Waktu yang Tepat
Kemarin saya memesan tiket pesawat dengan tujuan untuk mengantar putri sulung saya yang akan memulai kuliahnya. Entah berapa banyak air mata yang telah tercurah ke atas keyboard komputer selama saya mencari-cari tiket tersebut. Saya telah menikmati hidup yang indah bersama putri saya selama 18 tahun sehingga saya merasa begitu sedih atas kepergiannya. Namun, saya tidak akan tega merampas masa depannya hanya karena saya akan sangat merindukannya. Inilah waktu yang tepat bagi putri saya untuk memulai perjalanan baru menuju kedewasaan dengan menjelajahi bagian lain dari negara ini.
Terukir di Telapak Tangan-Nya
Dalam pelayanannya selama bertahun-tahun di sebuah gereja di London pada era 1800-an, Charles Spurgeon sangat senang mengkhotbahkan kekayaan yang terkandung dalam Yesaya 49:16, yang menyatakan bahwa Allah mengukir nama kita di telapak tangan-Nya. Spurgeon berkata, “Ayat seperti ini harus dikhotbahkan ratusan kali!” Keindahan yang luar biasa dari ayat tersebut membuat kita dapat merenungkannya terus-menerus.
Warisan Kasih
Saya sedang membuka-buka halaman Alkitab milik nenek buyut saya saat sesuatu yang berharga jatuh ke pangkuan saya. Itu adalah secarik kertas yang mencantumkan tulisan tangan seorang anak kecil dan bertuliskan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat. 5:3-4). Di samping ayat tersebut, terlihat tanda tangan ibu saya yang masih berantakan.
Cara Berdoa yang Benar
Saya mengagumi orang-orang yang tekun mencatat pokok-pokok doa mereka setiap hari dalam suatu jurnal. Saya kagum kepada mereka yang mengikuti perkembangan setiap permohonan dan pujian mereka serta dengan setia memperbarui daftar doa mereka. Saya terinspirasi oleh mereka yang mengajak orang lain untuk berdoa bersama dan yang khusyuk menaikkan doa-doa mereka setiap malam. Selama bertahun-tahun saya berusaha meniru gaya mereka, menata kehidupan doa yang sempurna, dan mencontoh tutur kata mereka yang lebih fasih dalam berdoa. Saya berjuang untuk menyingkapkan apa yang saya anggap sebagai misteri, karena saya rindu mempelajari cara berdoa yang benar.
Bermanfaat untuk Anda?
Sebagai penyuka cokelat pahit, saya pernah mencari informasi di Google: “Apakah cokelat pahit bermanfaat?” Saya mendapatkan beragam jawaban—ada yang baik, ada yang buruk. Anda juga bisa melakukan hal yang sama untuk sebagian besar produk makanan. Apakah susu bermanfaat? Apakah kopi bermanfaat? Apakah nasi bermanfaat? Ada begitu banyak jawaban yang berbeda untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Jadi Anda perlu sadar bahwa penelusuran itu sendiri mungkin tidak terlalu bermanfaat untuk Anda. Bisa-bisa Anda justru jadi sakit kepala!
Kepuasan Tertinggi
Saat membagikan makanan ringan kepada anak-anak dalam suatu kegiatan Sekolah Alkitab, kami melihat seorang anak kecil yang makan dengan lahap. Kemudian ia juga memakan remah-remah makanan milik anak-anak lain di mejanya. Bahkan setelah saya memberinya sekantong popcorn, ia belum kenyang juga. Sebagai pembimbing, kami sangat prihatin dan bingung mengapa anak kecil itu begitu lapar.
Apakah Arti Sebuah Nama?
“Gip” Hardin, seorang pengkhotbah gereja Methodis, menamai putranya John Wesley, mengikuti nama sang pengkhotbah terkenal. Nama itu mencerminkan harapan Gip atas anak laki-lakinya. Namun tragis, John Wesley Hardin kemudian memilih jalan yang menyimpang jauh dari tokoh iman yang agung itu. Hardin mengaku pernah membunuh 42 orang sehingga ia menjadi salah satu penjahat bersenjata dan buronan paling terkenal di wilayah barat Amerika pada akhir abad ke-19.
Ada Wi-Fi?
Ketika saya sedang mempersiapkan perjalanan misi bersama sejumlah anak muda, pertanyaan yang paling sering diajukan adalah, “Apakah di sana ada Wi-Fi?” Saya meyakinkan mereka bahwa ada Wi-Fi di sana. Bayangkanlah seperti apa keluh kesah mereka ketika pada suatu malam Wi-Fi itu mati!
Dia Mengenal Kita
Ketika mengunjungi Monumen Peringatan Peristiwa 11 September di kota New York, saya sempat memotret salah satu dari dua kolam refleksi kembar yang terdapat di sana. Tepi dari masing-masing kolam itu dikelilingi panel berbahan perunggu yang mencantumkan ukiran nama-nama dari hampir 3.000 orang yang meninggal dunia dalam peristiwa serangan terhadap gedung World Trade Center pada tahun 2001. Di kemudian waktu, ketika memperhatikan foto itu dengan lebih saksama, mata saya tertuju pada seorang wanita yang meletakkan tangannya pada sebuah nama. Banyak orang datang ke tempat tersebut untuk menyentuh sebuah nama dan mengenang seseorang yang mereka kasihi.