Category  |  Santapan Rohani

Bawalah yang Anda Punya

“Sup Batu” adalah sebuah dongeng lama dengan beragam versi yang bercerita tentang orang kelaparan yang datang ke sebuah desa, tetapi tidak ada yang bisa menyisihkan secuil pun makanan untuknya. Lalu, orang yang kelaparan itu memasukkan sebongkah batu ke dalam panci berisi air dan memasaknya. Karena penasaran, para penduduk desa memperhatikan orang itu mengaduk “sup” yang dimasaknya. Akhirnya, datang seseorang membawa dua butir kentang untuk ditambahkan ke dalam sup, lalu orang yang lain membawa beberapa batang wortel. Seorang lagi menambahkan sebutir bawang bombai, dan yang lain memasukkan segenggam jelai. Seorang petani menyumbangkan susu. Akhirnya, “sup batu” itu menjadi sup kental yang lezat.

Hiduplah oleh Roh

Sepuluh ribu jam. Menurut penulis Malcolm Gladwell, jumlah waktu itulah yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi terampil dalam keahlian yang ditekuninya. Bahkan bagi seniman dan musisi terhebat sepanjang masa sekalipun, bakat bawaan mereka yang luar biasa belum cukup untuk mencapai tingkat keahlian yang akhirnya mereka capai. Mereka harus menekuni keahlian mereka setiap hari dengan sungguh-sungguh.

Menyediakan Waktu untuk Tuhan

Banyak perubahan terjadi sejak jam elektrik ditemukan di tahun 1840-an. Sekarang kita mencari tahu waktu lewat arloji pintar, ponsel, dan laptop. Hidup berjalan seakan lebih cepat—bahkan jalan “santai” kita pun bertambah cepat. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dan, menurut para ahli, berpotensi memberi dampak buruk pada kesehatan kita. “Kita bergerak cepat dan semakin cepat, dan berusaha menghubungi orang secepat mungkin,” kata Profesor Richard Wiseman. “Kita terdorong untuk berpikir bahwa segala sesuatu harus terjadi sekarang juga.”

Setiap Orang Butuh Belas Kasihan

Ketika Jeff baru lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan minyak ternama. Saat itu ia juga baru mengenal Kristus sebagai Juruselamatnya. Sebagai tenaga pemasaran, ia sering bepergian, dan dalam perjalanannya ia banyak mendengar kisah orang-orang yang sangat memilukan. Ia pun menyadari bahwa yang paling dibutuhkan oleh para pelanggannya bukanlah minyak, melainkan belas kasihan. Mereka membutuhkan Tuhan. Jeff terdorong untuk menempuh sekolah teologi agar bisa lebih memahami hati Allah dan kemudian ia pun terpanggil menjadi pendeta.

Hidup Senantiasa Penuh Pujian

Ibunda Wallace Stegner meninggal dunia di usia lima puluh tahun. Ketika Wallace berusia delapan puluh tahun, barulah ia menulis pesan untuk ibunya. Di dalamnya, ia memuji kebajikan ibunya yang tumbuh, menikah, dan membesarkan dua anak lelaki pada masa-masa awal terbukanya daerah Barat Amerika yang liar dan keras. Sang ibu adalah istri dan ibu yang selalu memberi semangat, bahkan kepada mereka yang tidak diperhitungkan. Wallace teringat pada kekuatan yang ditunjukkan sang ibu melalui suaranya. Ia menulis: “Ibu, kau tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bernyanyi.” Sepanjang hidupnya, ibunda Stegner selalu bernyanyi, dalam ungkapan syukur atas berkat-berkat besar maupun kecil yang diterimanya.

Raja Satu-Satunya

Eldon kecil yang berusia lima tahun sedang mendengarkan pendeta bercerita tentang Yesus yang meninggalkan surga untuk turun ke dunia. Ia sempat tersentak ketika dalam doanya sang pendeta mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena sudah rela mati demi dosa-dosa kita. “Oh tidak! Dia mati?” seru bocah itu kaget.

Di Sinilah Hidup Naga-Naga?

Konon di tepi peta yang dibuat pada abad pertengahan, sebagai penanda batas-batas dunia yang diketahui oleh pembuat peta pada masa itu, tercantum tulisan “Di sinilah hidup naga-naga” disertai gambar-gambar yang menampilkan sosok makhluk mengerikan yang diduga bersembunyi di sana.

Menara Miring

Mungkin Anda pernah mendengar tentang Menara Miring Pisa yang terkenal, tetapi pernahkah Anda mendengar tentang menara miring San Francisco? Namanya Menara Milenium. Gedung pencakar langit setinggi 58 lantai yang dibangun pada tahun 2008 itu berdiri dengan megah—tetapi sedikit miring—di pusat kota San Francisco.

Seratus Tahun dari Sekarang

“Aku hanya ingin orang-orang masih mengingatku seratus tahun dari sekarang,” kata Rod Sterling, penulis naskah dan pencipta serial televisi The Twilight Zone pada tahun 1975. Sterling ingin orang-orang mengingatnya sebagai penulis ulung. Kita dapat memahami keinginan Sterling untuk meninggalkan kesan yang abadi, karena hal itu memberi makna bagi hidup kita.