Hina tetapi Dikasihi Allah
Pada suatu hari di gereja, saya menyapa sebuah keluarga yang sedang berkunjung. Saya berlutut di samping kursi roda gadis kecil dari keluarga itu, memperkenalkannya kepada anjing penolong saya, Callie, dan memuji kacamata serta sepatu bot merah mudanya yang cantik. Meski ia tidak dapat berbicara, senyumnya menunjukkan bahwa ia menikmati percakapan kami. Seorang gadis kecil lain menghampiri kami, tetapi menghindari kontak mata dengan teman baru saya tadi. Ia berbisik, “Tolong bilang kepadanya, aku suka gaunnya.” Saya berkata, “Kamu boleh bilang sendiri kepadanya. Dia baik, seperti kamu.” Saya menjelaskan betapa mudahnya berbicara dengan gadis tadi, meski ia berkomunikasi dengan cara berbeda. Selain itu, cara kita memandang serta tersenyum kepadanya akan membantu ia merasa diterima dan dikasihi.
Paradoks Visual Kristus
Himne “When I Survey the Wondrous Cross” (Memandang Salib yang Agung, KRI 211) adalah karya Isaac Watts, salah satu penulis lagu himne terbesar sepanjang masa. Dalam lirik sajaknya, ia menggunakan majas paradoks untuk menunjukkan tema yang kontras: “Kemuliaan pada diriku hanya kehinaan belaka.” Terkadang kita menyebut ungkapan semacam itu sebagai oksimoron, yaitu penggunaan kata-kata yang seakan saling bertentangan, seperti “perang saudara” dan “isak tangis bahagia.” Dalam lirik yang digubah Watts, penggunaan paradoksnya jauh lebih mendalam.
Kasih Bapa Kita
Kim duduk di dekat jendela, siap dengan tasnya, menunggu kedatangan ayahnya dengan penuh semangat. Namun, saat langit berubah gelap dan hari menjadi malam, antusiasmenya surut. Ia sadar, lagi-lagi ayahnya tidak datang.
Tergerak untuk Bercerita
“Kamu tahu Yesus mengasihimu. Dia benar-benar mengasihimu.” Itulah kata-kata terakhir John Daniels. Hanya beberapa detik setelah memberikan uang kepada seorang tunawisma dan mengucapkan kata-kata perpisahan itu, ia tertabrak mobil dan tewas seketika. Lembar warta dari kebaktian untuk mengenang hidup John mencantumkan kisah ini, “Ia ingin mencoba untuk menjangkau lebih banyak orang, jadi pada suatu Minggu sore, saat ia berusaha menolong seorang pria, Allah memberinya jalan untuk menjangkau dunia. Semua saluran TV lokal menyiarkan berita tentang dirinya, dan berita itu disaksikan oleh teman-teman, keluarga, dan banyak orang di seluruh negeri.”
Bertanya kepada Yesus
“Andaikan Yesus benar-benar duduk semeja dengan kita pagi ini, apa yang ingin kalian tanyakan kepada-Nya?” tanya Joe kepada anak-anaknya saat sarapan. Anak-anak yang laki-laki memikirkan beberapa pertanyaan yang mereka anggap paling sulit. Mereka memutuskan ingin menanyai Yesus soal matematika paling sukar dan meminta-Nya menjelaskan seberapa besar alam semesta itu sesungguhnya. Lalu, putrinya menjawab, “Aku ingin meminta-Nya memelukku.”
Menjadi Kudus
Setelah mengunjungi pameran patung keramik kelas dunia di sebuah museum seni, saya diundang untuk membuat sebuah wadah kecil dari tanah liat yang mudah mengering. Saya menghabiskan waktu dua jam untuk membuat sebuah mangkuk kecil, mengukir pola, dan melukisnya. Hasil kerja keras saya cukup mengecewakan: sebuah mangkuk mungil yang buruk rupa dengan warna yang tidak merata. Yang pasti, hasilnya tidak pantas untuk dipamerkan di museum mana pun.
Allah Fondasi Kita yang Teguh
Rumah kami perlu direnovasi, karena dinding dapur mulai rontok dan lantainya sudah melengkung. Setelah sebagian besar dapur dirobohkan, para tukang bangunan mulai menggali tanah untuk membuat fondasi yang baru. Saat itulah sesuatu yang tidak lazim terjadi.
Diberkati untuk menjadi Berkat
Selama bertahun-tahun menjadi jurnalis, saya senang menceritakan kisah-kisah orang lain, tetapi saya diajarkan untuk tidak memberikan pendapat saya sendiri. Jadi, bertahun-tahun setelah saya merasa Allah memanggil saya untuk meninggalkan karier jurnalistik tersebut, dan semakin yakin bahwa Allah mengarahkan saya untuk menulis blog dan berbicara tentang Dia, saya merasa cukup canggung harus membagikan isi pikiran saya, terutama tentang iman saya. Saat saya mulai menulis di blog, saya takut bahwa saya akan kehabisan bahan untuk dibahas. Namun, pekan demi pekan, saya menemukan kata-kata yang menguatkan dan wawasan untuk dibagikan. Semakin sering saya menulis, semakin banyak ide yang mengalir. Saya masih merasakannya sampai sekarang.
Sikap Takut yang Sehat
Jeremy menulis, “Saya cukup tahu tentang ketakutan akan kematian. Tujuh tahun yang lalu . . . saya merasakan ketakutan yang intens dan hebat, hingga membuat mual dan pusing, saat diberi tahu bahwa saya mengidap kanker yang tidak bisa disembuhkan.” Namun, ia belajar mengelola rasa takutnya dengan bersandar pada hadirat Allah, dan beralih dari ketakutan akan kematian kepada sikap takut yang mendalam akan Allah sendiri. Bagi Jeremy, itu berarti mengagumi Sang Pencipta alam semesta yang akan “meniadakan maut” (Yes. 25:8) sekaligus memahami secara mendalam bahwa Allah mengenal dan mengasihinya.