Selaras dengan Allah
Suatu malam, saya masih terjaga dengan rasa cemas, berjalan mondar-mandir dan mencoba berdoa. Jujur saja, sikap doa saya saat itu bukan sedang berserah kepada Allah, melainkan marah dan mempertanyakan Dia. Tak kunjung lega, saya pun duduk dan memandang ke luar jendela ke arah langit malam. Tiba-tiba saja mata saya tertuju kepada Sabuk Orion—tiga bintang dalam posisi berjajar lurus sempurna yang…
Angsa yang memilukan
Mengapa ada bola di lapangan parkir? tanya saya dalam hati. Namun, setelah lebih dekat, saya baru menyadari bahwa benda keabu-abuan itu bukanlah bola melainkan seekor angsa Kanada berkepala hitam yang keadaannya sangat memilukan.
Persediaan yang berlimpah
Pada pukul dua dini hari, seorang peternak teripang bernama Nadia berjalan menuju suatu kandang di laut dangkal dekat desanya di Madagaskar untuk mengambil “hasil panennya.” Meski saat itu dini hari, ia tidak peduli. “Sebelum beternak, hidup saya sangat susah,” katanya. “Saya tidak punya penghasilan sama sekali.” Sekarang, sebagai anggota sebuah program perlindungan laut bernama Velondriake, yang berarti “hidup bersama laut,” penghasilan Nadia semakin bertambah dan stabil. “Kami bersyukur kepada Tuhan untuk proyek ini,” ia menambahkan.
Berteman Lagi
Suatu hari seorang ibu dan putrinya yang masih kecil duduk di dalam gereja. Pada kebaktian hari itu, dibuka kesempatan bagi jemaat yang rindu menerima pengampunan Allah untuk maju ke depan. Setiap kali ada orang yang maju ke depan, si gadis kecil bertepuk tangan. “Maafkan saya,” kata sang ibu kepada pemimpin gereja. “Saya menjelaskan kepada putri saya bahwa pertobatan membuat kita berteman lagi dengan Tuhan. Karena itu, setiap kali ada yang maju, ia bertepuk tangan dengan senang.”
Revolusi Bernyanyi
Faktor apa yang bisa memicu bangkitnya revolusi? Senjata? Bom? Perang gerilya? Di Estonia pada akhir dekade 1980-an, lagulah pemicunya. Setelah berdekade-dekade warga Estonia hidup di bawah pendudukan Soviet, muncul pergerakan yang dimulai dengan menyanyikan serangkaian lagu-lagu patriotik. Lagu-lagu tersebut melahirkan “Revolusi Bernyanyi,” yang kemudian memainkan peran kunci dalam memulihkan kemerdekaan Estonia pada tahun 1991.
Prediksi yang Salah
Pada tengah hari tanggal 21 September 1938, seorang ahli meteorologi muda memperingatkan Badan Meteorologi AS tentang badai topan yang mengarah ke utara menuju wilayah New England. Namun, kepala lembaga itu mencemooh prediksi Charles Pierce. Baginya tidak mungkin badai tropis akan bergerak hingga sejauh itu ke arah utara.
Merasa Dipedulikan
Debbie, pemilik sebuah perusahaan jasa pembersihan rumah, selalu mencari klien-klien baru untuk memperbesar usahanya. Suatu kali, wanita yang dihubunginya menanggapi tawarannya dengan berkata, “Saya tidak mampu membayar jasa pembersihan rumah saat ini, karena saya sedang menjalani perawatan kanker.” Seketika itu juga Debbie memutuskan bahwa tidak akan ada wanita yang tidak bisa menikmati jasa pembersihan rumah karena sedang menjalani perawatan kanker. Sebaliknya, mereka akan ditawari jasa pembersihan rumah secara cuma-cuma. Karena itu, pada tahun 2005, Debbie mendirikan organisasi nirlaba untuk membantu perusahaan-perusahaan yang ingin menyumbangkan jasa pembersihan rumah bagi para wanita yang sedang berjuang melawan kanker. Salah seorang wanita yang dilayani merasa mendapatkan kembali rasa percaya dirinya ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah bersih. Ia berkata, “Untuk pertama kalinya, saya benar-benar yakin saya bisa menang atas kanker.”
Sanggup Menolong
Joe mengambil cuti delapan minggu dari pekerjaannya sebagai pekerja sosial di sebuah gereja di kota New York, tetapi bukan untuk berlibur. Kesempatan itu digunakannya, menurut kata-katanya sendiri, untuk “merasakan kembali pengalaman tinggal bersama para tunawisma, menjadi salah satu dari mereka, mengingat bagaimana rasanya lapar, lelah, dan terabaikan.” Kehidupan di jalanan tersebut pernah dialami Joe sembilan tahun sebelumnya, sewaktu ia tiba dari Pittsburgh tanpa pekerjaan dan tempat tinggal. Tiga belas hari lamanya ia menggelandang di jalan, kurang makan dan kurang tidur. Namun, itulah cara Allah menyiapkan dirinya untuk melayani orang-orang yang berkekurangan selama puluhan tahun.
Lapar akan Allah
Seseorang yang baru percaya kepada Yesus sangat rindu membaca Alkitab. Sayangnya, ia telah kehilangan penglihatan dan kedua tangannya dalam sebuah ledakan bom. Kemudian, ia mendengar tentang seorang wanita yang membaca huruf Braille dengan bibirnya dan ingin mencoba cara tersebut. Akan tetapi, ia mendapati ternyata titik saraf di bibirnya juga sudah rusak. Namun, ia sangat bersukacita ketika mengetahui bahwa ia dapat merasakan huruf-huruf Braille dengan lidahnya! Akhirnya, ia menemukan cara untuk membaca dan menikmati Kitab Suci.