Buku Cerita Tuhan
Pada suatu hari yang indah, saya keluar untuk berjalan-jalan, dan di tengah jalan saya bertemu dengan seorang tetangga baru. Anak laki-laki itu menghentikan saya dan memperkenalkan dirinya: “Namaku Genesis, dan umurku enam setengah tahun.”
Setiap Napas
Ketika Tee Unn terserang penyakit autoimun langka yang melemahkan seluruh otot tubuhnya dan nyaris merenggut nyawanya, ia menyadari bahwa masih bisa bernapas adalah anugerah. Selama lebih dari seminggu, sebuah mesin harus memompa udara ke dalam paru-parunya beberapa detik sekali, dan itulah bagian menyakitkan dari perawatan yang harus dijalaninya.
Keluar dari Kemiskinan
Warren Buffett bersama Bill dan Melinda Gates mencetak sejarah ketika meluncurkan sebuah gerakan donasi yang disebut The Giving Pledge, dengan berjanji menyumbangkan setengah dari harta kekayaan mereka. Pada tahun 2018, terkumpul sumbangan sebesar 92 miliar dolar AS. Karena penasaran, psikolog Paul Piff pun meneliti tentang pola memberi, dan menemukan bahwa orang miskin cenderung memberi 44 persen lebih banyak ketimbang orang kaya. Mereka yang menyadari kemiskinannya sering tergerak untuk lebih bermurah hati.
Lakukanlah
Suatu hari, ketika membantu anak laki-laki saya mengerjakan tugas matematika, saya memperhatikan ia agak bosan mengerjakan beberapa soal dengan konsep yang sama. “Aku sudah bisa, Ayah!” ia bersikeras, sambil berharap saya akan membiarkannya tidak menyelesaikan seluruh tugasnya. Saya pun pelan-pelan menjelaskan kepadanya bahwa sebuah konsep akan tetap menjadi konsep sampai kita belajar melakukannya.
Perenungan di Tengah Salju
Over the Rhine adalah grup musik yang dinamai menurut sebuah kawasan pemukiman buruh di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Mereka biasa menyanyikan lagu-lagu tentang perubahan yang terjadi setiap tahun pada kota itu. “Setiap tahun ketika salju turun untuk pertama kalinya, kami merasa seperti sesuatu yang suci sedang terjadi,” ujar Linford Detweiler, salah seorang pendiri grup musik tersebut. “Rasanya seperti permulaan yang baru. Kesibukan kota menjadi berkurang dan suasananya pun lebih tenang.”
Alasan Penulisan
“Tuhan adalah kota bentengku . . . Kami meninggalkan kamp sambil menyanyikannya.” Tanggal 7 September 1943, Etty Hillesum menuliskan kata-kata tersebut pada sehelai kartu pos dan melemparkannya dari atas kereta api. Itulah catatan terakhir darinya. Tanggal 30 November 1943, ia mati dibunuh di Auschwitz. Di kemudian hari, catatan harian Hillesum tentang pengalamannya di kamp konsentrasi diterjemahkan dan diterbitkan. Catatan tersebut merangkum pengalamannya melihat kengerian dari pendudukan Nazi berpadu dengan keindahan dunia ciptaan Allah. Tulisan Hillesum yang telah diterjemahkan ke dalam enam puluh tujuh bahasa itu menjadi berkat bagi setiap pembacanya yang mempercayai adanya kebaikan di tengah segala kejahatan yang merebak.
Memohon kepada Allah
Pada suatu pagi, doa bersama keluarga ditutup dengan pengumuman yang mengejutkan. Segera setelah Ayah mengucapkan, “Amin,” Kaitlyn, anaknya yang berumur lima tahun, berkata, “Aku tadi berdoa untuk kakak, karena kakak tidak tutup mata waktu kita berdoa.”
Tidak Mencampuri Persoalan Orang
Bertahun-tahun lalu, saya sedang berjalan-jalan menyusuri jalan setapak ke atas gunung bersama Josh, anak lelaki saya, ketika kami melihat kepulan debu di udara. Pelan-pelan kami mendatangi sumber kepulan itu dan menemukan seekor musang sedang membuat sarangnya di dalam tanah. Kepala dan pundak musang itu berada di dalam lubang, dengan kedua kaki depan menggali tanah dengan penuh semangat dan kedua kaki belakang menghamburkan tanah ke segala arah. Karena terlalu asyik dengan pekerjaannya, musang itu tidak mendengar kedatangan kami.
Siapa Tahu?
Menurut cerita rakyat Tiongkok, ketika Sai Weng kehilangan salah seekor kuda yang sangat disayanginya, seorang tetangga mengungkapkan keprihatinan atas kehilangannya itu. Namun, Sai Weng justru tidak begitu peduli. Katanya, “Siapa tahu itu justru baik buatku?” Yang mengejutkan, kuda yang hilang itu kembali dengan disertai seekor kuda lain. Ketika si tetangga memberikan selamat kepadanya, Sai Weng kembali berkata, “Siapa tahu itu justru buruk bagiku?” Di kemudian hari, anak lelaki Sai Weng mengalami patah kaki karena terjatuh ketika menunggangi kuda barunya. Peristiwa itu mungkin dianggap buruk, sampai suatu hari sepasukan tentara datang ke desa mereka dengan maksud merekrut semua lelaki yang berbadan sehat dan kuat untuk ikut berperang. Karena patah kaki, anak lelaki Sai Weng tidak ikut direkrut, dan terluput dari kemungkinan tewas di medan perang.