Yang Terbaik dari Semuanya
“Punyaku lebih kecil dari punya kakak!”
Perhatikan Pemimpinnya
Joshua Bell, pemain biola kenamaan, memiliki cara yang tidak biasa dalam memimpin orkestra kamar Academy of St. Martin in the Fields yang terdiri dari 44 anggota. Alih-alih melambaikan tongkat, ia mengarahkan orkestranya sembari memainkan biola Stradivarius miliknya bersama pemain biola lainnya. Kepada Colorado Public Radio, Bell berkata, “Bahkan saat memainkan biola, saya dapat memberi mereka semua arahan dan tanda yang saya pikir saat ini hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri. Mereka memperhatikan tiap gerakan naik-turun biola saya, saat saya mengangkat alis, atau cara saya menggesek biola. Mereka tahu bunyi yang saya inginkan dari mereka sebagai satu orkestra.”
Menyingkirkan Penghalang
Saya bertemu Mary tiap hari Selasa ketika saya mengunjungi “Balai”—rumah rehabilitasi yang membantu mantan narapidana berbaur kembali dengan masyarakat. Keadaan hidup saya berbeda jauh dari hidup Mary: ia baru saja keluar dari penjara, masih bergumul dengan kecanduan, dan hidup terpisah dari anaknya. Bisa dibilang Mary tersisih dari pergaulan.
Mengendalikan Amarah
Saat saya sedang makan malam dengan seorang teman, ia mengungkapkan perasaan frustrasinya terhadap salah seorang kerabatnya. Awalnya teman saya enggan mengatakan apa pun kepada orang itu tentang kebiasaannya yang menjengkelkan atau sikapnya yang suka mengejek. Ketika akhirnya teman saya mencoba untuk menegur kerabatnya tentang masalah itu, orang itu justru membalas dengan kata-kata kasar. Teman saya pun marah besar terhadapnya. Keduanya tidak mau mengalah dan hubungan di antara mereka pun retak.
Siapa Nama Ayah Anda?
Ketika hendak membeli ponsel di Timur Tengah, saya menerima sejumlah pertanyaan yang biasa diajukan: siapa nama saya, apa kewarganegaraan saya, dan di mana alamat saya. Namun saat pramuniaga mengisi formulir, ia bertanya: “Siapakah nama ayah Anda?” Pertanyaan itu mengejutkan saya, dan saya heran mengapa hal itu penting untuk ditanyakan. Mengetahui nama ayah tidaklah penting dalam budaya saya. Namun di Timur Tengah, mengetahui nama ayah itu penting untuk menegaskan identitas seseorang. Silsilah keluarga dianggap penting dalam sejumlah budaya di dunia.
Tunduk kepada Sang Raja
Saya sempat melontarkan kata-kata pedas kepada suami saat berada dalam situasi yang tidak sejalan dengan kemauan saya. Setelah itu, saya pun menolak otoritas Roh Kudus yang berusaha mengingatkan saya pada ayat-ayat Alkitab yang menyingkapkan perilaku saya yang berdosa itu. Apakah sikap saya yang keras kepala itu sepadan dengan dampak buruk yang terjadi dalam pernikahan saya, dan sepadan dengan ketidaktaatan saya kepada Allah? Tentu saja tidak! Namun ketika akhirnya saya meminta pengampunan dari Tuhan dan dari suami saya, saya telah meninggalkan luka membekas yang terjadi akibat saya mengabaikan nasihat yang bijak dan merasa tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun.
Berlama-Lama Membaca
Dalam diskusi tentang trilogi film The Lord of The Rings, seorang remaja mengatakan bahwa ia lebih suka membaca ceritanya di buku daripada menyaksikannya di layar lebar. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, “Dengan buku, aku bisa berlama-lama menikmati bacaanku.” Ada perasaan istimewa ketika kita berlama-lama membaca sebuah buku, terutama Alkitab, dan ikut “terhanyut” dalam kisah-kisahnya.
Berani Melangkah Lebih Dahulu
Tham Dashu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Maka ia mulai pergi ke gereja—gereja yang sama dengan tempat putrinya beribadah. Namun, mereka tidak pernah pergi bersama. Di masa lalu, Tham pernah membuat putrinya tersinggung sehingga hubungan mereka pun renggang. Jadi biasanya Tham menyelinap masuk ke ruang kebaktian saat pujian sudah dinaikkan dan bergegas pergi setelah kebaktian selesai.
Pribadi yang Mengerti
John Babler adalah pembina rohani bagi kesatuan polisi dan pemadam kebakaran di lingkungannya di Texas. Sepanjang 22 minggu masa sabatikalnya, ia mengikuti pelatihan di akademi kepolisian agar dapat lebih memahami beragam situasi yang dihadapi aparat penegak hukum. Dengan menghabiskan waktu bersama para kadet dan mempelajari tantangan-tantangan berat yang dihadapi dalam profesi mereka, Babler belajar untuk semakin rendah hati dan berempati dengan mereka. Kelak, ia berhadap dapat lebih efektif dalam melayani para aparat kepolisian yang bergumul dengan perasaan stres, kelelahan, dan kehilangan.