu.”
Satu Hari Lebih Dekat ke Natal
“Cepat sekali Natal lewat,” kata anak perempuan saya yang patah semangat. Saya mengerti perasaannya: hari-hari setelah Natal bisa terasa sangat menjemukan. Semua kado sudah dibuka dan semua hiasan sudah dilepas. Januari yang suram, dan bagi banyak orang, kebutuhan untuk menurunkan berat badan, telah menanti. Natal, dan keseruan saat menantikannya, tiba-tiba terasa begitu cepat berlalu.
Lebih Berharga Daripada Emas
Ketika pencari emas, Edward Jackson, berangkat ke California pada masa Demam Emas Besar di Amerika Serikat, catatan hariannya tertanggal 20 Mei 1849 berisi keluhan atas perjalanannya yang berat di atas pedati, suatu pengalaman yang sarat penyakit dan kematian. “Oh, jangan tinggalkan tulang-tulangku di sini,” tulisnya. “Jika mungkin, makamkan tulang-tulangku di kampung halamanku.” Pencari emas lain, John Walker, menulis, “Ini pertaruhan terbesar yang dapat ditempuh manusia . . . saya tidak menganjurkan siapa pun untuk ikut.”
Singa, Anak Domba, Juruselamat!
Ada dua patung singa yang gagah menjaga pintu masuk Perpustakaan Umum New York. Patung marmer itu berdiri gagah sejak perpustakaan itu diresmikan pada tahun 1911. Keduanya dinamai Leo Lenox dan Leo Astor, untuk menghormati para pendiri perpustakaan itu. Namun, selama masa Depresi Besar, wali kota Fiorello LaGuardia mengganti nama kedua patung itu dengan Fortitude (Ketabahan) dan Patience (Kesabaran), dua kebajikan yang ia anggap perlu diperlihatkan warga New York pada masa yang sulit itu. Sampai sekarang, kedua singa tersebut masih menyandang nama-nama tersebut.
Hikmat Besar
“Gembala membutuhkan hikmat yang besar dan seribu mata untuk memeriksa kondisi jiwa jemaat dari segala segi,” tulis Yohanes Krisostomus, seorang bapa gereja yang dikasihi. Tulisan tersebut merupakan bagian dari sebuah diskusi tentang peliknya usaha merawat orang lain secara rohani. Karena tidak mungkin memaksa orang untuk pulih, Krisostomus menekankan dibutuhkannya empati dan belas kasihan yang besar untuk dapat menjangkau hati orang lain.
Tangan Kanan Allah
Ketika membantu anjing saya yang sudah tua ke luar, saya melepas sebentar tali anjing saya yang lebih muda, Coach. Saat saya membungkuk mengambil talinya, Coach melihat kelinci dan langsung kabur, menyentak talinya dari pegangan saya sehingga jari manis saya terpuntir. Saya pun roboh dan menjerit kesakitan.