Category  |  Santapan Rohani

Saat Tak Sanggup Lagi Melangkah

Pada tahun 2006, ayah saya didiagnosa menderita penyakit syaraf yang membuatnya kehilangan ingatan, kemampuan berbicara, dan kendali atas gerak-gerik tubuhnya. Pada tahun 2011, beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur dan dirawat oleh ibu saya di rumah. Masa-masa awal dari penyakitnya menjadi pengalaman yang kelam. Saya merasa takut, karena saya tidak tahu bagaimana harus merawat orang sakit, dan saya mengkhawatirkan kondisi keuangan serta kesehatan ibu saya.

Allah Memulihkan Kerusakan Kita

Collin dan istrinya, Jordan, berkeliling di sebuah toko kerajinan guna mencari benda seni untuk dipajang di rumah mereka. Collin merasa sudah menemukan barang yang tepat dan memanggil sang istri untuk melihatnya. Pada sisi kanan pajangan berbahan keramik itu tertulis: Kasih Karunia. Namun, pada sisi kirinya, terdapat dua retakan yang cukup panjang. “Lho, barang ini rusak!” seru Jordan sembari mencari benda serupa yang tidak rusak dari rak. Akan tetapi, Collin berkata, “Bukan rusak. Justru itu intinya. Sebagai manusia, kita semua rusak, tetapi kemudian kasih karunia itu datang—itu intinya.” Mereka pun memutuskan membeli pajangan yang retak itu. Ketika mereka hendak membayarnya, petugas kasir sempat berseru, “Oh, tidak, ini rusak!” “Ya, begitu juga kita,” bisik Jordan. 

Diterima dan Diakui

Ketika masih kecil, Tenny pernah merasa tidak percaya diri. Ia mencari pengakuan dari ayahnya, tetapi tidak pernah menerimanya. Rasanya apa pun yang ia lakukan, baik di sekolah maupun di rumah, selalu ada yang kurang. Bahkan setelah ia dewasa, ketidakpercayaan diri itu terus ada. Ia kerap kali bertanya-tanya, sudah cukup baikkah aku?

Identitas Kita yang Sejati

Pertama-tama, lelaki itu memilih kotak peralatan. Ia sedang berada di sebuah toko peralatan memancing, dan keranjang belanjanya semakin penuh dengan benda-benda seperti kail, umpan, katrol, benang, dan pemberat. Terakhir, ia menambahkan umpan hidup dan memilih gagang serta kumparan baru. “Sudah pernah memancing sebelumnya?” tanya pemilik toko. Pria itu menjawab belum. “Ada baiknya membeli ini juga,” kata si pemilik, sambil menunjuk sebuah kotak P3K. Pria itu setuju lalu membayar belanjaannya. Ia pun pergi memancing hari itu, dan tidak berhasil mendapat seekor ikan pun—yang didapatnya justru luka robek di jarinya akibat terkena mata kail. 

Berdiam di dalam Allah

Saat tengah berjalan menuju mobil, Zander melepaskan diri dari tangan ibunya dan berlari kencang kembali ke pintu gereja. Ia tidak mau pulang! Ibunya mengejar dan dengan penuh kasih berusaha mendekap anaknya kembali supaya mereka bisa segera pulang. Ketika akhirnya sang ibu berhasil merangkul kembali bocah berusia empat tahun itu, Zander menangis tersedu-sedu dan menoleh ke gereja dengan tatapan sedih sambil mereka berjalan pergi.

Perkasa dan Penuh Kasih

Pada tahun 2020, gunung berapi Sangay di Ekuador meletus. Kantor berita BBC mengabarkan bahwa “kolom abunya yang berwarna gelap mencapai ketinggian lebih dari 12.000 meter.” Muntahan berupa abu dan debu vulkanik menyelimuti hingga empat provinsi (seluas kira-kira 800 kilometer persegi). Langit berubah gelap dan suram, dan udara menjadi pekat sehingga membuat napas sesak. Seorang petani bernama Feliciano Inga menggambarkan suasana yang mencekam itu kepada surat kabar El Comercio: “Kami tidak tahu dari mana semua debu ini berasal . . . . Kami melihat langit menjadi gelap dan kami pun takut.”

Tiada yang Dapat Memisahkan

Ketika ayah Pris, seorang pendeta, menjawab panggilan Allah untuk merintis pelayanan di sebuah pulau kecil di Indonesia, keluarga mereka harus tinggal di gubuk reyot bekas kandang ternak. Pris ingat bagaimana mereka sekeluarga merayakan Natal dengan duduk di lantai dan menyanyikan pujian sementara air hujan menetes menembus atap jerami. Namun, ayahnya mengingatkan, “Pris, hanya karena kita miskin bukan berarti Allah tidak mengasihi kita.”

Ciptaan Allah yang Menakjubkan

Ketika saya dan istri menikmati alam terbuka di musim semi dengan berjalan menyusuri Grand River di kampung halaman kami, perjalanan biasa itu berubah menjadi istimewa. Kami melihat beberapa “teman” lama di sisi sebatang pohon di sungai yang beriak—lima atau enam ekor kura-kura besar sedang berjemur di bawah sinar matahari. Sue dan saya tersenyum melihat reptil-reptil menakjubkan itu setelah selama berbulan-bulan kami tidak pernah melihatnya. Kami senang mereka kembali ke sana, dan kami merayakan momen sukacita dengan mensyukuri ciptaan Allah yang luar biasa.

Kabar Baik

Pada tahun 1941, ketika kekuasaan Hitler mulai meluas ke seluruh Eropa, novelis John Steinbeck diminta membantu upaya perlawanan yang sedang berlangsung. Ia tidak diminta untuk berperang atau mengunjungi pasukan di garis depan, melainkan untuk menulis sebuah cerita. Hasilnya adalah novel The Moon Is Down, yang bercerita tentang wilayah yang tadinya damai tetapi kemudian diserang oleh suatu rezim yang jahat. Novel tersebut diproduksi oleh percetakan bawah tanah dan disebarluaskan secara diam-diam ke negara-negara yang diduduki Nazi. Pesan yang ingin disampaikan oleh novel itu: Pasukan Sekutu akan datang, dan dengan mencontoh tokoh-tokoh dalam novel itu, para pembaca dapat membantu meraih kemerdekaan mereka. Melalui novel The Moon Is Down, Steinbeck membawa kabar baik kepada orang-orang di bawah cengkeraman Nazi—kabar bahwa pembebasan mereka sudah dekat.