Category  |  Santapan Rohani

Setiap Duka

“Kutimbang setiap Duka yang kujumpai,” tulis penyair abad ke-19 Emily Dickinson, “Dengan mata menyipit penuh selidik – / Apakah bobotnya serupa dengan Lukaku, ingin aku tahu – / Ataukah bebannya sedikit lebih Mudah.” Puisi tersebut merupakan perenungan yang mendalam tentang kecenderungan manusia untuk terus mengingat-ingat bagaimana mereka telah dilukai di sepanjang hidup mereka. Dickinson mengakhiri puisinya, hampir seperti bimbang, dengan satu-satunya pelipur lara yang ia dapatkan: “Penghiburan dari luka tusukan paku” saat memandang Kalvari, dan menemukan lukanya sendiri tecermin dalam luka Sang Juruselamat: “Masih tertegun saat menyadari / Ada Luka – yang tak berbeda dari lukaku sendiri –.”

Pengharapan dalam Duka

Louise adalah seorang anak perempuan yang aktif, ceria, dan menyenangkan semua orang yang dijumpainya. Sayangnya, pada usia lima tahun, hidupnya direnggut oleh sebuah penyakit langka. Kematiannya yang mendadak mengguncang kedua orangtuanya, Day Day dan Peter, dan kami semua yang bekerja bersama mereka. Kami ikut merasakan dukacita yang mendalam. 

Mengingat dalam Doa

Pada tahun 2021, Malcolm Cloutt menerima Maundy Money, suatu anugerah tahunan yang diberikan Ratu Elizabeth II kepada warga Inggris. Cloutt, yang berusia 100 tahun ketika menerima penghormatan itu, diberi penghargaan karena ia telah membagi-bagikan lebih dari seribu jilid Alkitab selama hidupnya. Cloutt menyimpan daftar nama orang-orang yang telah menerima Alkitab darinya dan mendoakan mereka secara teratur. 

Dipenuhi Roh

Penulis Scot McKnight bercerita tentang pengalamannya “dipenuhi Roh” ketika ia masih duduk di bangku SMA. Pada suatu acara retret, pembicara menantangnya untuk menjadikan Yesus sebagai raja dalam hidupnya dengan berserah kepada Roh Kudus. Kemudian, Scot duduk di bawah sebatang pohon dan berdoa, “Bapa, ampunilah dosa-dosaku. Roh Kudus, tinggallah di dalamku dan penuhilah aku.” Sesuatu yang besar terjadi, kata Scot. “Sejak saat itu hidupku benar-benar berbeda. Tidak sempurna, tetapi berbeda.” Ia pun mempunyai kerinduan besar untuk membaca Alkitab, berdoa, bersekutu dengan orang percaya lainnya, dan melayani Allah. 

Ruang Hening

Jika Anda menyukai kedamaian dan ketenangan, Anda pasti akan menyukai sebuah ruangan di Minneapolis, Minnesota. Ruangan itu dapat menyerap bunyi sampai 99,99 persen! Ruang bebas gema (anechoic) yang terkenal itu terdapat di dalam Orfield Laboratories dan disebut sebagai “tempat paling sunyi di bumi”. Orang yang ingin merasakan ruang tanpa bunyi itu diharuskan duduk agar tidak mengalami disorientasi yang disebabkan oleh ketiadaan bunyi. Menurut catatan, tak seorang pun mampu menghabiskan waktu lebih dari empat puluh lima menit di dalam ruangan itu.

Mengenakan Kerendahan Hati

Dalam sebuah episode acara televisi Undercover Boss, seorang CEO perusahaan waralaba es krim menyamar dengan mengenakan seragam kasir. Dengan mengenakan wig dan riasan untuk menyamarkan identitasnya, ia berpura-pura menjadi pegawai “baru” di salah satu toko waralabanya. Tujuannya adalah untuk melihat langsung cara kerja dapurnya sekaligus kenyataan yang terjadi di lapangan. Dari pengamatannya tersebut, ia dapat menyelesaikan beberapa masalah yang dihadapi toko tersebut.

Mengendap-endap dengan Dosa

Anjing kami Winston tahu bahwa ia tidak boleh menggigit sepatu. Jadi ia pun menggunakan siasat, yaitu mengendap-endap. Jadi, kalau Winston sudah mengincar sepatu yang tidak bertuan, ia akan berjalan santai mendekati sepatu itu, menyambarnya, lalu terus berjalan. Mengendap-endap. Seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan terus melenggang ke luar jika tidak ada yang memperhatikan. Anak saya yang menyadarinya akan berujar, “Ma, Winston baru saja mengendap-endap dengan sepatu Mama ke luar rumah.”

Melakukan yang Benar

Saya dan istri terkejut menerima sepucuk surat dari “Jason”, seorang narapidana. Kami telah mengasuh anak-anak anjing hingga menjadi anjing terlatih untuk membantu para penyandang disabilitas. Anak anjing yang berhasil lolos akan mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh para narapidana yang telah diajari untuk melatih anjing. Dalam suratnya, Jason mengutarakan penyesalan atas masa lalunya, tetapi ia berkata, ”Snickers adalah anjing ketujuh belas yang pernah saya latih, dan juga yang terbaik. Saat melihat Snickers menatap saya, saya merasa akhirnya saya melakukan sesuatu yang benar.”

Apa Tujuan Hidup Saya?

“Saya merasa begitu tidak berguna,” kata Harold. “Saya sudah duda dan pensiun. Sementara anak-anak sibuk dengan keluarga mereka masing-masing, saya menghabiskan hari demi hari yang sunyi dengan melamun.” Sering ia berkata kepada putrinya, “Ayah sudah tua dan sudah banyak makan asam garam. Tidak ada lagi yang kukejar dalam hidup ini. Allah boleh mengambil nyawaku kapan saja.”