Category  |  Santapan Rohani

Mengapa Saya?

Buku berjudul The Book of Odds berisi kumpulan berbagai kejadian langka yang menimpa satu dari sekian banyak orang. Catatan menyatakan bahwa satu di antara sejuta orang pernah disambar petir. Satu dari 25.000 orang mengalami gangguan kesehatan yang disebut “sindrom patah hati” yang diakibatkan oleh peristiwa guncangan atau kehilangan yang besar. Pengalaman-pengalaman tidak masuk akal yang dicatat dalam buku itu menyimpan pertanyaan yang tidak terjawab: Bagaimana jika kita menjadi salah satu yang mengalaminya?

Lebih Manis dari Madu

Topik yang dibawakannya adalah tentang ketegangan antarras. Namun, pembicaranya tetap tenang dan sanggup menguasai diri. Berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang, ia berbicara dengan berani—tetapi dengan kata-kata yang menunjukkan kasih, kerendahan hati, kebaikan, bahkan humor. Tidak butuh waktu lama untuk membuat hadirin yang tegang menjadi rileks, bahkan ikut tertawa bersama si pembicara tentang dilema yang mereka semua hadapi: bagaimana menyelesaikan isu panas dengan kepala dingin melalui perasaan dan perkataan yang menyejukkan. Dengan kata lain, bagaimana menghadapi topik yang panas dengan kasih yang mendinginkan.  

Mengenang

Pada momen Memorial Day (Hari Pahlawan di Amerika Serikat), saya teringat kepada para veteran militer, tetapi terutama kepada ayah dan paman saya yang pernah berjuang membela negara di Perang Dunia ke-2. Mereka berdua pulang dengan selamat dari medan perang, tetapi ada ratusan ribu keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka demi negara. Jika ditanya, ayah saya dan sebagian besar prajurit pada masa itu pasti berkata bahwa mereka rela menyerahkan nyawa demi melindungi orang-orang yang mereka kasihi dan membela apa yang mereka yakini sebagai hal yang benar.  

Meja untuk Mengobrol

Kesepian adalah salah satu ancaman terbesar terhadap kesejahteraan kita, mempengaruhi kesehatan lewat perilaku kita di media sosial, makanan yang kita konsumsi, dan hal-hal sejenisnya. Suatu penelitian menunjukkan bahwa hampir dua pertiga orang—tanpa memandang usia atau jenis kelamin—pernah merasa kesepian setidaknya selama beberapa waktu tertentu. Sebuah pasar swalayan di Inggris telah menciptakan “meja untuk mengobrol” di kafe-kafe dalam toko mereka sebagai upaya meningkatkan hubungan antarmanusia. Mereka yang ingin berinteraksi dengan orang lain hanya perlu duduk di seputar meja yang dirancang bagi maksud itu, untuk bergabung dengan orang lain atau menunjukkan kemauan untuk mengobrol. Obrolan yang kemudian terjalin di sana membuat orang-orang yang terlibat merasa memiliki teman dan komunitas.

Para Penjaga Terang

Orang-orang menamainya “Para Penjaga Terang.”

Bawalah Air Mata Anda kepada Allah

Musim panas lalu, seekor ikan paus pembunuh bernama Talequah melahirkan. Karena paus pembunuh termasuk spesies yang terancam punah, bayi paus itu memberikan harapan bagi kelangsungan hidup mereka. Akan tetapi, bayi tersebut ternyata hanya bertahan hidup kurang dari satu jam. Banyak orang di seluruh dunia menyaksikan Talequah menunjukkan kesedihannya dengan mendorong-dorong anaknya yang sudah mati itu di Samudra Pasifik yang dingin selama tujuh belas hari sebelum akhirnya melepaskannya.

Malaikat Pisau

Ketika kejahatan bersenjata pisau sedang marak di Inggris, Pusat Pertukangan Besi di sana mendapat ide segar. Bekerja sama dengan polisi setempat, lembaga itu membuat dan menempatkan dua ribu kotak pembuangan pisau di seluruh negeri dan memulai kampanye penghapusan hukuman. Akhirnya, seratus ribu bilah pisau terkumpul, dengan beberapa di antaranya masih memiliki noda bekas darah. Pisau-pisau tersebut kemudian dikirim ke seniman Alfie Bradley, yang kemudian menumpulkan pisau-pisau itu, mengukir beberapa nama anak muda yang menjadi korban kejahatan akibat pisau, ditambah pesan penyesalan dari para bekas pelaku kejahatan. Seluruh senjata itu kemudian dilas untuk membuat Malaikat Pisau—patung malaikat dari besi pisau setinggi delapan setengah meter dengan sayap baja berkilauan.

Yesus yang Tersenyum

Seandainya Anda bisa berperan menjadi Yesus dalam sebuah film, bagaimana cara Anda menghayati peran itu? Tantangan itulah yang dialami Bruce Marchiano, pemeran Yesus dalam film Matthew keluaran Visual Bible pada tahun 1993. Karena menyadari bahwa jutaan penonton akan mempunyai pemikiran tentang sosok Yesus lewat penampilannya dalam film itu, Bruce pun merasa sangat dibebani untuk memberikan gambaran yang “benar” tentang Yesus. Ia lantas berlutut dan berdoa memohon kepada Yesus untuk—ya, untuk Yesus.

Pilihan yang Menentukan

Tanpa sinyal telepon seluler dan peta jalan, kami menempuh perjalanan hanya dengan mengandalkan ingatan. Lebih dari satu jam kemudian, akhirnya kami dapat keluar dari hutan dan sampai di tempat parkir. Gara-gara melewatkan belokan yang seharusnya bisa memperpendek jarak hingga hampir satu kilometer, kami justru mengambil jalan yang jauh lebih panjang.