Menemukan Jati Diri
Siapa aku? Itulah yang ditanyakan oleh sebuah boneka binatang lusuh pada dirinya sendiri dalam buku cerita anak berjudul Nothing karya Mick Inkpen. Terlupakan di sudut loteng yang berdebu, boneka itu mendengar tukang pengangkut barang menyebutnya “Nothing” (bukan siapa-siapa) sehingga ia mengira namanya adalah Nothing.
Kasih dan Damai
Saya selalu takjub menyaksikan bagaimana damai—damai yang berkuasa dan melampai segala akal (Flp. 4:7)—dapat menguasai hati kita bahkan di tengah kedukaan yang mendalam. Baru-baru ini, saya mengalaminya dalam kebaktian penghiburan ayah saya. Ketika deretan kerabat mengungkapkan rasa dukacita mereka, saya merasa lega melihat seorang sahabat di SMA. Tanpa sepatah kata pun, ia memeluk saya dengan erat beberapa waktu lamanya. Bentuk perhatiannya yang tenang itu mengalirkan damai yang baru saya rasakan di tengah duka pada hari yang berat itu. Saya disadarkan bahwa saya tidak benar-benar sendirian.
Pekerjaan Baik Telah Dipersiapkan
Seorang pria asing bertubuh kekar menghampiri saya dan istri saat kami berjalan kaki di luar negeri. Kami pun langsung ketakutan, mengingat dalam liburan itu kami sudah beberapa kali mengalami perlakuan tidak menyenangkan: dibentak, ditipu, dan diperas orang. Akankah kami mengalami peristiwa buruk lagi? Kami terkejut ketika ternyata orang itu hanya ingin memberi tahu tempat terindah di kotanya. Ia bahkan memberi kami sebatang cokelat, tersenyum, lalu pergi. Tindakan sederhana itu membuat hati kami ceria dan sisa liburan kami terasa menyenangkan. Kami pun berterima kasih—kepada orang tersebut sekaligus Allah yang telah menghibur kami.
Kasih Kristus Mengubah Kita
Sebelum mengenal Yesus, hati saya pernah begitu terluka hingga saya enggan menjalin hubungan akrab karena takut terluka lebih dalam. Ibu menjadi sahabat terdekat saya, sampai kemudian saya menikah dengan Alan. Tujuh tahun kemudian, di ambang perceraian, saya pergi ke sebuah kebaktian bersama anak kami yang masih TK, Xavier. Saya duduk di dekat pintu, enggan untuk percaya, meski sebenarnya sangat mengharapkan pertolongan.
Perubahan Hati
Menurut Lembaga Sensus AS, orang Amerika pindah rumah rata-rata 11 sampai 12 kali sepanjang hidup mereka. Dalam setahun terakhir, 28 juta orang berkemas, pindah, dan menempati rumah mereka yang baru.
Semua yang Kulihat
Di tengah musim dingin, pada suatu hari yang bersalju, Krista berdiri sembari memandang keindahan mercusuar yang tertutup salju di tepi danau. Saat mengeluarkan ponsel untuk memotret pemandangan itu, kacamatanya ditutupi kabut. Karena tak bisa melihat apa pun, ia memutuskan untuk mengarahkan kamera ponsel ke arah mercusuar dan mengambil tiga gambar dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Setelah melihat hasil fotonya, ia baru sadar kalau kameranya diatur di posisi selfie. Sambil tertawa, ia berkata, “Fokusku selalu aku, aku, dan aku. Semua yang kulihat hanya diriku sendiri.” Foto-foto Krista membuat saya terpikir tentang kesalahan serupa yang kita lakukan: Kita bisa terlalu berfokus pada diri sendiri hingga gagal melihat gambaran yang lebih besar dari rencana Allah.
Telinga untuk Mendengar
Aktris Diane Kruger pernah ditawari sebuah peran yang akan membuat namanya tenar. Ia diminta untuk memerankan istri sekaligus ibu muda yang kehilangan suami dan anaknya. Karena belum pernah mempunyai pengalaman semacam itu, ia tak tahu apakah bisa memerankannya dengan baik. Diane tetap menerima tawaran tersebut, dan dalam persiapannya, ia pun menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan untuk memberikan dukungan bagi orang yang sedang berduka.
Dipulihkan
Pada tahun 2003, serangan jangkrik Mormon menyebabkan gagal panen yang membawa kerugian lebih dari 25 juta dolar AS. Serangga itu muncul begitu banyaknya hingga nyaris menutup permukaan tanah. Serangga mirip belalang itu dijuluki demikian karena pernah menyerang tanaman milik para penduduk pertama di wilayah Utah pada tahun 1848. Satu ekor jangkrik dapat melahap makanan dalam jumlah mencengangkan—lebih dari 17 kg hasil tanaman di sepanjang masa hidupnya—meskipun ukuran tubuhnya hanya 5-7,5 cm. Dampak buruk dari hama serangga itu bagi penghidupan petani—dan perekonomian negara secara menyeluruh—sangatlah dahsyat.
Kedalaman Kasih
Waktu pertama kali keduanya bertemu, Edwin Stanton memandang rendah presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, secara pribadi maupun profesional. Stanton bahkan menjuluki Lincoln sebagai “mahkluk bertangan panjang”. Namun, Lincoln menghargai kemampuan Stanton dan memaafkannya, bahkan memberi Stanton posisi penting di dalam kabinetnya semasa Perang Saudara. Stanton pun mulai menganggap Lincoln sebagai sahabatnya. Stantonlah yang sepanjang malam berada di samping tempat tidur Lincoln setelah sang presiden ditembak di Gedung Ford’s Theater. Pada saat Lincoln wafat, dengan berlinang air mata Stanton berkata, “Sekarang, ia telah masuk dalam keabadian.”