Segala Sesuatu yang Kita Lakukan
Dalam buku Surprised by Joy, C. S. Lewis mengakui bahwa ia mengenal iman Kristen pada usia tiga puluh tiga tahun, tetapi dengan “meronta, melawan, dongkol, dan mencari-cari celah untuk melarikan diri.” Meskipun Lewis berusaha melawan, dan ia juga menghadapi banyak kendala serta kelemahan diri, Tuhan mengubahnya menjadi seorang pembela iman yang berani dan kreatif. Lewis menyerukan kebenaran dan kasih Allah lewat banyak karya esai dan novel luar biasa yang masih dibaca, dipelajari, dan dibagikan orang sampai sekarang, lebih dari lima puluh lima tahun setelah ia meninggal dunia. Hidupnya mencerminkan keyakinannya bahwa tidak ada orang yang “terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau merajut impian baru.”
Penjinak Lidah
Dalam buku West with the Night, penulis Beryl Markham menerangkan usahanya menjinakkan Camciscan, seekor kuda jantan yang beringas. Ternyata upaya itu tidak mudah. Apa pun strategi yang diterapkan, Markham tidak pernah benar-benar berhasil menjinakkan kuda jantan itu, bahkan hanya pernah menaklukkannya satu kali.
Selalu Diperbarui
Katedral Notre Dame di Paris adalah bangunan yang sangat menakjubkan. Arsitekturnya memukau, jendela-jendelanya yang berkaca patri dan interiornya yang indah sangatlah mempesona. Namun, setelah berabad-abad menjulang di atas kota Paris, sudah saatnya gereja itu diperbaiki—dan prosesnya telah berjalan pada saat kebakaran besar mengakibatkan kerusakan hebat pada bangunan kuno yang megah itu.
Aku Tidak Takut Bahaya
Pada tahun 1957, Melba Pattillo Beals terpilih menjadi salah satu dari sembilan siswa kulit hitam pertama yang boleh bersekolah di Central High School, sebuah sekolah di Little Rock, Arkansas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi siswa kulit putih. Dalam memoarnya yang terbit di tahun 2018, I Will Not Fear: My Story of a Lifetime of Building Faith under Fire (Aku Takkan Takut: Perjuangan Hidupku Membangun Iman di Bawah Tekanan), Beals mengungkapkan kisah memilukan tentang perjuangannya menghadapi ketidakadilan dan pelecehan yang ditanggungnya dengan berani setiap hari sebagai siswa berusia lima belas tahun.
Sudah Tahu Siapa Pemenangnya
Atasan saya adalah penggemar berat tim bola basket sebuah kampus. Tim tersebut berhasil menjadi juara nasional tahun ini, maka salah seorang rekan kerja mengirimkan pesan ucapan selamat kepadanya. Masalahnya, atasan saya belum sempat menonton tayangan pertandingan final itu! Ia pun kesal karena sudah mengetahui hasilnya. Namun, ia mengakui, ketika menonton rekaman pertandingan itu, ia tidak lagi gugup ketika skor kedua tim begitu ketat hingga akhir pertandingan. Itu karena ia sudah tahu siapa pemenangnya!
Lintasan Biru
Jalur perlombaan ski yang menuruni bukit sering kali ditandai dengan cat biru yang disemprotkan ke permukaan salju yang putih di sepanjang lintasan. Lengkungan yang dibuat kasar itu mungkin mengganggu pemandangan penonton tetapi terbukti sangat penting bagi kesuksesan dan keselamatan para peserta lomba. Cat tersebut berfungsi sebagai panduan bagi para pembalap untuk mempunyai gambaran tentang jalur tercepat menuju dasar bukit. Selain itu, warna biru yang kontras dengan permukaan salju memberikan persepsi kedalaman kepada para pembalap, dan itu sangat penting bagi keselamatan mereka saat melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Berjalan Mundur
Tanpa sengaja, saya menemukan potongan film milik kru berita Inggris yang merekam Flannery O’Connor saat masih berumur enam tahun di lahan pertanian keluarganya pada tahun 1932. Flannery menarik perhatian kru tersebut karena mengajari seekor ayam berjalan mundur. Bagi saya, terlepas dari uniknya perbuatan Flannery, potongan masa lampau itu adalah gambaran yang sempurna dari pencapaian Flannery di kemudian hari sebagai penulis terkenal. Lewat ketajaman sastra dan keyakinan imannya, Flannery menghabiskan tiga puluh sembilan tahun masa hidupnya berpikir dan menulis dengan “berjalan mundur”—melawan arus budaya pada masanya. Baik penerbit maupun pembaca dibuat tercengang karena tema-tema iman yang diangkatnya telah melawan arus pandangan agama yang lazim saat itu.
Saya Mau
Shirley baru saja duduk santai setelah melalui hari yang sangat padat. Lalu ia memandang ke luar jendela dan melihat sepasang orang lanjut usia sedang bersusah payah memindahkan sepotong pagar tua yang boleh diambil orang secara cuma-cuma. Shirley memanggil suaminya, lalu mereka keluar untuk membantu pasangan tua tersebut. Dengan susah payah, mereka berempat mengangkat potongan pagar tadi ke atas gerobak dan mendorongnya di jalan raya sampai tiba di rumah pasangan tersebut. Di sepanjang jalan mereka tertawa-tawa membayangkan bagaimana orang-orang pasti bingung melihat apa yang mereka lakukan. Ketika kembali untuk mengambil potongan lain dari pagar tersebut, si wanita bertanya kepada Shirley, “Mau jadi temanku?” “Ya, saya mau,” jawab Shirley. Ia kemudian mengetahui bahwa teman-teman barunya itu berasal dari Vietnam dan kurang lancar berbahasa Inggris. Pasangan itu merasa kesepian karena anak-anak mereka sudah dewasa dan pindah ke kota lain yang jauh dari situ.
Kata Terakhir
Nama perempuan itu Saralyn, dan saya sempat menaksirnya semasa sekolah dahulu. Tawanya menyenangkan. Saya tidak yakin ia mengetahui perasaan saya, tapi saya rasa ia tahu. Setelah lulus, saya putus kontak dengannya. Seperti yang sering terjadi dalam kehidupan ini, hidup kami berjalan ke arah yang berbeda.