Dinamai oleh Allah
Berangasan. Kalong. Tukang balap. Itulah sejumlah julukan yang diberikan kepada para konselor di kamp musim panas yang dihadiri keluarga kami setiap tahun. Nama-nama itu diciptakan oleh rekan-rekan mereka sendiri, dan biasanya diilhami dari suatu insiden yang memalukan, kebiasaan lucu, atau hobi favorit.
Di Ujung Tanduk
Sebuah artikel berita di Amerika Serikat pada bulan Mei 1970 memuat idiom baru pada masanya, yaitu “on the bubble” (di ujung tanduk). Ungkapan yang merujuk pada suatu keadaan yang tidak aman itu digunakan untuk menerangkan posisi seorang pembalap pemula bernama Steve Krisiloff yang “berada di ujung tanduk,” setelah menyelesaikan babak kualifikasi balap mobil Indianapolis 500 dengan catatan waktu yang lambat. Belakangan, dipastikan bahwa catatan waktunya—meskipun yang paling lambat di antara para pembalap lain—ternyata memenuhi syarat untuk ikut lomba utama.
Surat yang Menjelajah Waktu
Sejuta lebih anak muda ikut dalam lomba menulis surat internasional setiap tahunnya. Pada tahun 2018, tema lombanya adalah: “Bayangkan Anda adalah surat yang menjelajah waktu. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca?”
Melepaskan
“Ayah Anda sudah melangkah menuju ajalnya,” kata perawat yang menanganinya. Istilah “melangkah menuju ajal” merujuk pada tahap akhir proses kematian, dan istilah baru yang asing bagi saya itu memberikan kesan seperti menyusuri jalan sunyi sepi tanpa ada jalan kembali. Di hari terakhir ayah kami, saya duduk bersama saudara perempuan saya di samping tempat tidurnya tanpa mengetahui apakah ia masih bisa mendengar kami. Kami mencium puncak kepalanya yang sudah tidak ditumbuhi rambut lagi. Kami membisikkan janji-janji Allah di telinganya. Kami menyanyikan lagu “Besar Setia-Mu” dan membacakan Mazmur 23. Kami mengatakan kepadanya bahwa kami menyayanginya dan berterima kasih kepadanya karena sudah menjadi ayah kami. Kami tahu, hatinya sudah rindu ingin segera berjumpa Yesus, dan kami katakan kepadanya bahwa ia boleh pergi. Mengucapkan kata-kata itu merupakan langkah pertama yang sangat menyakitkan dalam melepasnya pergi. Beberapa menit kemudian, ayah kami pun berpulang dan disambut dengan penuh kebahagiaan ke dalam rumahnya yang abadi.
Berbeda dengan Jalan Bapa
Pada dekade 1960-an, lingkungan padat North Lawndale di bagian barat kota Chicago menjadi proyek percontohan dari pemukiman warga antarras. Sejumlah warga Afrika-Amerika kelas menengah membeli rumah di sana dengan sistem “kontrak”—yang memadukan tanggung jawab kepemilikan rumah dengan kerugian menyewa. Dalam penjualan dengan sistem kontrak, pembeli tidak memiliki hak atas rumah itu, dan bila menunggak pembayaran satu kali saja, ia akan langsung kehilangan uang muka, seluruh angsuran yang sudah dibayarkan, dan juga rumahnya. Para penjual yang licik lalu menjual rumah tersebut dengan harga tinggi, dan keluarga yang tinggal di sana akan diusir begitu menunggak pembayaran satu kali saja. Kemudian akan ada keluarga lain yang membeli rumah itu dengan sistem kontrak juga, dan siklus yang didorong oleh keserakahan itu pun terus berlanjut.
Dikasihi, Berharga, Diberkati
Sebagai remaja, Malcolm memang tampak percaya diri. Namun, kepercayaan dirinya itu hanyalah topeng. Sesungguhnya kondisi keluarga yang kacau-balau membuatnya selalu takut, haus akan penerimaan, dan merasa bahwa permasalahan dalam keluarganya merupakan kesalahannya (sekalipun itu tidak benar). “Sudah sejak lama,” katanya, “di setiap pagi aku masuk ke kamar mandi, menatap wajahku di cermin, dan berkata kepada diriku sendiri, ‘Kau bodoh, kau jelek, semua ini salahmu.’”
Oleh Belas Kasihan Allah
Kemarahan saya menjadi-jadi ketika seorang wanita memfitnah, menyalahkan, dan menggosipkan saya. Saya ingin semua orang tahu apa yang telah ia lakukan—agar ia menderita seperti saya menderita akibat perlakuannya. Saya begitu benci kepadanya sampai-sampai kepala saya sakit. Namun, ketika saya mulai berdoa agar sakit kepala saya sembuh, Roh Kudus menegur saya. Bagaimana mungkin saya merencanakan balas dendam sementara saya juga memohon pertolongan Allah? Jika saya percaya Dia memperhatikan saya, mengapa saya tidak percaya bahwa Dia dapat mengatasi situasi saya saat itu? Karena menyadari bahwa orang yang terluka sering kali justru menyakiti orang lain, saya berdoa meminta Allah menolong saya agar dapat memaafkan wanita tersebut dan berusaha berdamai dengannya.
Perang Benar-Benar Sudah Berakhir
Selama dua puluh sembilan tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, Hiroo Onoda bersembunyi di hutan belantara dan menolak untuk percaya bahwa negaranya sudah menyerah. Dahulu, para petinggi militer Jepang mengirim Onoda ke pulau Lubang yang terpencil di Filipina dengan perintah untuk memata-matai pasukan Sekutu. Lama setelah perjanjian perdamaian ditandatangani dan perang berakhir, Onoda tetap tinggal dalam hutan belantara tersebut. Pada tahun 1974, komandan Onoda datang ke pulau itu untuk menemuinya dan meyakinkannya bahwa perang benar-benar sudah berakhir.
Koreksi yang Diberikan dengan Baik
Di suatu awal musim semi, cuaca begitu menyegarkan dan saya sangat menikmati perjalanan bersama istri. Namun, indahnya kebersamaan tersebut bisa sekejap mata berubah menjadi tragedi sekiranya saat itu saya melewatkan rambu berwarna merah-putih yang memperingatkan bahwa saya sedang memasuki jalur yang salah. Karena kurang jauh menikung, saya sempat masuk ke jalur yang salah dan melihat tulisan “Dilarang Masuk” terpampang di hadapan saya. Saya cepat-cepat berbelok kembali, sambil membayangkan betapa ngerinya apabila kelalaian saya membuat kami berdua dan juga orang lain celaka apabila saya mengabaikan rambu yang mengingatkan bahwa saya salah jalur.