Belas Kasih dan Kebaikan
Sebatang bunga matahari berdiri tegak sendirian di median jalan raya antarkota yang panjang dan sepi, hanya beberapa meter dari jalur cepat. Ketika mobil saya melaju melewatinya, dalam hati saya bertanya-tanya bagaimana bunga itu dapat tumbuh di sana, padahal tidak terlihat bunga matahari lainnya dalam jarak bermil-mil dari tempat itu. Hanya Allah yang dapat menciptakan tumbuhan sekuat itu untuk dapat bertahan hidup berdekatan dengan jalan raya di atas tanah berkerikil yang melapisi median jalan. Sambil terayun lembut ditiup angin, bunga matahari yang bertumbuh dengan baik itu dengan riang menyapa setiap pengendara yang lewat di sana.
Kuasa Injil
Bangsa Romawi kuno mempunyai “injil” atau kabar baik versi mereka sendiri. Menurut penyair bernama Virgil, Zeus, raja para dewa, telah menetapkan sebuah kerajaan tanpa akhir atau batas bagi orang-orang Romawi. Para dewa telah memilih Kaisar Augustus untuk menjadi putra dewa dan juruselamat dunia yang akan membawa bangsanya menuju masa keemasan yang makmur dan damai.
Akhir yang Sangat Indah
Suatu hari, suami dan anak saya memindah-mindahkan saluran televisi untuk mencari dan menonton film kesukaan mereka. Sayangnya, mereka menemukan ternyata film-film tersebut sudah mulai. Karena mereka menikmati kisah akhir dari sebuah film, pencarian tersebut menjadi semacam permainan bagi mereka. Mereka pun menemukan delapan film yang kisah akhirnya ingin mereka lihat. Karena geregetan, saya bertanya mengapa mereka tidak memilih saja satu film untuk ditonton dari awal. Sambil tertawa, suami saya menjawab, “Semua orang suka akhir cerita yang indah, bukan?”
Sang Penyembuh Agung
Ketika seorang kerabat saya mulai menjalani suatu perawatan medis untuk menyembuhkan alergi makanan yang akut, saya begitu bersemangat sampai-sampai saya terus membicarakannya. Saya senang menjelaskan proses intensif yang dijalani sambil memuji-muji dokter yang menemukan program tersebut. Akhirnya, beberapa teman berkomentar, “Rasanya Tuhanlah yang seharusnya dipuji untuk kesembuhan itu.” Pernyataan mereka membuat saya tertegun. Apakah saya telah mengalihkan pandangan saya dari Sang Penyembuh Agung dan justru mendewa-dewakan kesembuhan itu sendiri?
Perhatikan Peringatan
Ketika seorang pencopet berusaha mencuri dompet saya saat saya sedang berlibur di luar negeri, itu bukan hal yang mengejutkan. Saya sudah membaca peringatan tentang ancaman copet di kereta bawah tanah, jadi saya tahu apa yang harus dilakukan untuk melindungi dompet saya. Akan tetapi, saya tidak menyangka hal itu benar-benar terjadi.
Alasan yang Baik
Kedua wanita itu duduk di kursi bagian luar yang saling berseberangan di dalam pesawat. Saya tertarik menyaksikan interaksi mereka berdua di sepanjang penerbangan kami yang berlangsung dua jam. Jelas sekali mereka saling mengenal, bahkan mungkin ada hubungan keluarga. Wanita yang lebih muda (mungkin berusia 60-an) berulang kali merogoh tas untuk mengulurkan bermacam-macam benda kepada wanita yang lebih tua (dugaan saya berusia 90-an), seperti irisan apel segar, irisan roti lapis, tisu basah untuk bersih-bersih, dan terakhir, satu eksemplar koran New York Times yang terlipat rapi. Setiap benda dipindahtangankan dengan begitu lembut dan penuh hormat. Ketika kami bersiap-siap turun dari pesawat, saya berkata kepada wanita yang lebih muda, “Dari tadi saya mengamati cara Anda mengurus beliau. Perhatian Anda sangat indah.” Wanita itu berkata, “Beliau ibu sekaligus sahabat saya.”
Pemeliharaan Allah
Kami menjelajah semakin jauh ke dalam hutan, dan semakin menjauhi desa tempat kami menetap di provinsi Yunnan, Tiongkok. Sekitar satu jam kemudian, kami mendengar suara gemuruh air yang memekakkan telinga. Kami pun mempercepat langkah hingga tiba di suatu tempat terbuka dan disambut oleh pemandangan indah berupa air terjun berwarna putih yang berjatuhan di atas bebatuan abu-abu. Pemandangan yang spektakuler!
Mengasihi Musuh
Saya buru-buru menyelinap masuk sebelum ia melihat saya. Saya merasa malu karena bersembunyi, tetapi saya tidak ingin berurusan dengannya saat itu—atau kapan pun. Saya ingin sekali memarahinya, atau menegurnya supaya ia sadar. Walaupun saya pernah dibuat kesal oleh perbuatannya di masa lalu, sepertinya sekarang saya justru membuatnya semakin jengkel!
Tidak Membalas Dendam
Pagi itu, seorang petani mengendarai truknya dan mulai memeriksa tanaman di tanah pertaniannya. Ketika ia sampai di ujung tanahnya, darahnya mendidih. Lagi-lagi ada orang memanfaatkan lokasi tanah pertaniannya yang terpencil untuk membuang sampah secara ilegal di sana.