Tenanglah, Hai Jiwaku!
Bayangkanlah orangtua yang dengan penuh kasih berusaha menenangkan anaknya yang sedang sedih, kecewa, atau menderita. Dengan lembut ia bergumam ke telinga sang anak—“ssttt.” Sikap tubuh dan gumaman sederhana itu dimaksudkan untuk menghibur dan menenangkan si buah hati. Kita dapat membayangkannya karena itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak dari kita pernah memberi atau menerima ungkapan penuh kasih seperti itu. Gambaran itulah yang terlintas di benak saya ketika merenungkan Mazmur 131:2.
Banyak Karunia, Satu Tujuan
Jagung adalah makanan pokok di negara asal saya, Meksiko. Ada banyak jenis jagung. Anda dapat menemukan tongkol jagung berwarna kuning, cokelat, merah, dan hitam, bahkan ada yang bercorak belang-belang. Namun, penduduk kota biasanya tidak mau memakan jagung yang belang-belang. Amado Ramírez, seorang pengusaha restoran sekaligus peneliti, menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka meyakini keseragaman menunjukkan kualitas yang tinggi. Meski demikian, jagung yang belang-belang ternyata enak rasanya dan cocok untuk bahan baku keripik tortilla.
Bergantung Penuh
Ibunda Laura sedang berjuang melawan penyakit kanker. Suatu pagi, Laura dan seorang teman mendoakan ibunya. Teman Laura yang telah bertahun-tahun menderita cerebral palsy (kelumpuhan pada tulang belakang) itu berdoa: “Tuhan, Engkau selalu menolongku. Sekarang tolonglah juga ibunya Laura.”
Keindahan yang Tersembunyi
Anak-anak kami perlu sedikit dibujuk agar mau diajak snorkeling untuk melihat-lihat pemandangan di bawah permukaan Laut Karibia dari lepas pantai Pulau Tobago. Namun, setelah menyelam, mereka muncul kembali ke permukaan dengan sangat gembira, “Ada ribuan ikan dan banyak sekali jenisnya! Keren banget! Aku belum pernah melihat ikan yang warna-warni seperti itu!”
Ciptaan Allah yang Agung
Baru-baru ini, saat cucu-cucu kami berkunjung ke rumah, kami menonton tayangan di Internet dari kamera web yang menyoroti kehidupan sebuah keluarga rajawali di Florida. Setiap hari kami membuka tayangan itu dan menyaksikan bagaimana induk betina, induk jantan, dan bayi rajawali melakukan rutinitas sehari-hari dalam sarang mereka di ketinggian. Hari demi hari, kedua induk burung tersebut terus-menerus menjaga bayi mereka dan menyuapkan ikan yang diperoleh dari sungai di dekat sana untuk mendukung perkembangan si bayi.
Dunia yang Sempurna
Katie mendapat tugas sekolah untuk menulis karangan berjudul “Duniaku yang Sempurna”. Ia menulis: “Dalam duniaku yang sempurna . . . es krim itu gratis, permen ada di mana-mana, dan langit selalu biru setiap saat, dengan awan-awan kecil yang bentuknya lucu-lucu.” Kemudian isi tulisannya berkembang menjadi lebih serius. “Dalam dunia itu,” lanjutnya, “Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Tak ada juga orang yang harus menyampaikan kabar buruk.”
Aku Bisa Melihatmu
Ketika Xavier berusia dua tahun, ia pernah berlari dari satu lorong ke lorong lainnya di dalam sebuah toko sepatu kecil. Sambil bersembunyi di balik tumpukan kotak sepatu, ia tertawa geli saat suami saya, Alan, berkata, “Aku bisa melihatmu.”
Menerapkan Iman
Saat menginap di sebuah hotel di Austin, Texas, saya melihat selembar kartu di meja dalam kamar saya. Pada kartu itu tertulis:
Seperti Apakah Allah Itu?
Untuk merayakan momen istimewa, saya diajak suami mengunjungi sebuah galeri seni di lingkungan kami. Ia mengatakan bahwa saya dapat memilih salah satu lukisan di sana sebagai hadiah. Saya pun memilih sebuah lukisan kecil yang menggambarkan anak sungai yang mengalir di tengah hutan. Dasar sungai hampir mengisi seluruh gambar sehingga lukisan itu tidak banyak menampilkan langit. Meskipun demikian, pantulan pada permukaan air sungai yang jernih memperlihatkan posisi matahari, puncak-puncak pohon, dan suasana yang berkabut. Satu-satunya cara untuk “melihat” langit adalah dengan memandangi permukaan air sungai itu.