Category  |  Santapan Rohani

Tentang Doa, Debu, dan Bintang

Lara dan Dave sangat ingin memiliki anak, tetapi dokter mengatakan mereka tidak akan bisa memilikinya. Lara bercerita kepada seorang teman: “Aku pun datang kepada Allah dan terus terang mencurahkan isi hatiku.” Setelah itu, ia dan Dave berbicara dengan pendeta mereka, yang memberi tahu mereka tentang adanya layanan adopsi di gereja. Setahun kemudian pasangan itu diberkati dengan seorang bayi laki-laki yang mereka adopsi.

Allah Menggendong Kita

Pada tahun 2019, badai Dorian menghantam kepulauan Bahama dengan hujan deras, angin kencang, dan banjir bandang. Itulah bencana alam terburuk sepanjang sejarah negara itu. Brent yang sedang berlindung di rumahnya bersama putra dewasanya yang menderita cerebral palsy telah memutuskan bahwa mereka harus meninggalkan rumah supaya selamat. Meski buta, Brent harus berusaha menyelamatkan putranya. Dengan hati-hati ia menggendong sang putra di pundaknya dan berjalan menembus air setinggi dagunya sampai mereka berdua tiba di tempat yang aman.  

Simfoni Terbaik

Ketika BBC Music Magazine meminta seratus lima puluh satu konduktor kenamaan dunia untuk mengisi daftar dua puluh karya simfoni terbaik yang pernah digubah, urutan yang teratas ditempati oleh Eroica, Simfoni No. 3 karya Beethoven. Karya dengan judul yang berarti “heroik” ini ditulis semasa pergolakan Revolusi Prancis. Namun, karya tersebut juga lahir dari pergumulan pribadi Beethoven di saat ia perlahan-lahan mulai kehilangan pendengarannya. Gubahan musiknya menampilkan perubahan ekstrem dalam emosi yang mengungkapkan apa artinya menjadi manusia yang tetap bertahan hidup di hadapan banyaknya tantangan. Melalui alunan musik yang berubah-ubah dari perasaan bahagia, kesedihan, hingga akhirnya kejayaan, Simfoni No. 3 karya Beethoven dipandang sebagai ungkapan penghargaan yang tak pernah usang bagi semangat hidup manusia. 

Mencari Pertolongan Allah

Selama lima tahun di penghujung abad ke-19, hama belalang menyerang Minnesota dan merusak tanaman pertanian. Para petani berusaha menjerat hewan-hewan itu dengan ter dan membakar lahan untuk memusnahkan telur-telurnya. Dalam keputusasaan dan terancam bahaya kelaparan, warga menyerukan agar dilakukan doa serentak di seluruh penjuru negara bagian untuk memohon pertolongan Allah. Gubernur pun menuruti seruan tersebut dan menetapkan tanggal 26 April sebagai hari doa bersama.

Iman Kristen yang Autentik

Bertahun-tahun lalu, saya melamar pekerjaan di sebuah organisasi Kristen dan disodori sederet aturan legalistik yang melarang orang menikmati alkohol, tembakau, dan bentuk-bentuk hiburan tertentu. Alasannya adalah, “Kami mengharapkan karyawan kami mempunyai perilaku yang Kristen.” Saya bisa menyetujui aturan-aturan tersebut karena saya memang tidak melakukan hal-hal tersebut, sekalipun sebagian besar alasan saya tidak berhubungan dengan iman. Namun, di sisi lain, saya berpikir, Mengapa tidak ada daftar yang melarang orang untuk bersikap sombong, tidak peduli, kasar, acuh tak acuh, dan terus-terusan mengeluh? Tidak ada yang menyinggung soal-soal itu.

Pernyataan Kuasa Allah

Suatu malam saat petir sabung-menyabung di langit, saya dan anak perempuan saya yang berumur enam tahun duduk di lantai menyaksikan pemandangan luar biasa itu melalui pintu kaca. Anak saya berulang kali berseru, “Wow! Tuhan itu hebat!” Saya merasakan hal yang sama. Kami sangat menyadari betapa kecilnya kami dan betapa berkuasanya Allah. Sebaris ayat dari kitab Ayub terlintas dalam benak saya, “Di manakah jalan ke tempat terang berpencar, ke tempat angin timur bertebar ke atas bumi?” (AYB. 38:24).

Penolakan yang Tegas

Ketika Franz Jägerstätter direkrut oleh rezim Nazi pada masa Perang Dunia II, ia sempat menyelesaikan pelatihan dasar militer tetapi menolak mengikuti kewajiban untuk mengucapkan janji setia kepada Adolf Hitler. Pihak militer mengizinkan Franz kembali ke kampung halamannya, tetapi kemudian mereka memanggilnya kembali kepada dinas aktif. Namun, setelah melihat ideologi Nazi dari dekat dan mengetahui tentang genosida yang dilakukan rezim itu terhadap orang-orang Yahudi, Jägerstätter memutuskan bahwa kesetiaan kepada Allah membuatnya tidak akan pernah bisa berperang untuk Nazi. Ia pun ditangkap dan dihukum mati dengan meninggalkan istri dan ketiga putrinya. 

Karya Pemulihan Allah

Salah satu lagu paling menyentuh dalam film musikal The Greatest Showman adalah “From Now On” (Mulai Saat Ini). Sang tokoh utama menyanyikannya setelah ia menyesali perbuatannya yang sering melukai hati keluarga dan teman-temannya. Lagu itu bercerita tentang sukacita yang dialami saat pulang ke rumah dan mendapati bahwa apa yang selama ini dimiliki ternyata sudah lebih dari cukup.

Prasangka dan Pengampunan

Setelah mendengar khotbah tentang mengoreksi ketidakadilan, seorang jemaat gereja menghampiri gembalanya sambil menangis dan memohon pengampunan. Ia mengaku pernah menolak memilih pendeta berkulit hitam itu menjadi gembala di gereja mereka karena ia memiliki prasangka terhadap kaum kulit hitam. “Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak ingin prasangka dan sifat rasialis yang buruk ini merasuk dalam kehidupan anak-anak saya. Saya tidak memilih Anda dahulu, dan saya keliru.” Air mata dan pengakuannya disambut dengan air mata dan pengampunan dari sang pendeta. Seminggu kemudian, seluruh gereja bersukacita mendengar pria itu bersaksi tentang bagaimana Allah telah bekerja di dalam hatinya.