Category  |  Santapan Rohani

Dari Mulut Bayi-Bayi

Setelah melihat Viola yang berumur 10 tahun menggunakan ranting pohon sebagai mikrofon untuk meniru sikap seorang pendeta, Michele memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Viola untuk “berkhotbah” dalam suatu pelayanan di sebuah desa. Viola bersedia. Menurut kesaksian Michele, misionaris di Sudan Selatan, “Para hadirin terpana . . . melihat seorang anak perempuan yang pernah ditelantarkan itu berdiri dengan penuh wibawa di hadapan mereka sebagai putri dari Raja segala raja. Dengan penuh semangat, Viola berkhotbah tentang Kerajaan Allah yang hidup. Separuh hadirin pun menanggapinya dengan maju ke depan dan menerima Yesus pada saat itu” (Michele Perry, Love Has a Face).

Mengatasi Informasi Buruk

Dalam kunjungan ke kota New York baru-baru ini, saya bersama istri ingin menikmati malam yang bersalju. Kami pun menyewa taksi untuk membawa kami ke sebuah restoran Kuba yang berjarak sekitar 5 km dari hotel. Setelah memasukkan alamat ke aplikasi pemesanan taksi, saya terbelalak melihat tarif untuk jarak sependek itu: Rp. 22.340.887. Setelah beberapa saat, saya baru sadar telah memasukkan alamat rumah kami yang jaraknya ratusan kilometer dari sana sebagai tujuan!

Semangat Fika

Kedai kopi dekat rumah saya diberi nama Fika, kata dalam bahasa Swedia yang berarti beristirahat dengan menyantap roti dan segelas kopi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman-teman. Saya bukan orang Swedia, tetapi kata fika menggambarkan satu hal yang paling saya sukai tentang Yesus—sikap-Nya yang senang mengambil waktu untuk makan dan bergaul dengan orang lain.

Kagum dalam Keheningan

Hidup saya sering terasa padat dan sesak, bergerak dari satu kesibukan ke kesibukan lain dengan tergesa-gesa. Di tengah perjalanan, saya menerima telepon sembari memeriksa daftar pekerjaan yang tampaknya tak kunjung habis. Suatu hari Minggu, karena kelelahan, saya memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur gantung yang ada di halaman belakang rumah. Ponsel saya ada di dalam, begitu juga suami dan anak-anak. Semula saya berencana untuk rebah sejenak. Namun, dalam keheningan itu, saya mulai memperhatikan hal-hal yang membuat saya enggan beranjak. Saya bisa mendengar derit ayunan tempat tidur gantung, dengungan lebah di dekat bunga lavender, dan suara kepak burung di atas kepala. Langit berwarna biru cerah, awan berarak ditiup angin.

Hidup dalam Kisah Allah

Ernest Hemingway pernah ditanya apakah ia bisa menulis sebuah kisah yang menyentuh hanya dengan enam kata. Tanggapannya: “Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai.” Kisah Hemingway itu sangat luar biasa karena kita didorong untuk memikirkan isi ceritanya. Kita pun bertanya-tanya, apakah sang bayi itu sehat sehingga ia tidak memerlukan sepatu itu? Ataukah ada kematian yang tragis—suatu peristiwa yang memerlukan kehadiran kasih dan penghiburan dari Allah?

Tuhan Memegang Tangan Kita

Pada suatu hari Minggu, saya menyaksikan seorang gadis cilik yang tampaknya belum berusia dua tahun berusaha menuruni tangga gereja. Ia sangat lucu, berani, dan mandiri. Satu demi satu anak tangga itu ditapakinya dengan penuh tekad, dan ia berhasil. Saya tersenyum saat memikirkan keberanian dan kemandiriannya. Anak itu tidak takut karena tahu bahwa ibunya yang penuh perhatian selalu mengawasi dan tangan ibunya selalu siap menolong. Hal itu sangat tepat menggambarkan kesiapan Allah untuk menolong anak-anak-Nya di tengah perjalanan hidup mereka yang diwarnai beragam ketidakpastian.

Persembahan yang Hidup

Bibi buyut saya pernah memiliki pekerjaan yang bagus dalam bidang periklanan dan kerap bepergian antara kota Chicago dan New York. Namun, ia memilih untuk melepaskan karier itu demi kasihnya pada orangtuanya. Mereka tinggal di Minnesota dan perlu dirawat. Kedua saudaranya telah meninggal dengan tragis pada usia muda dan bibi buyut saya adalah satu-satunya anak yang masih hidup. Baginya, merawat orangtua merupakan perwujudan imannya.

Kirimkan Lewat Surat

Seperti kebanyakan anak usia empat tahun, Ruby suka berlari, bernyanyi, menari, dan bermain. Namun, ia mulai sering mengeluh tentang rasa sakit di lututnya. Orangtua Ruby pun membawanya ke dokter. Hasilnya mengejutkan—Ruby didiagnosis menderita kanker neuroblastoma (sejenis kanker sel-sel saraf yang belum matang pada anak-anak) stadium 4. Ternyata kesehatan Ruby bermasalah dan ia langsung dirawat di rumah sakit.

Simpan dan Terus Melangkah

Saya teringat nasihat bijak yang pernah diberikan oleh teman saya yang bekerja sebagai penyiar radio. Pada awal kariernya, ketika ia merasa kesulitan untuk menyikapi baik kritik maupun pujian dengan baik, ia merasa Allah mendorongnya untuk menyimpan kedua-duanya dalam hati. Apa yang ia pelajari dari sikapnya tersebut? Ia berkata, “Aku belajar memperbaiki diri lewat kritik dan juga menerima pujian. Aku menyimpan kedua-duanya, lalu berusaha merendahkan hati untuk melangkah lagi dalam anugerah dan kuasa Allah.”