Tak Terbayangkan
Bart Millard adalah pencipta “I Can Only Imagine” (Tak Terbayangkan), lagu rohani yang populer pada tahun 2001. Lagu tersebut menggambarkan betapa menakjubkannya berada di hadirat Kristus di surga kelak. Lirik lagunya menghibur kami sekeluarga ketika setahun kemudian putri kami, Melissa, yang berusia tujuh belas tahun, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kami pun membayangkan bagaimana perasaan Melissa saat berada di hadirat Allah.
Senantiasa Menyertai
Pada perhelatan Piala Dunia 2018, penyerang tim nasional Kolombia Radamel Falcao membobol gawang Polandia pada menit ke-17—sebuah gol yang menentukan kemenangan mereka. Gol ketiga puluh Falcao di kancah internasional itu membuatnya tercatat sebagai pemain Kolombia yang paling banyak dalam penampilan bersama tim nasional.
Berbeda Pendapat dengan Kasih
Ketika perdebatan sengit pecah menyusul diberlakukannya suatu undang-undang yang kontroversial di Singapura, umat Tuhan pun terbelah dua. Pihak yang satu menyebut pihak lawannya “berpikiran sempit” atau sebaliknya, mengkompromikan iman.
Tikus yang Mengaum
Beberapa tahun lalu, saya berkemah bersama anak-anak lelaki saya selama beberapa hari di kawasan hutan Selway-Bitterroot di Idaho Utara, AS. Daerah ini merupakan habitat beruang cokelat, tetapi kami membawa semprotan pengusir beruang dan menjaga area perkemahan kami bersih, sehingga merasa cukup aman dari kemungkinan didatangi oleh beruang.
Ketika Hidup Terasa Berat
Karena lelah fisik, mental, dan emosional, saya memilih meringkuk di kursi malas. Kami sekeluarga telah mengikuti pimpinan Tuhan dan pindah dari California ke Wisconsin. Setibanya kami di sana, mobil kami rusak sehingga kami tidak punya kendaraan selama dua bulan. Sementara itu, mobilitas suami saya yang terbatas setelah menjalani operasi punggung dan sakit kronis yang saya derita ternyata menyulitkan kami membongkar kembali barang-barang pindahan. Kami pun menemukan masalah pada rumah kuno yang akan kami tempati, yang memakan biaya cukup tinggi. Anjing kami yang sudah tua juga memiliki masalah kesehatan. Meskipun anak anjing kami yang baru membawa kegembiraan yang sangat besar, tetapi membesarkan anak anjing yang sedang lincah-lincahnya tidaklah semudah yang kami bayangkan. Saya mulai mengeluh. Bagaimana saya bisa memiliki iman yang tak tergoyahkan, sementara jalan yang harus saya lewati begitu sulit, terjal, dan berliku?
Dibebaskan dari Kurungan
Saat sedang berjalan-jalan santai, penulis Martin Laird sering bertemu dengan seorang pria yang membawa empat ekor anjing Kerry Blue Terrier. Tiga anjingnya berlari-lari liar di padang terbuka, tetapi yang seekor lagi tidak pernah jauh-jauh dari pemiliknya dan hanya berputar-putar saja. Ketika Laird bertanya tentang perilaku janggal tersebut, pemiliknya menjelaskan bahwa anjing yang satu itu adalah anjing yang diadopsi dari penampungan, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya terkurung dalam kandang. Setelah bebas, anjing Terrier itu tetap berjalan berputar-putar, seolah-olah masih berada dalam kandang yang tertutup.
Keajaiban Salju Putih
Pada abad ke-17, Sir Isaac Newton menggunakan sebuah prisma untuk mempelajari bagaimana cahaya membantu kita melihat bermacam-macam warna. Ia menemukan bahwa ketika cahaya melewati suatu objek, objek itu terlihat seperti memiliki warna tertentu. Sebutir kristal es terlihat tembus cahaya, dan salju terbentuk dari banyak kristal es yang melebur menjadi satu. Ketika cahaya melewati kristal-kristal yang menyatu itu, salju pun terlihat berwarna putih.
Tetangga Dekat
Seperti juga banyak tempat lain, lingkungan kediaman kami menggunakan situs web untuk membantu warga terhubung langsung dengan satu sama lain. Warga lingkungan kami saling memperingatkan manakala ada penampakan singa gunung yang berkeliaran, membagikan perintah evakuasi karena kebakaran hutan, atau menawarkan bantuan menjaga anak bila dibutuhkan. Situs web tersebut bahkan terbukti berguna untuk mencari hewan peliharaan yang hilang. Warga yang tinggal berdekatan satu sama lain dapat memanfaatkan kecanggihan internet untuk kembali terhubung dengan cara-cara yang sering kali terlalaikan di tengah arus dunia yang begitu cepat dewasa ini.
Ikut Merasakan
Di tahun 1994, hanya dalam kurun waktu dua bulan, sebanyak satu juta orang Tutsi dibantai di Rwanda oleh suku Hutu yang begitu bernafsu menghabisi saudara-saudara sebangsanya itu. Usai terjadinya genosida yang mengerikan ini, Uskup Geoffrey Rwubusisi meminta istrinya Mary untuk melayani para wanita yang telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Jawab Mary, “Aku hanya ingin menangis.” Mary sendiri juga kehilangan banyak anggota keluarganya. Layaknya pemimpin yang bijaksana dan suami yang peduli, sang uskup menanggapi dengan berkata: “Mary, kumpulkan wanita-wanita itu dan menangislah bersama mereka.” Ia tahu kepedihan yang dialami istrinya telah menyiapkannya untuk mampu merasakan kepedihan yang dialami orang lain.