Category  |  Santapan Rohani

Pertanyaan di Hari Natal

Jauh sebelum kalender menunjukkan bulan Desember, kemeriahan Natal mulai tampak di kota kami yang terletak di wilayah utara. Pepohonan dan semak-semak di halaman sebuah klinik digantungi lampu hias warna-warni sehingga pada malam hari cahayanya berpendar memukau. Kantor lain menghias bangunannya seperti sebuah kado Natal raksasa yang megah. Ke mana pun mata memandang, terlihat jelas adanya semangat Natal—atau setidaknya kegiatan berbagai usaha yang menjajakan produknya menjelang Natal.

Aku Bersyukur untuk Dirimu!

Sewaktu merawat ibu saya di rumah perawatan bagi para penderita kanker, saya berkenalan dengan Lori, pengasuh lain yang tinggal bersama suaminya, Frank, di lorong yang sama dengan kami. Saya biasa mengobrol, bercanda, mencurahkan isi hati, menangis, dan berdoa bersama Lori di ruang duduk. Kami sangat senang dapat mendukung satu sama lain selagi kami merawat anggota keluarga terkasih kami masing-masing.

Tempat yang Aman

Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan di daerah West Virginia dengan hutannya yang berbukit-bukit, sebuah pemandangan yang membangkitkan imajinasi dalam diri anak-anak seperti kami. Di sana, kami memainkan adegan yang kami temukan dalam bacaan maupun film, misalnya bergelantungan seperti Tarzan atau membangun rumah pohon. Salah satu permainan favorit kami adalah membangun benteng lalu bertingkah seolah-olah kami berlindung dari serangan musuh. Bertahun-tahun kemudian, anak-anak saya pun membangun benteng dari selimut, seprai, dan bantal—membangun “tempat yang aman” dari musuh-musuh khayalan mereka sendiri. Tampaknya, mencari tempat persembunyian untuk merasa aman adalah naluri alami setiap orang.

Allah Mendengar

Tatkala masing-masing anggota kelompok mengajukan pokok doa untuk kerabat dan sahabat mereka yang sedang sakit atau berada dalam kesulitan, Diane hanya menyimak. Ia juga memiliki anggota keluarga yang sudah bertahun-tahun bergumul dengan masalah kecanduan. Namun, Diane diam saja dan tidak mau mengungkapkan permohonan doanya. Ia tidak tahan melihat reaksi orang atau mendengar pertanyaan dan saran yang sering muncul setiap kali ia menceritakan pergumulannya, sehingga pikirnya, hal itu lebih baik ia rahasiakan. Ada saja orang yang tak mengerti bagaimana kerabatnya yang sudah percaya kepada Tuhan itu masih jatuh bangun dalam hidupnya.

Bersyukur Memuliakan Allah

Dokter tidak mengerutkan keningnya, meskipun ia sedang berbicara dengan suami saya tentang hasil diagnosis kankernya yang baru keluar. Sambil tersenyum, dokter memberikan saran: awalilah setiap hari dengan bersyukur. “Setidaknya untuk tiga hal,” kata dokter itu. Suami saya, Dan, setuju karena ia tahu bahwa ucapan syukur membuka hati kita untuk dikuatkan dalam kebaikan Allah. Jadi, Dan mengawali setiap harinya dengan kata-kata pujian. Allah, terima kasih untuk tidur malam yang nyenyak, tempat tidur yang bersih, sinar matahari, sarapan yang terhidang, dan bibir yang masih bisa tersenyum.

Tuhan atas Masa Hidup Kita

Belum lama ini saya mengerjakan proyek konstruksi di rumah putra saya yang berjarak tempuh tiga jam dari rumah saya. Pekerjaan itu memakan waktu berhari-hari, lebih lama daripada yang direncanakan, dan tiap pagi saya berdoa agar bisa menyelesaikan pekerjaan saat matahari terbenam. Namun, tiap malam selalu saja ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Fondasi yang Kuat

Musim panas yang lalu, saya dan suami mengunjungi Fallingwater, sebuah rumah di kawasan pedesaan Pennsylvania yang dirancang oleh arsitek Frank Lloyd Wright pada tahun 1935. Saya belum pernah melihat rumah seperti itu. Wright ingin menciptakan rumah yang tumbuh secara organik dari lanskap alam yang ada, seolah-olah rumah itu benar-benar tumbuh di tempat itu—dan ia berhasil melakukannya. Ia membangun rumah di sekitar air terjun alami dan gaya rumah itu menyerupai tebing batu di dekatnya. Pemandu wisata kami menjelaskan apa yang membuat bangunan itu aman: “Penyangga vertikal utama dari rumah itu bertumpu di atas batu karang.”

Menumpuk Jerami

Semasa kuliah, pada suatu musim panas, saya bekerja di sebuah pertanian di Colorado. Pada satu sore, karena lelah dan lapar setelah bekerja seharian memangkas jerami, saya mencoba untuk mengarahkan traktor masuk ke halaman. Dengan gaya yang sok, saya membanting setirnya jauh ke kiri, menginjak rem kiri, dan memutar balik traktornya.

Allah di Sini

Sebuah plakat di rumah kami mencantumkan tulisan “Diundang atau tidak, Allah hadir di sini.” Versi modern dari pernyataan tersebut kira-kira seperti ini, “Disadari atau tidak, Allah hadir.”