Category  |  Santapan Rohani

Strategi Kita Hanyalah Berharap

Tim sepakbola favorit saya sudah kalah delapan kali berturut-turut pada waktu saya menulis renungan ini. Dengan banyaknya kekalahan, sulit untuk berharap mereka akan bertahan hingga akhir musim. Pelatih sudah mengubah strategi permainannya setiap minggu, tetapi tak juga membuahkan hasil. Dalam percakapan dengan seorang rekan kerja, saya bergurau sambil mengatakan bahwa niat saja tidak akan menjamin terjadinya perubahan. “Harapan bukan strategi,” ledek saya.

Jangan Takut!

Hampir semua kemunculan malaikat dalam Alkitab didahului dengan perkataan “Jangan takut!” Ini tak mengherankan, sebab ketika makhluk supernatural menampakkan diri, biasanya manusia yang melihatnya akan tersungkur gemetar. Namun, Lukas menceritakan kemunculan Allah dalam rupa yang tidak menakutkan. Allah hadir dalam rupa Yesus yang lahir di antara hewan dan terbaring dalam palungan. Allah mengambil cara yang tak menakutkan. Adakah yang menakutkan dari sosok bayi baru lahir?

Ikuti Sang Pemimpin

Langit di atas rumah kami menderu dengan desingan tiga pesawat tempur yang membentuk formasi sedemikian dekat satu sama lain sehingga terlihat menyatu. Saya dan suami pun berdecak kagum. Kami tinggal di dekat pangkalan Angkatan Udara sehingga pemandangan itu tak lagi asing bagi kami.

Sepucuk Surat Natal

Setiap Natal, seorang teman menulis surat panjang untuk istrinya dengan menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang telah dilalui sepanjang tahun dan impian masa depannya. Di dalamnya ia mengungkapkan cinta beserta pujian kepada istrinya. Demikian pula ia menulis surat untuk setiap anaknya. Kata-kata cintanya menjadi hadiah Natal yang tak terlupakan.

Kebangkitan Agung

Ada kenangan berharga ketika berkunjung ke rumah sahabat keluarga kami sewaktu anak-anak masih kecil. Orang-orang dewasa seperti kami biasa berbincang-bincang sampai larut malam, sementara anak-anak yang kelelahan bermain meringkuk tertidur di sofa atau di kursi.

Dari Aib Menjadi Mulia

Natal adalah momen tahunan bagi keluarga untuk berkumpul merayakan kebahagiaan bersama. Namun, ada pula yang merasa segan bertemu dengan sanak dan kerabat tertentu yang suka menanyakan hal-hal ‘sensitif’ seperti “Kapan menikah?” atau “Kapan punya anak?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan mengindikasikan ada yang tidak beres dengan orang yang ditanyai.

Cermin dan Firman

Saat keluar dari tempat penginapan saya di Kampala, Uganda, tuan rumah yang menjemput saya ke acara seminar menatap dengan senyum geli. “Apakah ada yang lucu?” tanya saya. Ia tertawa dan bertanya, “Sudahkah Anda menyisir rambut?” Giliran saya yang tertawa, karena saya memang lupa menyisir rambut, padahal tadi sudah becermin. Bisa-bisanya saya tidak sadar.

Mosaik Keindahan

Tatkala duduk di halaman Gereja Visitasi di Ein Karem, Israel, saya sangat tergugah oleh keelokan enam puluh tujuh mosaik bertuliskan perkataan dari Lukas 1:46-55 dalam berbagai bahasa. Bagian Alkitab tersebut umumnya dikenal sebagai Magnificat, bahasa Latin yang artinya “memuliakan”, dan merupakan ungkapan sukacita Maria menanggapi berita bahwa ia akan menjadi ibu dari Sang Mesias.

Lagu Cinta dari Surga

Tahun 1936, pengarang lagu Billy Hill merilis karya emasnya yang berjudul The Glory of Love (Kemuliaan Cinta). Dalam waktu singkat, seantero negeri pun bernyanyi tentang indahnya melakukan hal-hal sederhana karena cinta kepada sesama. Lima puluh tahun kemudian, pengarang lagu lainnya bernama Peter Cetera menulis lagu romantis dengan judul yang serupa. Ia membayangkan dua insan yang hidup selamanya dan melakukan semuanya—demi kemuliaan cinta.