Berserah kepada Allah
Allah tidak menolong orang-orang yang berupaya dengan kekuatan mereka sendiri, melainkan menolong mereka yang percaya dan berserah kepada-Nya. Kebenaran tersebut disadari betul oleh Jonathan Roumie, aktor yang memerankan Yesus dalam serial televisi yang didasarkan pada kisah Injil, The Chosen. Roumie sudah delapan tahun tinggal di Los Angeles dan nyaris bangkrut. Ia menganggur dan hanya mempunyai makanan yang cukup untuk hari itu. Tidak tahu lagi harus berbuat apa, aktor itu pun menumpahkan seluruh isi hatinya dan menyerahkan kariernya kepada Allah. “Aku sunguh-sungguh berdoa, ‘Aku berserah, aku berserah.’” Pada suatu hari di bulan Mei 2018, ia menemukan empat lembar cek di kotak suratnya, dan tiga bulan kemudian, ia terpilih untuk memerankan Yesus dalam serial The Chosen. Roumie mengalami sendiri bahwa Allah akan menolong mereka yang percaya kepada-Nya.
Menerjang Bahaya
Pada tahun 1892, seorang penderita kolera secara tidak sengaja menularkan penyakitnya melalui aliran Sungai Elbe di Hamburg, Jerman, ke seluruh pasokan air negeri itu. Hanya dalam beberapa minggu, sepuluh ribu warga meninggal dunia. Delapan tahun sebelumnya, Robert Koch, ahli mikrobiologi asal Jerman, sudah menemukan bahwa kolera ditularkan melalui air. Penemuan Koch tersebut mendorong para pejabat di kota-kota besar Eropa untuk berinvestasi dalam sistem penyaringan yang akan melindungi air di kota mereka. Namun, pemerintah kota Hamburg tidak melakukan apa-apa. Dengan alasan biaya dan ketidakpercayaan pada penemuan tadi, mereka mengabaikan peringatan-peringatan yang sangat jelas sementara bencana terus mengancam warga kota mereka.
Kristus, Terang Kita yang Sejati
“Pergilah ke arah cahaya!” Begitulah saran suami saya saat kami kesulitan menemukan jalan keluar dari sebuah rumah sakit besar pada hari Minggu sore baru-baru ini. Kami baru saja membesuk seorang teman, dan ketika keluar dari lift, kami tidak dapat menemukan siapa pun yang dapat mengarahkan kami ke pintu keluar dan juga ke arah sinar matahari Colorado yang cerah. Saat menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang remang-remang, kami akhirnya bertemu seorang pria yang menyadari kebingungan kami. “Lorong-lorong ini tampak sama semua,” katanya. “Namun, jalan keluarnya lewat sini.” Berkat arahannya, kami pun menemukan pintu keluar—yang memang membawa kami kepada sinar matahari yang cerah.
Di dalam Taman
Ayah saya senang berada di alam terbuka untuk berkemah, memancing, dan berburu bebatuan. Ia juga senang bekerja di pekarangan dan kebun, meski hal itu membutuhkan kerja keras! Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memangkas, mencangkul, menanam benih atau bunga, mencabuti rumput liar, memotong rumput, serta menyirami pekarangan dan kebunnya. Hasilnya memang sepadan—halaman rumput yang rapi, tomat yang segar, dan mawar yang cantik. Setiap tahun Ayah memangkas tanaman mawar sampai pendek mendekati tanah, dan setiap tahun juga tanaman bunga itu akan tumbuh kembali—memenuhi indra dengan aroma dan keindahannya.
Yang Pertama di dalam Daftar
Pagi hari yang saya jalani selalu bermula seperti suatu perlombaan lari. Begitu bangun, saya melompat dari tempat tidur dan terjun langsung menangani sederet target yang harus diselesaikan hari itu. Mengantar anak-anak ke sekolah. Sudah. Pergi ke kantor. Sudah. Saya mengerahkan segenap tenaga untuk menuliskan daftar tugas yang harus saya lakukan, dengan tanggung jawab pribadi dan pekerjaan datang bertubi-tubi bagaikan longsor:
Memakai Kemampuan bagi Kristus
Pernahkah Anda mendengar tentang “The Sewing Hall of Fame”? Penghargaan yang dimulai pada tahun 2001 ini memberikan apresiasi kepada orang-orang yang telah memberi “dampak besar pada industri jahit rumahan dengan kontribusi yang unik dan inovatif melalui pendidikan menjahit dan pengembangan produk”. Penerima penghargaan itu termasuk nama-nama seperti Martha Pullen, yang menerimanya pada tahun 2005 dan digambarkan sebagai “seorang wanita peneladan Amsal 31 yang . . . tak pernah lalai untuk mengakui secara terbuka sumber kekuatan, inspirasi, dan berkatnya.”
Sauh Pengharapan Kita
Saya mengangkat sebuah gambar yang memperlihatkan orang-orang yang tidur di bawah lembaran karton pada gang remang-remang. Lalu saya bertanya kepada murid-murid kelas enam di sekolah Minggu, “Apa yang mereka butuhkan?” “Makanan,” jawab seorang murid. “Uang,” kata yang lain. “Tempat berlindung,” kata seorang anak laki-laki. Lalu seorang gadis berkata: “Harapan.”
Siapakah Aku Ini?
Kizombo duduk memandangi api unggun, sambil merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya. Apa yang sudah kucapai? pikirnya. Dengan cepat pertanyaan itu terjawab: Sebenarnya tidak banyak. Kizombo kembali ke tanah kelahirannya untuk melayani di suatu sekolah yang didirikan ayahnya jauh di dalam kawasan hutan tropis. Ia juga mencoba untuk menuliskan kisah hidup ayahnya sebagai penyintas dua perang saudara. Siapa aku ini, merasa bisa melakukan semua ini?
Jalan Allah yang Tidak Terduga
Pendeta Jonathan Edwards menyipitkan mata dan mendekatkan teks khotbah ke wajahnya agar dapat membaca tulisan di depannya. Rabun jauhnya sangat parah dan beliau membaca setiap kalimat yang telah disusunnya secara cermat dengan suara monoton yang membosankan. Namun, Roh Allah bekerja melalui khotbah hamba-Nya itu untuk mengobarkan api Kebangunan Rohani Besar Pertama dan membawa ribuan orang beriman kepada Kristus.