Category  |  Santapan Rohani

Keajaiban yang Tidak Terlihat

Pada usia senjanya, ingatan Ny. Goodrich sudah mulai memudar seiring dengan kenangan akan hidupnya yang sarat dengan kesulitan sekaligus kebaikan. Sembari duduk di depan jendela yang terbuka ke arah Teluk Grand Traverse, Michigan, beliau meraih buku catatannya. Dalam buku itu ia menuliskan kata-kata yang sebentar lagi tidak akan ia kenali sebagai tulisannya sendiri: “Saat ini aku sedang duduk di kursi favoritku, dengan kaki bertumpu pada ambang jendela dan hati yang begitu gembira. Gelombang laut yang berkilauan terus bergerak, mengalir entah ke mana, aku tidak tahu. Namun demikian, terima kasih Bapaku di surga, atas anugerah-Mu yang tak terhingga banyaknya dan kasih-Mu yang tidak berkesudahan! Aku selalu merasa takjub—bagaimana mungkin aku begitu mengasihi Pribadi yang tak dapat kulihat.”

Siapakah Diri Anda?

Suatu hari, pemimpin rapat daring kami menyapa, “Selamat Pagi!” Saya membalas sapaannya, tetapi pandangan saya tidak sedang ke arah beliau. Pikiran saya justru tertuju kepada tampilan wajah saya di layar komputer. Inikah penampilanku? Saya lalu memandangi wajah-wajah lainnya yang hadir dalam rapat melalui video tersebut. Saya dapat mengenali mereka semua. Kemudian saya kembali memperhatikan penampilan saya. Rasanya aku harus menurunkan berat badanku . . . dan mencukur rambut juga.

Bertumbuh Menuju Kedewasaan

Belum lama ini sebuah jajak pendapat meminta para responden untuk menyebutkan pada umur berapa mereka meyakini diri mereka sudah dewasa. Mereka yang menganggap diri sudah dewasa menyebutkan perilaku-perilaku tertentu sebagai bukti status tersebut. Contoh perilaku seorang “dewasa” yang paling sering disebut adalah memiliki anggaran dan membeli rumah sendiri. Contoh-contoh perilaku lain yang diberikan sebagai jawaban meliputi kebiasaan memasak sendiri setiap malam, rutin memeriksakan kesehatan ke dokter, hingga jawaban-jawaban jenaka seperti hanya menyantap camilan untuk makan malam atau memilih tinggal di rumah saja dan tidak ke mana-mana pada malam Minggu.

Allah yang Melepaskan

Setelah mendapat pengaduan dari warga, seorang petugas polisi memacu mobilnya menyusuri rel kereta sampai lampu sorot mobilnya menerangi sebuah kendaraan yang terjebak persis di tengah rel tersebut. Kamera di dasbor mobil polisi menangkap adegan mengerikan yang memperlihatkan serangkaian kereta meluncur cepat ke arah kendaraan tersebut. “Kereta itu melaju kencang, 80 sampai 130 km per jam,” kata sang petugas. Tanpa pikir panjang, polisi itu pun menarik keluar seorang laki-laki yang pingsan dari dalam mobil, hanya beberapa detik sebelum kereta menghantam kendaraan itu.

Tukang Bangunan yang Bijaksana

Sojourner Truth terlahir dengan nama Isabella Baumfree dalam keluarga budak pada tahun 1797 di Esopus, New York. Meski hampir semua anaknya dijual sebagai budak, ia sendiri berhasil melarikan diri bersama seorang anak perempuannya dan meraih kebebasan pada tahun 1826. Mereka kemudian tinggal bersama sebuah keluarga yang menebus biaya pembebasannya. Dengan tekad kuat untuk tidak membiarkan ketidakadilan memisahkan keluarganya, Isabella menempuh upaya hukum untuk mendapatkan kembali anak laki-lakinya yang bernama Peter. Keberhasilannya merupakan pencapaian luar biasa bagi seorang wanita Afrika-Amerika pada masa itu. Karena ia menyadari tidak mungkin membesarkan anak-anaknya tanpa pertolongan Allah, ia pun menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan mengubah namanya menjadi Sojourner Truth (Pengembara Kebenaran) untuk menunjukkan bahwa hidupnya dibangun atas dasar kebenaran Allah.

Diri Kita yang Sebenarnya

Dalam album foto lama milik orangtua saya terdapat foto seorang bocah laki-laki. Wajahnya bulat dengan kulit berbintik-bintik dan rambut pirang lurus. Ia menyukai film kartun, tidak suka alpukat, dan hanya punya satu buah kaset album musik dari grup ABBA.

Menanti dalam Pengharapan

Rogelio melayani kami di sepanjang masa liburan keluarga kami. Suatu kali ia bercerita bagaimana ia sangat bersyukur kepada Allah karena menganugerahkan seorang istri yang beriman teguh seperti Kaly. Setelah anak pertama mereka lahir, Allah memberi mereka kesempatan untuk membantu merawat keponakan mereka yang berkebutuhan khusus. Tak lama kemudian, ibu mertua Rogelio juga membutuhkan perawatan total di rumah.

Keadilan yang Sempurna

Pada tahun 1983, tiga remaja ditangkap atas tuduhan membunuh seorang anak berusia empat belas tahun. Laporan menyebutkan bahwa korban ditembak karena “jaket [atletik] yang dikenakannya.” Ketiga tersangka itu dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, setelah tiga puluh enam tahun mereka mendekam di balik jeruji besi, muncul bukti yang menyatakan bahwa mereka tidak bersalah dan orang lain sebagai pelakunya. Hakim pun menyatakan permintaan maafnya lalu membebaskan ketiga orang itu dari segala hukuman.

Merataplah!

Saya tersimpuh sambil menangis tersedu-sedu. “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak memelihara aku?” saya berseru. Ini terjadi ketika dunia sedang dilanda pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Sudah hampir satu bulan saya diberhentikan dari pekerjaan, dan tampaknya ada masalah dalam pengajuan saya untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Jadi, saat itu saya belum menerima uang sepeser pun, dan tunjangan yang diharapkan tidak juga cair. Jauh di lubuk hati saya, saya yakin Allah akan membereskan semuanya. Saya yakin Dia benar-benar mengasihi dan memelihara saya, tetapi pada saat itu, saya merasa terabaikan.