Hadiah Terbaik
Minggu-minggu setelah Natal merupakan waktu-waktu paling sibuk di Amerika Serikat bagi bagian pengembalian barang. Itulah saatnya orang menukarkan hadiah yang tidak mereka inginkan dengan barang yang benar-benar mereka inginkan. Namun Anda mungkin mengenal beberapa orang yang tampaknya selalu memberikan hadiah yang terbaik. Bagaimana caranya mereka tahu persis apa yang tepat dan memang diinginkan orang lain? Kuncinya tidak terletak pada nilai uang yang dikeluarkan, tetapi pada sikap yang mau mendengarkan orang lain dan memperhatikan sungguh-sungguh apa yang mereka sukai dan hargai.
Hidup Bersyukur
Karena ingin bertumbuh semakin matang dalam kehidupan rohani dan semakin giat mengucap syukur, Sue membuat stoples yang diberinya label Hidup Bersyukur. Setiap malam ia menuliskan satu hal yang disyukurinya dari Allah pada secarik kertas kecil dan memasukkannya ke dalam stoples itu. Adakalanya dalam satu hari ia dapat menuliskan banyak ucapan syukur, tetapi di hari-hari yang berat, ia bergumul untuk menemukan satu hal yang membuatnya bersyukur. Pada akhir tahun, ia mengeluarkan semua kertas dari dalam stoples tersebut dan membaca lagi semua tulisannya. Ia pun kembali bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya. Allah telah memberinya hal-hal sederhana seperti indahnya matahari saat terbenam atau senja yang sejuk untuk berjalan-jalan di taman, dan di saat-saat lain Dia telah memberikan kekuatan untuk menangani situasi yang sulit atau telah menjawab doanya.
Sekaranglah Harinya
Maggie, cucu kami yang berusia prasekolah, dan Katie, saudaranya yang sudah TK, menarik beberapa lembar selimut ke halaman belakang untuk membangun tenda yang akan menjadi tempat mereka bermain. Setelah mereka bermain di luar beberapa waktu lamanya, tiba-tiba Maggie memanggil ibu mereka.
Waktu Pribadi Bersama Allah
Pagi itu suasana di kelas sekolah Minggu tempat saya melayani sangat ramai. Sekitar 12 anak kecil terus berceloteh dan bermain di ruangan. Karena banyaknya kegiatan yang berlangsung, ruangan kami menjadi panas. Saya pun membuka pintu ruangan dan mengganjalnya. Seorang anak laki-laki melihat itu sebagai kesempatan untuk kabur. Ia pun berjingkat keluar dari ruangan, mengira tidak ada yang memperhatikannya. Setelah membuntutinya, saya pun tidak heran menemukan bahwa ia mencari ayahnya dan langsung memeluknya.
Cincin Meterai
Ketika pertama kalinya berkenalan dengan seorang teman dari luar negeri, saya tertarik pada logatnya yang sangat bagus dan sebuah cincin yang terdapat pada jari kelingkingnya. Belakangan saya mengetahui bahwa cincin itu bukan sekadar perhiasan. Sebuah lambang yang terukir pada cincin itu menunjukkan tempatnya dalam silsilah keluarganya.
Diikat dalam Kasih
Pada bulan Juni 2015, pemerintah kota Paris membuang gembok-gembok seberat 45 ton dari terali jembatan pejalan kaki Pont des Arts. Para pasangan kekasih yang mengikat cinta di sana menuliskan huruf awal nama mereka pada sebuah gembok, mengaitkan gembok itu pada terali jembatan, menguncinya, lalu melemparkan kuncinya ke sungai Seine.
Kesaksian Sederhana
Tawa keras tiba-tiba keluar dari kamar rumah sakit tempat ayah saya dirawat. Di kamar itu berkumpul dua pengemudi truk berusia lanjut, seorang mantan penyanyi lagu country, seorang perajin, dua wanita dari peternakan, dan saya sendiri.
Tepat Waktu
Kadang saya bercanda bahwa saya akan menulis buku dengan judul Tepat Waktu. Mereka yang mengenal saya pasti tersenyum karena mereka tahu saya punya kebiasaan suka terlambat. Saya beralasan bahwa keterlambatan saya itu disebabkan karena saya terlalu optimis, bukannya karena kurang berusaha. Maksud saya, dengan penuh optimisme saya bersikeras mempercayai bahwa “kali ini” saya akan mampu memenuhi tanggung jawab saya dalam waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. Namun kenyataannya, saya tidak mampu, dan saya tidak bisa memenuhinya. Pada akhirnya saya lagi-lagi harus meminta maaf atas kegagalan saya untuk datang tepat waktu.
Kesukaan bagi Semua
Di hari terakhir dari sebuah konferensi penerbit Kristen di Singapura, 280 peserta dari 50 negara berkumpul di halaman hotel untuk berfoto bersama. Dari balkon di lantai 2, setelah mengambil banyak foto dari sudut yang berbeda-beda, sang fotografer akhirnya berkata, “Sudah selesai!” Lalu salah seorang peserta berseru, “Joy to the world!” (“Hai dunia, gembiralah!”). Perkataan itu langsung diikuti oleh seseorang dengan nyanyian, “The Lord is come” (“Tuhan sudah datang”). Peserta-peserta lainnya mulai ikut menyanyi, dan tidak lama kemudian seluruh peserta menyanyikan pujian Natal yang tidak asing itu dalam suatu paduan suara yang indah. Saya tidak akan pernah melupakan peragaan kesatuan dan sukacita yang mengharukan itu.