Category  |  Santapan Rohani

Yesus yang Menyamar

Baru-baru ini, anak saya, Geoff, ikut dalam kegiatan yang disebut “simulasi tunawisma.” Ia menggelandang di jalan-jalan kota selama 3 hari 2 malam, tidur di alam terbuka dengan suhu di bawah titik beku. Tanpa makanan, uang, maupun tempat berlindung, ia bergantung pada kebaikan orang yang tidak dikenal untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Ia pernah hanya makan sepotong roti lapis yang dibelikan oleh seorang pria yang mendengarnya meminta roti basi dari sebuah restoran cepat saji.

Merayakan Kreativitas Allah

Lance Brown, seorang seniman buta warna, naik ke atas panggung diiringi alunan musik yang memenuhi aula gereja. Dengan membelakangi jemaat, ia berdiri di depan kanvas putih besar, dan mencelupkan kuasnya ke cat hitam. Dengan lincah, tangannya bergerak membuat gambar salib. Lewat goresan demi goresan di atas kanvas, Lance menuturkan kisah penyaliban dan kebangkitan Kristus. Ia menutup beberapa bagian kanvas dengan cat hitam, lalu menambahkan warna biru dan putih untuk menyelesaikan lukisan yang kini terlihat abstrak itu dalam waktu kurang dari enam menit. Kemudian ia memegang kanvas itu, membaliknya, dan tampaklah sebuah gambar yang tersembunyi, yaitu wajah Yesus yang penuh kasih.

“Sekalipun”

Pada tahun 2017, kesempatan terbuka bagi kami untuk menolong para korban bencana Badai Harvey di Amerika Serikat di kota Houston. Awalnya kami hendak menguatkan mereka yang tertimpa musibah, tetapi dalam prosesnya, iman kami sendiri yang diuji dan dikuatkan saat kami mendampingi mereka di dalam gereja dan rumah mereka yang rusak oleh bencana.

Pengaruh Dorongan

Saat Benjamin West masih kecil, ia pernah mencoba menggambar kakak perempuannya tetapi tidak berhasil. Ibunya melihat hasil karyanya itu, mencium kepala Benjamin, lalu berseru, “Itu kan Sally!” Di kemudian hari, Benjamin berkata, ciuman ibunya itulah yang menjadikannya sebagai seniman—dan akhirnya menjadi pelukis terkenal di Amerika. Begitu besar pengaruh dorongan!

Cinta yang Tak Terpadamkan

Saat pertama kalinya kami melihat parit di belakang rumah kami, bentuknya hanyalah aliran kecil air di sela-sela bebatuan di tengah teriknya matahari musim panas. Papan-papan kayu yang berat berfungsi sebagai jembatan yang memudahkan kami untuk menyeberang. Beberapa bulan kemudian, hujan deras turun di daerah kami selama beberapa hari berturut-turut. Parit kecil yang jinak itu tiba-tiba berubah menjadi sungai berarus deras dengan kedalaman kurang lebih 1 meter dan lebar 3 meter! Daya laju air sempat menyapu jembatan kayu di sana hingga berpindah tempat beberapa meter jauhnya.

Warisan Iman

Jauh sebelum Billy Graham memutuskan untuk beriman kepada Kristus di usia enam belas tahun, kedua orangtuanya sudah setia mengikut Tuhan Yesus. Masing-masing dari mereka beriman saat bertumbuh dalam keluarga yang sudah percaya kepada Yesus. Setelah menikah, orangtua Billy meneruskan warisan iman itu dengan terus membimbing anak-anak mereka di dalam Tuhan, dengan bersama berdoa, membaca Alkitab, dan setia beribadah di gereja. Teguhnya dasar yang diletakkan oleh orangtua Graham dalam hidup Billy menjadi bagian dari cara Allah membawanya beriman dan kemudian menerima panggilan sebagai penginjil.

Kembali Berperang

Semasa kecil, seorang wanita pernah melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada kedua orangtuanya. Ia tidak mengira perkataan itu akan menjadi interaksi terakhirnya dengan mereka. Sampai sekarang, sekalipun sudah bertahun-tahun mengikuti konseling, ia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Perasaan bersalah dan penyesalan membuatnya terpuruk.

Akankah Kau Kembali?

Pernikahan Ron dan Nancy berada di ujung tanduk. Nancy pernah selingkuh, tetapi kemudian mengakui dosanya kepada Allah. Ia tahu apa yang Tuhan mau ia lakukan, tetapi itu sangat sulit baginya. Akhirnya Nancy menceritakan hal yang sebenarnya kepada Ron. Alih-alih minta cerai, Ron memilih untuk memberi Nancy kesempatan agar ia dapat dipercaya kembali dengan menunjukkan bahwa dirinya telah berubah. Dengan cara yang ajaib, Allah memulihkan pernikahan mereka.

Roti dan Ikan

Seorang bocah lelaki pulang dari gereja dan bercerita dengan penuh semangat bahwa ia baru belajar tentang seorang anak laki-laki yang “bagi-bagi makanan.” Tentu saja yang ia maksud adalah seorang anak kecil yang memberikan roti dan ikannya kepada Yesus.