Category  |  Santapan Rohani

Diciptakan untuk Satu Sama Lain

“Akulah yang mengurus semua keperluannya. Kalau ia bahagia, aku juga,” kata Stella. Merle berkata, “Aku senang selama ia ada di dekatku.” Merle dan Stella sudah menikah selama 79 tahun. Ketika Merle merana saat dirawat di panti jompo, Stella pun dengan senang hati membawanya pulang. Merle berusia 101 tahun dan Stella 95 tahun. Meskipun Stella membutuhkan alat bantu untuk berjalan, dengan penuh kasih ia masih melakukan apa yang dapat ia lakukan bagi suaminya, seperti menyiapkan makanan kesukaannya. Ada yang tidak dapat dilakukannya sendiri, tetapi cucu-cucu dan para tetangga datang membantu mengurusnya.

Dia Mengubahku

Ketika John, pengelola rumah bordil terbesar di London, dijatuhi hukuman penjara, ia masih meyakini bahwa dirinya “orang baik”. Selama di penjara, ia memutuskan untuk menghadiri kegiatan pendalaman Alkitab dengan niat agar bisa menikmati kue dan kopi yang disuguhkan. Namun, ia sangat terkejut melihat bagaimana sesama narapidana di sana terlihat begitu bersukacita. John menangis saat lagu pertama dinyanyikan, lalu seseorang memberinya sejilid Alkitab. Sebuah ayat yang dibacanya dari kitab Yehezkiel membuatnya seperti “disambar petir”. Ayat yang mengubah hidupnya itu berbunyi: “Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, . . . ia pasti hidup, ia tidak akan mati” (Yeh. 18:27-28). Firman Tuhan membuka matanya dan membuatnya tersadar, “Aku bukan orang baik . . . aku orang jahat yang harus berubah.” Ketika berdoa dengan pembina rohani di penjara, ia berkata, “Aku sudah bertemu dengan Yesus Kristus dan Dia mengubahku.”

Bersama Kita Menang

Pada suatu malam, Pendeta Samuel Baggaga menerima telepon yang memintanya datang ke rumah salah seorang jemaat. Setibanya di sana, ia mendapati rumah yang didatanginya itu sedang terbakar hebat. Meski mengalami luka bakar, sang tuan rumah masuk kembali ke rumah yang terbakar untuk menyelamatkan salah seorang anaknya, dan kemudian keluar lagi dengan membopong putrinya yang tidak sadarkan diri. Di pedesaan Uganda itu, rumah sakit terdekat berjarak 10 kilometer jauhnya. Karena tidak memiliki kendaraan, si pendeta menemani sang ayah berlari membawa anak gadisnya ke rumah sakit. Ketika salah seorang dari mereka kelelahan, yang lain akan mengambil alih untuk membopong si anak. Mereka bersama-sama menempuh perjalanan panjang itu hingga akhirnya sang ayah dan putrinya memperoleh perawatan medis untuk kembali pulih sepenuhnya.

Perspektif dari Atas

Pada dekade 1970-an, ketika Peter Welch masih kecil, menggunakan detektor logam hanyalah hobi baginya. Namun, sejak tahun 1990, ia memandu orang-orang dari seluruh dunia dalam kegiatan yang dinamakan “wisata mendeteksi logam”. Mereka berhasil menemukan ribuan benda—pedang, perhiasan kuno, koin berharga. Dengan menggunakan Google Earth, suatu program komputer yang menampilkan gambar-gambar permukaan bumi berdasarkan citra satelit, mereka mencari pola-pola pada lanskap lahan pertanian di Inggris. Mereka dapat melihat di mana letak jalanan, gedung, dan struktur bangunan lain yang pernah ada berabad-abad lalu. Peter berkata, “Memiliki perspektif dari atas sungguh membawa kami kepada dunia yang sama sekali baru.”

“Hal-Hal tentang Tuhan”

Sebagian besar rekan kerja Mike tidak tahu banyak tentang Kekristenan, dan mereka juga tidak terlalu peduli. Namun, mereka tahu Mike peduli tentang imannya. Suatu hari menjelang Paskah, salah seorang dari mereka mengungkapkan kebingungannya tentang asal mula hari raya itu dan bertanya kepada Mike, “Hai, Mike! Kamu kan tahu hal-hal tentang Tuhan. Apa itu Paskah?”

Alasan Kita Bersukacita

Di awal tahun ajaran baru, C. J. yang berusia empat belas tahun biasa turun dari bus sekolah setiap siang dan berjoget sembari menyusuri halaman rumahnya. Ibunya suka merekam dan membagikan video C. J. berjoget. C. J. berjoget karena ia menikmati hidup dan senang “membuat orang lain bahagia” lewat gerakan tubuhnya. C. J. juga menginspirasi orang lain untuk menari bersamanya. Suatu hari, dua petugas pemungut sampah sengaja meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka untuk ikut berjoget dan bergoyang. Mereka bertiga menunjukkan betapa sukacita yang murni itu ternyata menular.

Kerendahan Hati Bukti Kebesaran Jiwa

Ketika Revolusi Amerika tanpa diduga berakhir dengan menyerahnya Inggris, banyak politikus dan pemimpin militer berniat menjadikan Jenderal George Washington sebagai raja yang baru. Seluruh dunia mengamati dengan bertanya-tanya apakah Washington akan tetap memegang teguh prinsip-prinsip kebebasan dan kemerdekaan ketika godaan meraih kekuasaan mutlak ada dalam genggamannya. Namun, Raja Inggris, George III, melihat realitas lain. Ia yakin, jika Washington dapat menahan diri dan menolak rayuan banyak orang untuk berkuasa serta kembali ke tanah pertaniannya di Virginia, maka ia akan menjadi “tokoh terbesar di dunia.” Sang raja tahu bahwa kesanggupan menolak daya tarik kekuasaan merupakan pertanda seseorang itu benar-benar berjiwa besar dan mulia. 

Butuh Diselamatkan

Aldi adalah seorang remaja yang bekerja sendirian di sebuah jermal, gubuk kayu yang didirikan di tengah laut untuk menangkap ikan. Lokasinya sekitar 125 kilometer dari lepas pantai Sulawesi, Indonesia. Suatu hari, angin kencang mengguncang gubuk itu hingga terlepas dari tiang-tiang penyangganya dan terhanyut ke laut. Selama empat puluh sembilan hari, Aldi terombang-ambing di lautan. Setiap kali ada kapal lewat, ia menyalakan lampu untuk menarik perhatian para pelaut, tetapi mereka tidak melihatnya dan terus melewatinya. Sekitar sepuluh kapal melewati remaja yang kekurangan gizi itu sebelum akhirnya ia diselamatkan.

Tersisih tetapi Ditemukan

Suatu hari saya mengunjungi ajang akrobatik motor tempat para peserta melakukan aksi-aksi yang mencengangkan. Karena ramainya, saya sampai harus berjinjit agar bisa menonton dengan jelas. Saat melihat-lihat keadaan sekitar, saya memperhatikan ada tiga anak duduk di atas sebatang pohon, karena rupanya mereka tidak bisa menerobos ke depan kerumunan orang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.