Category  |  Santapan Rohani

Di Balik Layar

Putri saya mengirimkan pesan singkat pada seorang temannya, dengan harapan pertanyaannya akan dijawab dengan segera. Aplikasi pesan singkat di ponselnya menunjukkan bahwa si penerima telah membaca pesan tersebut, jadi putri saya dengan gelisah menantikan balasannya. Beberapa waktu berlalu, ia mulai merasa frustrasi dan kesal karena tidak kunjung mendapatkan balasan. Kekesalannya mulai berubah menjadi kecemasan; ia sempat bertanya-tanya apakah tidak adanya balasan itu berarti ada masalah di antara mereka. Namun akhirnya, balasan pun diterimanya dan ia merasa lega saat tahu hubungannya dengan temannya itu baik-baik saja. Ternyata temannya hanya sedang memilah-milah hal apa saja yang perlu dituliskannya untuk menjawab pertanyaan putri saya.

Ketika Ya Berarti Tidak

Saya bersyukur kepada Allah karena diberi kesempatan istimewa untuk merawat ibu saya dalam perjuangannya menghadapi penyakit leukemia. Ketika obat-obatan justru menambah rasa sakitnya, ibu memutuskan untuk menghentikan pengobatan. “Aku tak mau menderita lagi,” katanya. “Aku ingin menikmati hari-hari terakhirku bersama keluarga. Tuhan tahu aku sudah siap untuk pulang.”

Undangan Paling Istimewa

Sepanjang minggu yang baru lalu, saya menerima beberapa undangan lewat pos. Semua undangan untuk menghadiri seminar “gratis” tentang masa pensiun, perumahan, dan asuransi jiwa, langsung saya buang. Namun, undangan untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan dalam rangka menghormati seorang teman lama membuat saya langsung membalas, “Ya! Aku akan hadir.” Saya akan menjawab “Ya” pada undangan yang sesuai dengan kerinduan saya.

Hidup dan Mati

Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman itu. Saya sedang duduk di samping tempat tidur Richard pada saat ia meninggal dunia. Sungguh suatu pengalaman yang supernatural. Saya, adik Richard, dan seorang kawan sedang bercakap-cakap dengan suara yang lembut ketika kami menyadari bahwa napas Richard menjadi semakin berat. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil berjaga-jaga, menanti, dan berdoa. Ketika Richard menghembuskan napasnya yang terakhir, itu terasa seperti sebuah momen yang kudus; hadirat Allah melingkupi kami di tengah linangan air mata kami yang menangisi kepergian seorang pria berusia empat puluhan yang mengagumkan.

Diuji oleh Api

Musim dingin yang lalu, ketika mengunjungi museum sejarah alam di Colorado, saya menemukan sejumlah fakta yang luar biasa tentang pohon aspen. Pepohonan aspen dengan batang-batang putihnya yang menjulang dapat tumbuh dari satu benih saja dengan jaringan akar yang sama. Jaringan akar itu sanggup bertahan ribuan tahun baik yang bertumbuh menjadi tunas pohon aspen atau tidak. Jaringan tersebut tidur di bawah tanah, sambil menantikan kebakaran, banjir, atau tanah longsor untuk membuka jalan bagi mereka di tengah hutan yang teduh. Setelah bencana alam mengosongkan lahannya, akar-akar aspen itu akhirnya dapat merasakan sinar matahari. Akar-akar itu memunculkan pohon muda, yang kemudian menjadi pohon-pohon aspen.

Menghasilkan Buah yang Baik

Pemandangan yang terlihat dari jendela pesawat yang saya tumpangi sungguh mempesona: ladang gandum yang siap dituai dan kebun buah-buahan yang terbentang di antara dua gunung yang tandus. Di lembah itu terdapat sebuah sungai. Tanpa air sungai yang memberikan hidup itu, pohon-pohon di sekitarnya tidak akan dapat menghasilkan buah.

Menampilkan Gambar Diri

Untuk memperingati ulang tahun Winston Churchill ke-80, parlemen Inggris menugasi Graham Sutherland untuk melukis potret negarawan terkenal itu. Konon Churchill bertanya kepada sang seniman: “Bagaimana Anda akan melukis saya? Seperti malaikat atau buldog?” Churchill menyukai kedua persepsi populer tentang dirinya itu. Sutherland pun berkata bahwa ia akan melukis seperti yang dilihatnya.

Bertolak Belakang

Seorang guru tamu dari Amerika Utara mendapat pelajaran berharga saat mengajar para mahasiswa dari Asia Tenggara. Setelah memberikan ujian yang berisi soal-soal pilihan ganda kepada mahasiswanya, ia merasa heran melihat banyaknya pertanyaan yang tidak dijawab. Saat mengembalikan lembar-lembar jawaban yang telah dikoreksi, ia menyarankan agar lain kali sebaiknya mereka menebak saja apa yang kira-kira menjadi jawabannya, daripada tidak menjawab sama sekali. Seorang mahasiswa yang terkejut mengangkat tangan dan bertanya, “Bagaimana jika saya secara kebetulan memberikan jawaban yang benar? Itu berarti saya memberikan kesan bahwa saya tahu jawabannya, padahal sebenarnya tidak.” Mahasiswa dan guru itu mempunyai sudut pandang dan penerapan yang berbeda.

Bukanlah Engkau

Daud telah menyusun semua rencana. Ia merancang perkakasnya. Ia mengumpulkan bahan-bahannya. Ia mengatur segala sesuatu (lihat 1Taw. 28:11-19). Namun, Bait Suci yang pertama kali dibangun di Yerusalem dikenal sebagai Bait Suci Salomo, dan bukan Bait Suci Daud.