Saat Saya Tak Sanggup Berdoa
November 2015, saya diberi tahu bahwa saya membutuhkan bedah jantung. Karena terguncang, saya langsung terpikir tentang kemungkinan meninggal dunia. Adakah hubungan yang perlu dipulihkan? Urusan keuangan yang perlu diselesaikan? Pekerjaan yang dapat diselesaikan lebih awal? Ada juga pekerjaan mendesak yang harus dialihkan kepada orang lain. Saya harus berdoa dan bertindak.
Pakaian yang Sesuai Iklim
Saat mencabut label harga dari selembar pakaian musim dingin yang baru saya beli, saya tersenyum membaca kalimat di bagian belakang label itu: “PERINGATAN: Produk inovatif ini akan membuatmu ingin berlama-lama main di luar.” Dengan mengenakan pakaian yang sesuai iklim, seseorang dapat bertahan hidup dan bahkan berkembang dalam iklim yang buruk dan berubah-ubah.
Dari Kosong Sampai Penuh
Sebuah buku anak populer menceritakan kisah tentang seorang anak kampung yang miskin bernama Bartolomeus. Saat ia melepas topinya untuk menghormati raja, tiba-tiba topi yang mirip muncul dan langsung bertengger di atas kepalanya. Hal itu membuat raja marah karena ia menganggap anak itu tidak menghormatinya. Bartolomeus melepas topi demi topi sambil diseret ke istana untuk dihukum. Setiap kali ia melepas topinya, topi baru segera muncul di atas kepalanya. Tiap topi yang baru lebih indah daripada topi sebelumnya, bahkan dihiasi permata mahal dan bulu-bulu mewah. Topinya yang ke-500 diincar oleh Raja Derwin, yang akhirnya mengampuni Bartolomeus dan membeli topi itu seharga 500 keping emas. Setelah itu, tidak ada lagi topi yang muncul di kepala Bartolomeus; ia menerima kebebasan dan uang yang dapat menghidupi keluarganya.
Terpisah tetapi Tidak Terabaikan
Karena haru, saya nyaris tak bisa berkata-kata saat harus berpisah dengan keponakan saya sebelum ia berangkat ke Massachusetts untuk menempuh kuliah pascasarjana di Universitas Boston. Meskipun ia pernah berkuliah di luar kota selama empat tahun, sekolahnya masih berada di negara bagian tempat kami tinggal. Hanya dengan berkendara 2,5 jam, kami dapat mudah bertemu dengannya. Namun sekarang ia berkuliah di kota yang jauhnya lebih dari 1.300 km. Kami tidak bisa lagi bertemu secara rutin untuk berbincang-bincang. Saya harus meyakini bahwa Allah yang akan memeliharanya.
Hidup dalam Kemah
Karena bertumbuh besar di Minnesota yang dikenal dengan danau-danaunya yang indah, saya senang pergi berkemah untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah. Namun, jujur saja, tidur di kemah yang tipis dan rapuh bukanlah bagian favorit dari pengalaman itu—apalagi saat hujan di malam hari dan kemah yang bocor membuat kantong tidur pun menjadi basah.
Jawaban Simon
Refuge Rabindranath telah melayani kaum muda di Sri Lanka lebih dari sepuluh tahun. Ia sering berinteraksi dengan para pemuda hingga larut malam—bermain bersama, mendengarkan, menasihati, dan mengajar mereka. Ia menikmati pelayanannya itu, tetapi terkadang ia juga merasa kecewa ketika murid-murid yang menjanjikan ternyata meninggalkan imannya. Adakalanya ia merasa seperti Simon Petrus di Lukas 5.
Manis, Asam, dan Pahit
Saat putra kami yang masih batita menggigit irisan lemon untuk pertama kalinya, ia mengerutkan hidung, menjulurkan lidah, dan memejamkan matanya. “A-cem,” katanya (asam).
Doa Harian
Penyanyi/penulis lagu, Robert Hamlet, menulis lagu “Lady Who Prays for Me” (Wanita yang Berdoa untukku) sebagai penghargaan kepada ibunya yang berkomitmen untuk mendoakan anak-anaknya setiap pagi sebelum mereka berangkat ke sekolah. Setelah seorang ibu muda mendengar Hamlet menyanyikan lagu tersebut, ia pun berkomitmen untuk mendoakan putra kecilnya. Apa yang terjadi setelah itu sangat mengharukan! Suatu hari, seperti biasa, sang ibu mendoakan putranya sebelum keluar rumah. Lima menit kemudian putranya itu kembali ke rumah . . . sambil mengajak anak-anak lain yang juga sedang menunggu bus sekolah! Ibunya yang terkejut menanyakan apa yang terjadi. Putranya menjawab, “Mama mereka tidak berdoa untuk mereka.”
Mencapai Garis Finis
Pada Olimpiade Rio 2016, perhatian dunia tertuju kepada dua atlet wanita dalam lomba lari 5.000 meter. Setelah menempuh jarak sekitar 3.200 meter, Nikki Hamblin asal Selandia Baru dan Abbey D’Agostino asal Amerika Serikat sempat bertabrakan dan sama-sama jatuh. Abbey segera berdiri kembali, tetapi ia berhenti untuk menolong Nikki. Beberapa saat setelah kedua atlet tersebut kembali berlari, Abbey mulai tertatih-tatih karena kaki kanannya cedera akibat jatuh tadi. Sekarang giliran Nikki yang berhenti dan memberi semangat kepada Abbey untuk menyelesaikan perlombaan. Ketika Abbey akhirnya melewati garis finis, Nikki telah menunggu di situ untuk memeluknya. Alangkah indahnya teladan yang mereka tunjukkan dalam saling memberi semangat!