Bertahan dengan Damai Sejahtera
Dalam upaya saya untuk terus mempercayai Allah di tengah pergumulan dengan rasa sakit yang kronis, kemunduran sekecil apa pun terasa seperti pukulan telak. Serangan demi serangan seakan menghantam saya dari samping, belakang, dan juga depan. Saat kekuatan saya melemah dan pertolongan tidak segera datang, melarikan diri dan bersembunyi tampaknya merupakan ide cemerlang. Namun, karena tak bisa melepaskan diri dari rasa sakit, mengubah keadaan, atau mengabaikan emosi saya, saya belajar sedikit demi sedikit untuk bersandar kepada Allah yang menopang saya melalui semua itu.
Negeri yang Terbentang Jauh
Amy Carmichael (1867–1951) dikenal karena usahanya dalam menyelamatkan gadis-gadis yatim piatu di India dan memberi mereka kehidupan yang baru. Di tengah-tengah pelayanan yang menguras tenaga itu, ia mengalami apa yang disebutnya sebagai “momen-momen penglihatan”. Dalam bukunya Gold by Moonlight, ia menulis, “Di tengah suatu hari yang sibuk, kami diberi secercah gambaran tentang suatu ‘negeri yang terbentang jauh’, dan kami hanya bisa berdiri, terpaku di tengah jalan.”
Tak Dapat Ditarik Kembali
Ini bukan sekadar soal menyeberangi sungai. Secara hukum, tidak ada jenderal Romawi yang diizinkan untuk memimpin pasukan bersenjata masuk ke kota Roma. Jadi, saat Julius Caesar memimpin pasukannya menyeberangi sungai Rubicon dan memasuki Italia pada 49 sm, itu adalah suatu pengkhianatan. Dampak dari tindakannya tak bisa diputar kembali dan perang saudara selama bertahun-tahun pun terjadi hingga jenderal agung itu berkuasa mutlak atas Romawi. Sampai saat ini, istilah “menyeberangi Rubicon” melambangkan sesuatu yang “tidak dapat ditarik kembali”.
Mengikuti Pimpinan Allah
Pada bulan Agustus 2015, ketika sedang menyiapkan diri untuk berkuliah di universitas yang kampusnya berjarak lumayan jauh dari rumah, saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan kembali tinggal di rumah setelah lulus. Pikiran saya pun menjadi kalut. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah? Keluargaku? Gerejaku? Bagaimana jika nanti Allah memanggilku pergi ke daerah atau negara lain?
Sidik Jari Allah
Lygon Stevens suka sekali mendaki gunung bersama saudaranya, Nick. Mereka berdua adalah pendaki yang berpengalaman dan sama-sama pernah mencapai Puncak Denali di Gunung McKinley, puncak gunung tertinggi di Amerika Utara. Namun pada bulan Januari 2008, longsoran salju pada sebuah gunung di Colorado membuat Nick terluka dan menewaskan Lygon yang masih berusia 20 tahun. Ketika suatu hari Nick menemukan catatan harian Lygon di salah satu tasnya, ia sangat terhibur oleh isinya. Catatan harian adik perempuannya itu dipenuhi dengan perenungan, doa, dan pujian kepada Allah. Salah satu tulisannya adalah sebagai berikut: “Aku adalah karya seni buatan Allah. Akan tetapi, Dia belum selesai; bahkan Dia baru saja memulai karyanya. . . . Sidik jari Allah membekas di setiap bagian hidupku. Takkan pernah ada orang lain yang sama seperti diriku . . . dalam hidup ini, aku mendapat tugas yang harus kulakukan dan tugas itu tak bisa dilakukan oleh orang lain.”
Berpegang pada Janji Allah
Saat masih anak-anak, teman saya diyakinkan kakaknya bahwa sebuah payung cukup kuat untuk membuatnya terbang jika ia “percaya saja”. Jadi “dengan iman”, teman saya meloncat dari atap sebuah lumbung hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri dan menderita gegar otak ringan.
Memegang Erat
Saat berjalan kaki pulang setelah mengantar putri saya ke sekolah, saya berkesempatan untuk menghafalkan beberapa ayat Alkitab. Ketika saya menggunakan menit-menit itu untuk memusatkan pikiran saya pada firman Allah, firman itu sering saya ingat kembali di sepanjang hari dan itu memberikan penghiburan dan hikmat kepada saya.
Sebelum Segalanya Bermula
“Tetapi kalau Allah tidak memiliki awal dan akhir, dan selalu ada, apa yang dilakukan-Nya sebelum Dia menciptakan semuanya? Bagaimana Dia mengisi waktu-Nya?” Sejumlah anak sekolah Minggu yang ingin tahu selalu menanyakan hal-hal itu ketika kami membahas tentang natur kekekalan Allah. Saya biasanya menjawab bahwa sebagian dari hal itu merupakan misteri. Namun baru-baru ini, saya belajar bahwa Alkitab memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut.
Perubahan Sudut Pandang
Kota tempat saya tinggal pernah mengalami hujan salju yang terdahsyat dalam 30 tahun terakhir. Otot-otot saya terasa nyeri setelah berjam-jam mengeruk timbunan salju yang tidak habis-habisnya. Saya pun masuk ke rumah setelah bekerja keras dalam upaya yang sepertinya tidak membuahkan hasil. Setelah melepas sepatu bot, saya pun disambut oleh hangatnya perapian dan anak-anak saya yang berkumpul di sekelilingnya. Saat saya memandang keluar dari jendela rumah, sudut pandang saya terhadap cuaca buruk itu berubah total. Saya tidak lagi memandang timbunan salju di luar sebagai beban pekerjaan, melainkan saya menikmati keindahan dari ranting-ranting pohon yang membeku dan bentangan salju putih yang menyelimuti pemandangan suram di musim dingin.