Category  |  Santapan Rohani

Keterampilan Luar Biasa

Pemimpin kelompok paduan suara di kampus kami dapat mengarahkan sekaligus mengiringi nyanyian kami dengan permainan piano. Ia sangat piawai menyeimbangkan kedua tanggung jawab itu. Di akhir suatu konser, ia terlihat sangat lelah, maka saya pun bertanya kepadanya apakah semua baik-baik saja. Ia menjawab, “Aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.” Lalu ia menjelaskan, “Nada piano yang kumainkan tadi begitu sumbang sampai-sampai di sepanjang konser aku harus memainkan dua kunci berbeda dengan masing-masing tanganku!” Saya sangat terkejut melihat keterampilannya yang luar biasa itu, sekaligus kagum kepada Tuhan yang menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal tersebut.

Sudah Dibayar Lunas

“Apa yang kau alami?” tanya Zeal, seorang pengusaha Nigeria, sambil membungkukkan badannya di atas salah satu ranjang rumah sakit di Lagos. “Luka tembak,” jawab si pemuda yang pahanya diperban. Meski sudah cukup sehat untuk kembali ke rumah, pemuda itu tidak bisa pulang sebelum ia menyelesaikan tagihan rumah sakit—kebijakan yang diberlakukan di banyak rumah sakit pemerintah di wilayah tersebut. Setelah berkonsultasi dengan seorang pekerja sosial, Zeal diam-diam menanggung pembayaran tagihan tersebut melalui lembaga amal yang pernah ia dirikan sebagai wujud nyata dari imannya. Ia berharap orang-orang yang telah menerima berkat kebebasan itu kelak akan memberkati orang lain juga.

Lebih Baik Daripada Hidup

Meskipun Mary mengasihi Tuhan Yesus, tetapi jalan hidupnya sangat sulit. Dua anak lelakinya sudah meninggal dunia, begitu juga dengan kedua cucu lelakinya yang sama-sama menjadi korban penembakan. Mary sendiri menderita stroke yang membuat bagian tubuh sebelah kirinya lumpuh. Namun, begitu bisa berdiri dan berjalan lagi, ia langsung pergi beribadah di gereja dan menyerukan puji-pujian bagi Allah, seperti yang biasa dilakukannya. Meski pelafalannya sudah tidak lancar, dari mulutnya masih keluar kata-kata seperti, “Aku mengasihi Yesus sepenuh jiwaku; terpujilah nama-Nya!”

Datang Bertubi-tubi

Anda mungkin tahu bagaimana rasanya. Tagihan demi tagihan datang setelah Anda menjalani prosedur medis—dari dokter anestesi, dokter bedah, laboratorium, fasilitas medis lain. Jason pernah mengalami hal ini setelah menjalani suatu operasi darurat. Ia mengeluh, “Kami masih berutang ribuan dolar, padahal sebagian sudah ditanggung oleh asuransi. Kalau saja kami bisa melunasi semua tagihan ini, hidup kami pasti lebih baik dan saya akan bahagia! Namun, sekarang rasanya masalah datang begitu bertubi-tubi.”

Memakai Setiap Kesempatan

Pernah menangkap naga? Saya belum, sampai anak lelaki saya berhasil membujuk saya mengunduh sebuah gim di telepon genggam saya. Gim itu menampilkan peta digital yang mirip dengan dunia nyata sehingga kita bisa menangkap makhluk-makhluk berwarna-warni di sekitar kita.

Dia Tahu Semuanya

Kami memelihara Finn, seekor ikan cupang hias, di rumah kami selama dua tahun. Anak perempuan saya kerap membungkukkan badan di atas akuarium dan mengajaknya ngobrol setelah memberinya makan. Ketika ada topik tentang hewan peliharaan di taman kanak-kanaknya, ia dengan bangga bercerita tentang Finn. Pada suatu hari, Finn mati, dan putri saya sedih sekali.

Dihancurkan untuk Dipakai Allah

Saya bertemu dengan seorang pria setiap Kamis setelah istrinya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Kadang ia datang membawa pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab; kadang dengan kenangan-kenangan yang ingin dihidupkannya kembali. Seiring waktu, ia bisa menerima bahwa meskipun kecelakaan itu adalah akibat dari kehancuran dalam dunia ini, Allah sanggup bekerja di tengah keadaan tersebut. Beberapa tahun kemudian, ia pun mengajar kelas pembinaan di gereja kami tentang kedukaan dan cara menjalani dukacita dengan baik. Tak lama kemudian, ia menjadi sosok yang selalu dicari untuk membimbing orang-orang yang sedang kehilangan orang yang mereka kasihi. Adakalanya ketika kita merasa tidak mempunyai apa pun yang bisa kita bagikan kepada orang lain, Allah mengambil perasaan “tidak cukup” itu dan mengubahnya menjadi “lebih dari cukup.”

Dalam Penjagaan Allah

Cucu kecil kami melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa, tetapi kemudian berbalik dengan sebuah pertanyaan: “Mengapa Nenek masih berdiri di depan pintu dan melihat terus sampai kami pergi?” Saya tersenyum, karena itu pertanyaan yang “lucu” dari anak sekecil dirinya. Namun, melihat bahwa ia benar-benar bingung, saya mencoba memberikan jawaban yang baik. “Itu yang disebut sopan santun,” kata saya. “Mengantarkanmu sampai depan pintu dan melihat sampai kamu pergi menunjukkan Nenek peduli kepadamu.” Cucu saya mencerna jawaban itu, tetapi wajahnya masih tampak bingung. Jadi, saya mencoba menyampaikannya dengan lebih sederhana. “Nenek memperhatikanmu,” kata saya, “karena Nenek sayang kepadamu. Saat melihat mobilmu pergi, Nenek tahu kamu berangkat pulang dengan aman.” Cucu saya tersenyum dan memeluk saya dengan hangat. Akhirnya, ia mengerti.

Ibadah yang Murni

Jose menggembalakan sebuah gereja yang terkenal karena karya dan pementasan teaternya. Apa yang mereka kerjakan itu memang sangat baik, tetapi Jose khawatir segala kesibukan itu telah membuat gereja menjadi ajang bisnis. Ia bertanya-tanya apakah gerejanya bertumbuh karena alasan-alasan yang benar atau justru karena kegiatannya? Untuk mencari tahu, Jose lantas meniadakan semua kegiatan ekstra dari gerejanya selama satu tahun. Gereja hanya akan berfokus menjadi bait Allah yang hidup, tempat jemaat beribadah kepada-Nya.