Category  |  Santapan Rohani

Melupakan Dosa-Dosa Kita

Julie dan suaminya merasa sedih dan menyesal ketika mereka mengetahui bahwa putri mereka telah mengutil selama ini. Namun, saat ia datang dan mengaku kepada mereka dengan hati yang sangat sedih, dengan pertolongan Allah, mereka mengampuninya—lalu membantunya membayar ganti rugi dan menjalani konseling. Namun, beberapa bulan setelah pengakuan tersebut, putri mereka sempat menyatakan bagaimana ia merasa orangtuanya mungkin tidak lagi mempercayainya. Meski Julie bertanya-tanya tentang maksud sang putri, ia tidak langsung terpikir tentang kesalahan anaknya itu. Karena Allah telah menghapuskan rasa sakit itu dari pikirannya, Julie juga memutuskan untuk tidak terjebak dengan masa lalu, melainkan meminta Allah untuk menolongnya rela mengampuni.

Sabar terhadap Satu Sama Lain

Beberapa hari lalu, saya berhenti di belakang sebuah mobil di suatu persimpangan jalan dan memperhatikan stiker berwarna cerah yang terpasang di jendela belakangnya, yang bertuliskan: “Pengemudi Baru. Mohon Bersabar.” Dengan banyaknya tindakan membabi buta di jalanan yang kita dengar (atau alami sendiri), stiker itu menjadi pengingat yang sangat baik agar kita dapat bersabar terhadap sesama pengemudi lainnya.

Allah Menyertai di Segala Usia Kita

Sebuah penelitian dari Denmark menjelajahi fenomena yang dialami oleh kebanyakan dari kita: seringnya kita menganggap diri lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Hasil temuannya menawarkan sebuah konstanta—berapa pun usia kita sekarang ini, kita semua melihat diri kita 20 persen lebih muda dari yang sebenarnya. Seseorang yang berusia 50 tahun cenderung membayangkan dirinya berusia 40 tahun. (Bayangkan skenario lucu ketika seorang anak berpikir, “Hore, usiaku sepuluh tahun, tetapi kekuatan dan penampilanku seperti anak berusia delapan tahun!”)

Kemurahan Hati dalam Yesus

Semasa gerakan perjuangan hak-hak sipil di AS, Leah Chase, juru masak terkenal asal New Orleans, melakukan apa yang ia bisa untuk mendukung gerakan itu. Ia pun memasak dan memberi makan para pendemo yang sedang berunjuk rasa menuntut kesetaraan hak. Ia berkata, “Saya hanya menyediakan makanan. Orang-orang itu sedang memperjuangkan sesuatu, dan mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi di luar sana. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka di jalanan. Akan tetapi, ketika ada di sini, mereka tahu saya akan memberi mereka makan. Itulah yang dapat saya lakukan bagi mereka.”

Dilema Spiritual

Dalam satu hari, umumnya orang mengecek ponselnya sebanyak 150 kali. Bayangkan sejenak hal tersebut. Ada yang menyita perhatian kita, dan bisa jadi hal itu tidak membawa kebaikan bagi kita. Itulah yang diyakini Tristan Harris. Ia adalah salah satu narasumber dalam film yang dibintangi oleh tokoh-tokoh ternama di bidang teknologi, yaitu mereka yang memperkenalkan kita kepada “media sosial.” Akan tetapi, alih-alih memberikan pujian, mereka justru menyuarakan peringatan, dengan menyebut realitas kita hari ini (dan juga menamai filmnya) sebagai The Social Dilemma (Dilema Sosial). “Kita adalah produknya. Perhatian kita adalah produk yang diperjualbelikan kepada para pemasang iklan.” Kita tentu memberikan perhatian kita kepada sesuatu yang kita anggap berharga atau layak. Namun, tidak jarang apa yang kita berikan perhatian itu bisa jadi sesuatu yang akhirnya kita puja.

Harta Bapa Kita

Saya mempunyai sebuah pisau lipat tua yang sudah usang dan tergerus oleh waktu. Bilah pisaunya sompek dan gagangnya penuh goresan, tetapi itu adalah salah satu harta ayah saya, disimpan di dalam sebuah kotak di atas lemari hingga ia memberikannya kepada saya. “Ini salah satu dari beberapa barang yang Ayah miliki dari kakekmu,” katanya kepada saya. Kakek saya meninggal ketika ayah saya masih muda, dan Ayah menghargai pisau tersebut karena ia menghargai ayahnya.

Menolak Menggerutu kepada Allah

Sebagai jawaban atas doanya, Alex dapat melunasi biaya perawatan giginya dengan sumber dana yang tidak terduga dari asuransi kesehatannya. Namun, masih ada perawatan lain yang ia butuhkan. Dari mana lagi saya mendapatkan uang untuk itu? Alex menggerutu. Kejengkelan akan besarnya biaya yang harus ia keluarkan memenuhi pikirannya.

Semuanya Sudah Diampuni

Dalam salah satu cerita pendeknya, Ernest Hemingway mengisahkan tentang seorang ayah asal Spanyol yang rindu untuk dapat bersatu kembali dengan sang putra yang telah menjauh darinya. Ia memasang iklan di surat kabar lokal dengan tulisan: Paco, temui Ayah di Hotel Montana pada hari Selasa siang. Semuanya sudah diampuni. Ketika ayah tersebut tiba, ia menemukan kerumunan orang sedang menunggu. Delapan ratus Paco telah menanggapi iklan tersebut, dan mereka semua mendambakan pengampunan dari ayah mereka.

Kemenangan dari Kebaikan Hati

Ketika Jackie Robinson, pemain kulit hitam pertama di Liga Utama Bisbol modern, bertanding di Shibe Park, Philadelphia, tanggal 9 Mei 1947, Doris yang berusia 10 tahun berada di tribun atas bersama ayahnya. Ketika seorang pria tua berkulit hitam berjalan menuju kursi di sebelah mereka, ayah Doris membuka percakapan untuk berkenalan dengan pria tersebut. Doris mengatakan bahwa percakapan kedua pria tentang skor pertandingan bisbol itu membuat ia merasa lebih dewasa. Di kemudian hari, ia berujar, “Aku takkan pernah lupa bapak itu dan juga senyum di wajahnya.” Interaksi yang menyenangkan antara Doris, seorang gadis muda berkulit putih, dan pria tua baik hati dari keturunan budak tersebut menjadikan hari itu istimewa.