Category  |  Santapan Rohani

Persaudaraan dalam Kristus

Studi Perkembangan Orang Dewasa yang dilakukan oleh Universitas Harvard merupakan penelitian yang sudah berjalan selama beberapa dekade. Hasil proyek tersebut memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya jalinan hubungan yang sehat antarmanusia. Riset dimulai dari 268 mahasiswa tingkat dua Universitas Harvard pada dekade 1930-an dan kemudian meluas hingga mencakup, antara lain, 456 warga kota Boston. Para peneliti mewawancarai para peserta dan meneliti catatan medis mereka setiap beberapa tahun sekali. Mereka menemukan bahwa ternyata hubungan yang erat dengan orang lain menjadi faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan dan kesehatan. Ternyata, besar kemungkinan kita akan merasakan sukacita yang lebih mendalam apabila hidup kita dikelilingi oleh orang-orang yang tepat.

Teguh Ditopang oleh Kebenaran

Keluarga saya tinggal dalam sebuah rumah unik yang berusia hampir satu abad, lengkap dengan dinding plester bertekstur indah. Seorang kontraktor mewanti-wanti saya bahwa dengan dinding seperti itu, untuk menggantung lukisan, saya harus memakukannya pada pasak kayu atau menggunakan jangkar sekrup sebagai penyangga. Jika tidak, ada kemungkinan lukisannya akan jatuh dan meninggalkan lubang menganga pada dinding.

Di Taman Sepi

Mendiang ayah saya senang menyanyikan lagu-lagu himne dari masa silam. Salah satu himne favoritnya adalah “Waktu Fajar di Taman Sepi” (judul dalam Pelengkap Kidung Jemaat No. 246). Beberapa tahun lalu, kami menyanyikannya dalam kebaktian pemakaman beliau. Refrainnya sederhana tetapi begitu indah: “Dan suara Yesus memanggilku, bergembiralah hatiku! Sungguh indah persekutuanku bersama dengan Yesus.” Pujian itu memberikan sukacita bagi ayah saya, dan juga bagi saya.

Mengarungi Ombak

Saat suami saya berjalan menyusuri pantai sambil mengambil foto-foto cakrawala di Hawaii, saya duduk di sebuah batu besar, resah memikirkan kondisi kesehatan saya yang kembali memburuk. Meski masalah tetap akan ada ketika saya pulang ke rumah nanti, saat itu saya benar-benar membutuhkan ketenangan. Saya menatap ombak demi ombak menerjang batu-batu karang berwarna hitam, dan perhatian saya tertuju kepada bayangan gelap di atas ombak itu. Dengan memakai fitur zoom pada kamera, dari bentuknya saya mengenali bayangan itu sebagai seekor penyu yang mengarungi ombak dengan santai. Kedua kaki depannya terbentang lebar, tenang tak bergerak. Saya tersenyum sembari membiarkan wajah saya tertiup angin sepoi-sepoi dari laut.

Harga yang Harus Dibayar

Karya-karya seni Michelangelo mengeksplorasi banyak segi kehidupan Yesus, tetapi salah satu karyanya yang paling mengharukan datang dari salah satu yang paling sederhana. Pada dekade 1540-an, Michelangelo membuat sketsa “pieta” (gambar ibu Yesus memangku tubuh Kristus yang sudah mati) untuk sahabatnya, Vittoria Colonna. Gambar yang dibuat dengan kapur itu melukiskan Maria yang menengadah ke langit sambil memangku tubuh Sang Putra yang sudah kaku. Menjulang di belakang Maria adalah sebuah salib yang pada palangnya tercantum kata-kata dari sajak berjudul Paradise (Firdaus) karya Dante, “Tidak terpikirkan oleh mereka harga darah yang tertumpah.” Maksud Michelangelo sangat tegas: ketika kita merenungkan kematian Kristus, kita juga harus memikirkan besarnya harga yang telah Dia bayar.

Ringan Tangan

Seseorang menelepon ke sebuah stasiun radio Kristen bercerita tentang istrinya yang baru pulang ke rumah setelah menjalani operasi di rumah sakit. Kemudian ia mengungkapkan sesuatu yang sangat menyentuh hati saya: “Setiap orang dalam gereja kami begitu ringan tangan dalam memenuhi kebutuhan kami selama masa-masa tersebut.”

Memilah dengan Bijak

Suatu waktu, cucu-cucu saya berlarian mengelilingi halaman belakang rumah saya. Apakah mereka sedang bermain? Tidak, mereka sedang mencabuti rumput liar. “Aku mencabut rumput sampai ke akar-akarnya!” seru cucu saya yang paling kecil sambil menunjukkan seberkas besar rumput. Ia begitu gembira membantu saya menyiangi kebun hari itu dengan mencabuti rumput-rumput liar dan membuang setiap gulma yang mengganggu. Namun, sebelum bisa mencabutinya, kami harus memilah-milahnya dahulu.

Hidung yang Rusak

“Mengapa hidung patung-patung itu rusak semua?” Itulah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para pengunjung museum kepada Edward Bleiberg, kurator seni Mesir kuno di Museum Brooklyn.

Berperang bersama Allah

Tindakan kepahlawanan Desmond Doss, seorang tentara Angkatan Darat Amerika Serikat, diangkat ke layar perak pada tahun 2016 dengan judul Hacksaw Ridge. Doss menganut keyakinan yang melarangnya merenggut nyawa sesama manusia, dan sebagai petugas medis di kemiliteran ia berkomitmen untuk memelihara nyawa orang lain, meskipun dengan risiko kehilangan nyawanya sendiri. Dalam penganugerahan Medali Kehormatan untuk Doss pada tanggal 12 Oktober 1945, tanda penghargaannya mencantumkan kata-kata berikut: “Prajurit Satu Doss menolak berlindung dan tetap berada di medan perang bersama banyak tentara yang cedera, membopong mereka satu per satu hingga ke pinggir lereng curam . . . Tanpa ragu dan dengan gagah berani ia menembus hujan peluru dan tembakan senjata musuh untuk menolong seorang prajurit artileri.”